Tanaman karet di Indonesia menjadi sumber pendapatan devisa negara dan juga petani, namun harga karet berfluktuasi dan cenderung rendah. Hal ini mengakibatkan petani dan perusahaan perkebunan karet mengalami kerugian. Untuk mengatasi hal tersebut, upaya peningkatan pendapatan petani kebun karet harus dilakukan agar tidak hanya pendapatan utama dari lateks saja tetapi dapat dilakukan dengan upaya lainnya seperti memberikan nilai tambah dengan tumpangsari, wanatani atau integrasi kegiatan agribisnis lainnya. Hasil perkebunan karet yang berupa getah karet hanya dapat diperoleh pada saat tanaman berusia 5 – 6 tahun, sehingga pada masa tanaman belum menghasilkan (TBM) praktis tidak ada pendapatan. Untuk menyikapi hal ini maka pola tumpangsari merupakan strategi upaya pertanian yang paling baik dilakukan dalam rangka memperoleh pendapatan selama tanaman yang ditumpangsarikan bukan tanaman yang dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan tanaman karet. Selain sebagai sumber pendapatan, tumpangsari juga berguna untuk menekan pertumbuhan gulma. Akan tetapi dalam penerapan tumpangsari berbasis karet perlu diperhatian antara lain pemilihan jenis komoditas, penyesuaian dengan pola musim dan permintaan pasar. Kepastian pasar baik dalam daya serap pasar maupun tingkat harga menjadi kunci keberhasilan tumpangsari, Untuk itu dalam rangka mengantisipasi fluktuasi harga komoditi, sistem gilir tanam dapat dipertimbangkan sebagai alternatif. Dengan sistem gilir tanam dapat meningkatkan efisiensi pemupukan, pemanfaatan air dan menekan penggunaan pestisida. Areal tanaman karet yang masih muda biasanya ditanami tanaman kacangan sebagai penutup tanah. Namun seiring tajuk yang mulai menutup, pertumbuhan kacangan akan tergantikan berbagai spesies gulma. Pengendalian gulma yang membutuhkan biaya yang besar dimana dalam satu tahun diperlukan 3-4 kali pengendalian menyebabkan banyak perkebunan yang mengurangi rotasi pengendaliannya sehingga gulma tumbuh subur. Untuk mengurangi pertumbuhan gulma, strategi usaha pertanian yang tepat digunakan adalah dengan integrasi ternak. Integrasi ternak dapat dilakukan dengan memanfaatkan lahan perkebunan sebagai lahan penggembalaan sapi, kerbau ataupun kambing. Selain integrasi ternak sapi, kerbau ataupun kambing, integrasi dapat juga dengan budidaya lebah madu. Hanya saja untuk integrasi budidaya lebah madu – karet, perlu diantisipasi bahwa lebah madu hanya memanfaatkan musim bunga tanaman karet yang berbunga hanya satu atau dua kali per tahun dengan waktu sangat singkat sekitar 10 – 15 hari, sehingga bunga karet tidak dapat dijadikan satu-satunya sumber nektar bagi lebah madu. Konsep integrasi budidaya lebah madu – karet lebih sesuai jika dikombinasikan dengan tumpangsari dan gilir tanam untuk menjamin ketersediaan nektar sepanjang tahun. Diversifikasi usaha pada perkebunan karet lainnya adalah pemanfaatan biji karet, ekstraksi protein lateks dan pengolahan kayu karet. Biji karet dapat digunakan sebagai batang bawah untuk produksi bibit secara okulasi. Selain itu biji dapat diolah menjadi tepung sebagai bahan baku campuran pakan ternak, diekstrak menjadi minyak yang dapat dimanfaatkan sebagai kosmetik, minyak pangan dan biodiesel. Lateks tanaman karet mengandung juga senyawa protein, lipid, karotenoid, asam amino dan unsur logam. Limbah cair dari pengolahan lateks dapat diproses untuk mengekstraksi kandungan proteinnya. Protein lateks yang diolah dalam skala industri mempunyai nilai ekonomi tinggi seperti protein hevein sebagai anti mikroba, anti jamur dan anti implamasi dan berpotensi digunakan dalam pengobatan penyakit degeneratif tulang. Untuk pengolahan kayu karet dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi untuk pembuatan batu bara, genteng atau dimanfaatkan untuk konstruksi ringan serta furnitur. Sedangkan secara industri, pengolahan kayu karet dapat dihasilkan laminating board, medium density fibreboard (MDF), triplek dan arang. Mugi Lestari (PP BPPSDMP Kementan) Sumber : Junaidi, 2020. Strategi Peningkatan Nilai Tambah Perkebunan Karet Melalui Diversifikasi Usaha. Agriekonomika, Volume 1 (1). Balai Penelitian Sungai Putih, Pusat Penelitian Karet Galang, Deli Serdang.