Loading...

Gerakan Pengendalian (GERDAL) Hama Tikus dan Wereng Di Lahan Padi Sawah

Gerakan Pengendalian (GERDAL) Hama Tikus dan Wereng Di Lahan Padi Sawah

Kegiatan Gerakan Pengendalian (Gerdal) hama wereng dan tikus di desa Negara Bumi Kecamatan Sungkai Tengah Kabupaten Lampung Utara menjadi salah satu langkah penting dalam menjaga produksi padi tetap stabil di tingkat petani. Serangan hama yang tidak tertangani dengan baik dapat menurunkan produktivitas bahkan menyebabkan gagal panen. Dua hama utama yang sering menimbulkan kerugian besar adalah wereng batang coklat dan tikus sawah. Kedua jenis hama ini menyerang pada fase pertumbuhan yang berbeda, namun dampaknya sama-sama serius terhadap hasil produksi. Oleh karena itu, pelaksanaan gerdal dilakukan secara serempak dan terkoordinasi dengan melibatkan petani, penyuluh pertanian, serta petugas pengendali organisme pengganggu tanaman (POPT) di lapangan.

Pengendalian hama wereng batang coklat dilakukan dengan memanfaatkan pestisida secara selektif dan tepat sasaran. Populasi wereng yang tinggi dapat menimbulkan gejala tanaman menguning dan mengering seperti terbakar (hopperburn). Untuk mencegah kerusakan lebih luas, petani diarahkan menggunakan pestisida berbahan aktif yang direkomendasikan oleh petugas lapangan sesuai ambang kendali, yaitu lebih dari 20 ekor wereng per rumpun. Penyemprotan dilakukan secara merata dengan dosis dan interval yang sesuai, serta menggunakan alat semprot yang terkalibrasi agar hasilnya optimal. Meskipun pestisida digunakan, prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT) tetap diutamakan dengan memperhatikan keselamatan pengguna, waktu penyemprotan, dan menjaga agar tidak mengganggu organisme bukan sasaran seperti musuh alami wereng.

Sementara itu, pengendalian hama tikus sawah dilakukan melalui kegiatan fumigasi menggunakan bahan belerang (sulfur). Fumigasi dilakukan dengan cara memasukkan belerang ke dalam lubang aktif tempat persembunyian tikus, kemudian dibakar untuk menghasilkan asap yang dapat mematikan tikus di dalam lubang. Cara ini efektif karena mampu mencapai sarang tikus yang sulit dijangkau dan mengurangi populasi secara signifikan dalam waktu singkat. Sebelum fumigasi, petani bersama penyuluh melakukan pengamatan lokasi untuk memastikan lubang aktif dan menutup semua lubang setelah proses selesai agar asap tidak keluar. Kegiatan fumigasi biasanya dilakukan secara gotong royong oleh kelompok tani pada pagi atau sore hari saat kondisi udara tidak terlalu panas, sehingga hasilnya lebih maksimal dan aman bagi lingkungan.

Pelaksanaan Gerdal di lapangan dilakukan secara serentak di satu hamparan agar pengendalian lebih efektif. Sebelum kegiatan dimulai, dilakukan sosialisasi dan pengarahan oleh penyuluh serta petugas POPT agar petani memahami teknik fumigasi maupun penyemprotan pestisida dengan benar. Selain itu, pengawasan lapangan terus dilakukan untuk memastikan dosis bahan yang digunakan sesuai anjuran dan tidak menimbulkan pencemaran lingkungan. Melalui gerakan terpadu ini, petani juga didorong untuk lebih peduli terhadap pengamatan organisme pengganggu tanaman, sehingga tindakan pengendalian dapat dilakukan lebih dini sebelum populasi hama meningkat.

Dengan pelaksanaan Gerdal hama wereng dan tikus menggunakan metode fumigasi belerang dan penyemprotan pestisida, diharapkan populasi hama dapat ditekan secara signifikan dan pertanaman padi tetap tumbuh sehat hingga panen. Kegiatan ini tidak hanya memberikan hasil nyata dalam menekan kerusakan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran kolektif petani dalam menjaga lahan pertanian secara bersama-sama. Kerjasama antarpetani, dukungan penyuluh pertanian, serta koordinasi dengan instansi terkait menjadi faktor utama keberhasilan gerdal di lapangan. Melalui upaya bersama ini, produktivitas padi dapat terus meningkat dan ketahanan pangan daerah dapat terjaga secara berkelanjutan.