Pengembangan pertanian dengan mengedepankan keunggulan komparatif yang mengunggulkan harga yang rendah tidak lagi bisa diandalkan. Diperlukan keunggulan kompetitif produk pertanian dengan mendongkrak nilai tambah produk pertanian dan olahannya. Tuntutan konsumen terhadap produk pertanian tidak hanya pada kuantitas melainkan kualitas. Produk pertanian lokal harus bisa bersaing dengan produk dari luar negeri dengan mengedepankan keunggulan kompetitif dengan memberikan nilai tambah produk pertanian. Sebagai dasar, produk pertanian dapat bermutu baik bila pada saat proses budidaya, petani dapat menerapkan Good Agricultural Practices(GAP). GAP adalah sebuah teknis penerapan sistem sertifikasi proses produksi pertanian yang menggunakan teknologi maju ramah lingkungan dan berkelanjutan, sehingga produk panen aman dikonsumsi, kesejahteraan pekerja diperhatikan dan usahatani memberikan keuntungan ekonomi bagi petani. GAP mencakup kegiatan pratanam hingga penanganan pascapanen dalam upaya menghasilkan produk buah dan sayur segar yang aman dikonsumsi, bermutu baik, ramah lingkungan, berkelanjutan dan berdaya saing. Setelah penerapan GAP perlu dilanjutkan dengan Good Handling Practices (GHP). GHP adalah pedoman umum dalam melaksanakan pasca panen secara baik dan benar sehingga kehilangan dan kerusakan hasil dapat ditekan seminimal mungkin untuk menghasilkan produk yang bermutu. Dengan diterapkannya GHP, produsen dapat membantu mengurangi resiko kontaminasi terhadap produk segar selama penanganan, pengemasan, penyimpanan dan transportasi. Proses pengolahan produk pertanian merupakan hal penting selanjutnya dalam menjaga mutu produk untuk meningkatkan nilai tambah. Untuk menghasilkan produk yang bermutu diperlukan penerapan Good Manufacturing Practices (GMP). GMP adalah suatu pedoman yang menjelaskan cara pengolahan hasil pertanian yang baik agar menghasilkan pangan bermutu,aman,dan layak dikonsumsi. Dalam penerapan sistem jaminan mutu, traceability atau ketertelusuran merupakan hal yang penting. Dengan adanya kemudahan untuk menelusur balik, akan memberikan kemudahan dalam melakukan kontrol atau pengawasan kualitas produk. Untuk itu dalam penerapannya, produsen dalam hal ini petani penting untuk membuat rekaman berupa catatan dalam menerapkan GAP, GHP, maupun GMP. Hal tersebut yang mendasari dalam pelaksanaan jaminan mutu untuk menulis apa yang dilakukan dan melakukan apa yang ditulis. (Asti Miranda. Penyuluh Pertanian BPP Matur)