Loading...

Diversifikasi Usaha pada Budidaya Tanaman Kopi

Diversifikasi Usaha pada Budidaya Tanaman Kopi
Dalam era globalisasi dan perubahan iklim, Diversifikasi usaha menjadi strategi yang dapat diambil dengan tujuan meningkatkan pendapatan petani dan mempertahankan ketahanan pangan lokal. Diversifikasi usaha tani dalam mengembangkan berbagai jenis usaha di sektor pertanian, bukan hanya bergantung dengan satu jenis tanaman. Diversifikasi usaha tani dapat membantu petani dalam mengelola lahan dan sumber daya yang mereka miliki untuk membudidayakan berbagai jenis tanaman atau jenis ternak yang sesuai dengan kondisi iklim, tanah dan permintaan pasar lokal. Salah satu manfaat langsung dari diversifikasi usaha tani adalah peningkatan pendapatan petani. Petani dapat mengoptimalkan potensi lahan mereka dan memanfaatkan peluang di pasar yang berbeda. Selain itu, diversifikasi dapat membuka pintu bagi petani untuk menciptakan nilai tambah sehingga menciptakan produk yang mempunyai nilai jual yang tinggi. Tumpangsari dengan Tanaman Semusim Diusahakan selama masa persiapan lahan dan selama tanaman kopi belum menghasilkan (tajuk kopi belum saling menutup) atau selama iklim mikro masih memungkinkan. Untuk pengusahaan yang bersifat lebih permanen pada lahan datar dapat dilakukan dengan sistem budi daya lorong (alley cropping). Pada tiap 3–5 barisan kopi disediakan lorong dengan lebar 8 m untuk tanaman tumpangsari. Tanaman semusim yang banyak diusahakan antara lain jenis hortikultura (tomat dan cabe), palawija (jagung), kacang--kacangan, dan umbi-umbian. Tanaman jagung yang mempunyai pertumbuhan tinggi dapat juga berfungsi sebagai penaung sementara yang efektif. Limbah tanaman semusim dimanfaatkan untuk pupuk hijau atau mulsa kopi. Tumpangsari dengan Tanaman Tahunan Dipilih yang memiliki kanopi tidak terlalu rimbun, daun berukuran kecil atau sempit memanjang agar dapat memberikan cahaya dengan baik. Bukan inang hama dan penyakit utama kopi. Tidak menimbulkan pengaruh allelopati. Pohon penaung produktif ditanam dengan jarak 10 m x 10 m tergantung ukuran besarnya tajuk tanaman. Pohon produktif yang banyak dipakai untuk kopi Arabikaantara lain Macadamia dan jeruk, sedangkan untuk kopi Robusta antara lain petai, jengkol, pisang, avokad, jeruk dan kelapa. Jeruk keprok ditanam dengan jarak 6 m x 6 m atau 8 m x 8 m. Macadamia, petai, dan jengkol ditanam dengan jarak 5 m x 5 m, kemudian secara berangsur-angsur dijarangkan menjadi 10 m x10 m. Integrasi dengan Ternak Jenis ternak disesuaikan dengan kondisi lingkungan kebun. Jenis ternak yang dapat diintegrasikan di kebun kopi antara lain kambing, domba, sapi, babi, dan lebah. Ternak sebaiknya dipelihara secara intensif di dalam kandang. Selain untuk pupuk, kulit buah kopi dapat diproses menjadi pakan sapi/kambing dengan terlebih dahulu diolah. Untuk pakan hijau dapat diperoleh dari hasil pangkasan tanaman kopi dan penaung, maupun gulma yang dapat digunakan secara langsung. Kotoran/limbah ternak dipakai untuk pupuk organik pada tanaman kopi. Penulis : Ely Novrianty (BRMP Lampung) Sumber : Berbagai sumber