Loading...

Di MSPP, Sosialisasikan Kebijakan dan Program Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Tahun 2024

Di MSPP, Sosialisasikan Kebijakan dan Program Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Tahun 2024
[JAKARTA] Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan Indonesia mampu secara terus menerus dan berkelanjutan memproduksi ternak sapi. Mentan menjelaskan, upaya percepatan peningkatan populasi sapi dan kerbau telah dicanangkan Kementan sejak tahun 2017 melalui kegiatan Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting atau yang dikenal dengan Upsus Siwab telah menuai hasil. Kepala Badan Penyuluhan dan pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi mengatakan bahwa kesehatan hewan sangat berpengaruh terhadap produktivitas protein hewani. Kalau kita mampu memberikan pengetahuan tentang kesehatan hewan, maka produktivitas akan meningkat. Kesehatan hewan menjadi variable yang sangat penting dalam menggenjot produktivitas. Bukan hanya baik gizi dan keamanan kesehatanya, tapi SDM untuk menghasilkan protein hewani juga sangat dibutuhkan seperti kehalalan sebuah produk”. ujar Dedi Nursyamsi. Sementara itu agenda Mentan Sapa Petani Penyuluh (MSPP) volume 07 dilaksanakan jumat (01/03/2024) bertemakan Kebijakan dan Program Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Tahun 2024. Narasumber MSPP, Ardiani Agustina Rahmawati, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan mengatakan optimalisasi reproduksi melalui inseminasi buatan dilakukan dengan meningkatkan produksi dan produktivitas, meningkatkan kualitas genetik, mempercepat peningkatan populasi, menghemat penggunaan pejantan, optimalisasi bibit pejantan unggul secara luas dalam jangka waktu lama, mencegah penularan penyakit kelamin akibat perkawinan alam, mempermudah pelaksanaan pemurnian/persilangan ternak. AdapunPelayanan Kesehatan Hewan kepada Masyarakat untuk mencegah atau mengamankan Penyakit hewan melalui skema Tugas Pembantuan (TP) pada Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Seluruh Indonesia, fokus pada Pengendalian Penyakit Rabies ,Brucellosis,Antraks,Hog Cholera, Jembrana, African Swine Fever, Sistosomiasis, Viral dan Bakterial Lainnya, Penanganan Gangrep dan Kesdet,Pengawasan Obat Hewan,Penyakit Mulut dan Kuku, Lumpy Skin Disease,umpy Skin Disease”. jelas Ardiani Agustina Rahmawat. Ardiani Agustina Rahmawat menambahkan untui penanganan PMK TA 2024, dalam pelaksanaan penanganan PMK diperlukan Pengadaan Obat dan Vitamin, BOP Pengobatan, Sarana Biosekuriti Cek Poin, Koordinasi Advokasi dan KIE stakeholder,Pengadaan logistik Vaksinasi, Peningkatan kapasitas SDM dalam analis risiko lalu lintas, pelaksanaan Vaksinasi berbasis risiko, Peningkatan sarana produksi vaksin PMK (swasembada vaksin PMK).hevymay