Gapoktan Provinsi D.I Yogyakarta Bersemangat Membangun Jejaring Usaha
Masih rendahnya aksessibilitas petani terhadap fasilitasi pemasaran, permodalan, informasi teknologi dan pengembangan usaha tani lainnya, merupakan salah satu masalah utama dalam pengembangan usaha tani. Seringkali posisi tawar petani kalah jika dibanding dengan pelaku usaha lain, oleh karena itu dibentuklah asosiasi untuk membangun jejaring antar Gapoktan agar harga panenan tidak jatuh. "Jejaring sangat penting, karena bila tidak tahu pasar akan dipermainkan oleh tengkulak," ungkap Hari Purwantoro, ketua Asosiasi Lembaga Distribusi Pangan Masyarakat Provinsi D.I Yogyakarta dalam acara "Pengembangan Jejaring Usaha Kelembagaan Petani (GAPOKTAN)" di Yogyakarta, Senin (16/7/2012). Dalam acara yang dihadiri oleh perwakilan Gapoktan se-provinsi D.I Yogyakarta itu, Hari Purwantoro mengungkapkan pengalamannya dalam membangun jejaring usaha agribisnis padi. Gapoktan "Sido Mulyo" dari Kabupaten Sleman merupakan salah satu contoh keberhasilan dalam membangun jejaring usaha, Gapoktan ini telah berhasil membina kerjasama dengan berbagai pihak, salah satunya merupakan industri pangan multinasional yang kebutuhan supply beras merahnya mencapai 300 ton setiap bulan. Untuk memenuhi kebutuhan pasar, Gapoktan "Sido Mulyo" membangun jejaring dengan Gapoktan lain sesuai dengan standar yang ditetapkan. Masing-masing kabupaten di Yogyakarta sudah membentuk Asosiasi Gapoktan, potensinya bukan hanya beras saja tetapi juga produk lain unggulan daerah misalnya tepung mocaf, jagung dan gaplek. Diharapkan Asosiasi dapat memenuhi kebutuhan setempat, dan bersama-sama dapat memenuhi kebutuhan dari luar daerah sehingga harga tidak jatuh dibawah Harga Pembelian Pemerintah.