Desa hutan ayu merupakan salah satu desa yang berada disebelah timur kecamatan Rupat utara yang berbatasan langsung dengan desa hutan Panjang kecamatan Rupat, desa ini memiliki mayoritas penduduk dengan suku akit yang beragama budha dan Kristen. Sebagai salah satu kebutuhan hewani, ternak babi merupakan makanan yang menjadi lauk favorit pada acara besar di dalam kegiatan sosial Masyarakat yang ada di desa Hutan Ayu, seperti halnya pesta pernikahan, kematian dan acara keagamaan hewan babi dan ayam selalu di gunakan untuk menjamu tamu yang dating menghadiri acara-acara tersebut. Kondisi saat ini jumlah ternak babi dan ayam potong yang ada di desas hutan ayu bisa dikatakan tidak mencukupi kebutuhan Masyarakat di desa hutan ayu sehingga dalam pelaksanaan acara sosial maupun adat di Masyarakat sering memasukkan ternak babi dari luar desa Hutan Ayu. Melihat dari kondisi ini pada tahun ini desa hutan ayu pada kegiatan ketahanan pangan membantu Masyarakat dengan mengucurkan bantuan ternak babi sebanyak enam kelompok dan ayam potong atau ras pedaging sebanyak satu kelompok. Untuk menunjang keberhasilan budidaya ternak babi dan ayam potong, pada tanggal 30 mei 2024 dilakukan pelatihan tenak babi dan ayam potong atau ayam pedaging di Balai Desa Panca Warna dengan peserta yang berasal dari kelompok peternak babi dan ayam potong yang ada di desa Hutan Ayu. Pada kegiatan ini narasumber yang mengisi berasal dari UPT Penyuluhan Pertanian Kecamatan Rupat Utara, diantaranya Drh Jejen Sudrajat yang berprofesi sebagai Dokter hewan di kecamatan Rupat dan Rupat Utara dan Darwis S.S.T.Pi yang berprofesi Sebagai Penyuluh Pertanian di Kecamatan Rupat Utara. Pelatihan ini dimulai dengan khidmad dengan di awali menyayikan lagu Indonesia Raya oleh seluruh peserta dan tamu undangan yang hadir dan di buka dengan resmi oleh oleh Sekretaris Kecamatan Rupat Utara yaitu Bapak Gaok Rizal, S.Pd.sd. Dalam pelatihan ini Drh jejen sudrajat menyampaikan tentang beternak babi mulai dari persiapan lokasi sampai dengan penjelasan tentang jenis penyait yang biasa menyerang ternak babi dan pencegahannya. Sedangkan materi beternak ayam broiler disampaikan oleh Darwis, S.S.T.Pi mulai dari memotivasi peternak untuk beternak ayam dan tidak kalah penting proses pemeliharaan mulai dari pemilihan DOC sampai dengan proses panen dan pemasaran hasil tenak ayam broiler. Dalam pelatihan ini titik berat perhatian pemateri difokuskan pada pemilihan lokasi beternak, bibit ternak, pemberian pakan ternak, perawatan ternak atau manajemen pemeliharaan, penanganan penyakit ternak, panen dan pasca panen pada pemeliharaan ternak. Pada pemeliharaan ternak ayam broiler penyakit yang sering menyebabkan kegagalan pada proses budidaya diantaranya yang disampaikan adalah, penyakit ND, atau penykit Tetelo, Penyakit Berak Kapur, Penyakit Gumboro, Penyakit fluburung dan Penyakit Snot. Diantara penyakit ini yang paling menyita perhatian adalah penyakit gomboro dan penyakit flu burung, yang menyebabkan penyakit gumboro menjadi perhatian dikarenakan ayam yanterserang penyakit ini akan mengalami imunosupresi yang ditandai dengan adanya peningkatan reaksi pascavaksinasi terhadap penyakit lain, ayam menjadi rentan terhadap infeksi penyakit lain, dan penyakit ini bersifat menular dan di sebabkan oleh virus family Birnaviridae. Penangan penyakit ini yang terbaik lakukan pencegahan dengan penerapan biosecurity pada proses peternakan dan pelakuan vaksin pada vase pencegahan. Selanjutnya penyakit flu burung, penyakit ini disebabkan oleh virus influenza type A, mengapa penyakit ini menjadi perhatian dikarenakan ada beberapa jenis virus flu burung, seperti virus H5N1, yang bisa menginfeksi manusia dan hewan lainnya. Pada sesi akhir pelatihan narasumber menyampaikan agar peternak yang menerima bantuan ternak babi dan ayam broiler dapat terus berkoordinasi dengan penyuluh dan petugas Kesehatan hewan kecamatan Rupat Utara agar proses beternak bisa maksimal dan menghasilhan keuntungan bagi peternak dan Masyarakat sekitar.