BUDIDAYA JAGUNG HIBRIDA
1. Pendahuluan
Jagung hibrida adalah varietas yang dihasilkan melalui persilangan dua galur murni untuk mendapatkan keunggulan heterosis (vigor hibrida). Jagung jenis ini memiliki produktivitas tinggi, seragam, tahan penyakit tertentu, dan adaptif pada berbagai agroekosistem. Budidaya jagung hibrida menjadi pilihan utama petani untuk memenuhi permintaan industri pakan, pangan, dan bioenergi.
2. Syarat Tumbuh
a. Iklim
· Tinggi tempat optimal : 0–1.300 m dpl
· Curah hujan : 85–200 mm/bulan
· Suhu ideal : 21–34°C
· Intensitas cahaya tinggi diperlukan untuk fotosintesis maksimal.
b. Tanah
· Jenis tanah : Latosol, Andosol, Mediteran, Aluvial
· pH tanah ideal : 5,5–7,0
· Tanah gembur, kaya bahan organik, dan memiliki drainase baik.
3. Pengolahan Tanah
a) Bersihkan gulma dan sisa tanaman sebelumnya.
b) Lakukan pembajakan sedalam 20–30 cm.
c) Buat bedengan atau tanpa bedengan sesuai kondisi lahan.
d) Jika pH rendah, lakukan pengapuran menggunakan dolomit ±1–2 ton/ha.
4. Varietas Jagung Hibrida Unggul
Beberapa varietas populer di Indonesia :
· BISI-2, BISI-18, BISI-816
· Pioneer P21, Pioneer 32, Pioneer 36
· NK 7328, NK 8809
· Hima Hybrid, JH 37
Pemilihan varietas disesuaikan kondisi agroklimat dan tujuan produksi.
5. Penanaman
a. Jarak tanam
· 75 × 25 cm (populasi ± 66.000 tanaman/ha)
· 70 × 20 cm (populasi ± 71.000 tanaman/ha)
b. Cara tanam
· Lubang tanam 3–5 cm
· Benih per lubang: 1–2 butir
· Tutup tanah tipis dan padatkan ringan.
6. Pemupukan
a. Pupuk Dasar
Diberikan saat tanam :
· Pupuk kandang: 10–15 ton/ha
· NPK (15-15-15): 200–300 kg/ha
· Urea: 50–100 kg/ha
b. Pupuk Susulan
· Susulan I (umur 15 HST) :
Ø Urea 100 kg/ha
Ø KCl 50 kg/ha
· Susulan II (umur 30–35 HST) :
Ø Urea 100 kg/ha
Ø KCl 50 kg/ha
Pemupukan dapat dilakukan dengan penugalan atau ditugal 5 cm dari batang.
7. Pengairan
Kebutuhan air sangat tinggi pada fase :
· Perkecambahan
· Pertumbuhan vegetatif
· Pembentukan bunga
· Pengisian biji
Lakukan pengairan 5–7 hari sekali atau menyesuaikan kondisi tanah.
8. Pengendalian Hama & Penyakit
a. Hama Penting
1. Ulat Grayak (Spodoptera frugiperda/FAW)
Ø Gejala: daun berlubang parah
Ø Pengendalian : insektisida berbahan klorpirifos, metoksifenoside, atau biopestisida Beauveria.
2. Penggerek batang
Ø Pengendalian : sanitasi, rotasi, serta insektisida sesuai rekomendasi.
3. Lalat bibit
b. Penyakit
1. Bulai (Peronosclerospora sp.)
Ø Gejala : daun menguning/klorosis memanjang
Ø Pengendalian : benih fungisida metalaksil, varietas toleran.
2. Hawar daun (Helminthosporium)
Ø Pengendalian : varietas tahan, fungisida propineb/klorotalonil.
3. Busuk tongkol
Ø Pengendalian : panen tepat waktu, pengeringan cepat.
9. Penyiangan & Pemeliharaan
· Penyiangan dilakukan 2–3 kali (10–15 HST dan 30–35 HST).
· Pembubunan dilakukan bersamaan pemupukan susulan kedua untuk memperkuat tanaman.
10. Panen
Waktu Panen
· 95–110 hari setelah tanam (tergantung varietas)
· Ditandai dengan :
Ø Kelobot mengering
Ø Tongkol keras
Ø Kadar air biji ± 25–30%
Cara Panen
· Potong tongkol, lalu jemur hingga kadar air turun ke 14% untuk penyimpanan.
11. Pasca Panen
1. Pengeringan : Sinar matahari atau dryer.
2. Perontokan : Manual atau mesin thresher.
3. Pembersihan : Sortasi biji pecah atau berjamur.
4. Penyimpanan : Wadah kering, diberi aerasi baik.
Sumber :
1. Balitsereal. (2020). Teknologi Budidaya Jagung. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
2. Purwanto, E., & Mulyani, A. (2019). Jagung Hibrida: Pedoman Budidaya dan Pengembangan. Jakarta: Penebar Swadaya.
3. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. (2021). Pedoman Teknik Budidaya Jagung Hibrida. Kementerian Pertanian RI.
4. FAO. (2018). Maize Production Manual. Food and Agriculture Organization.
5. Syafruddin, & Sumarno. (2015). Teknik Produksi Jagung Hibrida di Indonesia. Bogor: IPB Press.
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. (2022). Petunjuk Teknis Pengelolaan Tanaman Jagung. Kementerian Pertanian.