Loading...

GROPYOKAN PENGENDALIAN HAMA TIKUS MENGGUNAKAN EMPOSAN BERBAHAN GAS LPG DAN BELERANG

GROPYOKAN PENGENDALIAN HAMA TIKUS MENGGUNAKAN EMPOSAN BERBAHAN GAS LPG DAN BELERANG
Tikus sawah (Rattus argentiventer) merupakan salah satu hama penting bagi tanaman padi, dimana serangan hama tikus dapat mengakibatkan kerusakan yang tidak sedikit hingga gagal panen. Seringkali petani padi dibuat tak berdaya oleh binatang pengerat ini karena pengendalian hama tikus lebih sulit dilakukan dibandingkan dengan pengendalian hama padi lainnya.Serangan hama tikus bisa terjadi pada semua fase, mulai dari persemaian hingga panen. Terjadinya ledakan serangan hama tikus dapat menyebabkan kehilangan hasil hingga mencapai 20%, sehingga petani sering terjadi gagal panen.Beberapa alasan penyebab sulitnya melakukan pengendalian terhadap hama tikus diantara yaitu ; Hama tikus sawah relatif sulit dikendalikan karena memiliki sifat biologi dan ekologi yang berbeda dibanding hama padi lainnya; Monitoring yang lemah mengakibatkan terjadinya ledakan populasi hama tikus sehingga menimbulkan kerusakan parah; Tidak ada kekompakan antara petani dalam mengendalikan hama tikus; Tidak dilakukan pengendalian berkelanjutan sehingga populasi hama tikus terus meningkat.Untuk mengawali musim tanam MT I tahun 2018/2019 beberapa kelompok tani di Desa Sidang Way Puji Kec. Rawa Jitu Utara Kab. Mesuji melakukan gropyokan pengendalian hama tikus dengan menggunakan alat emposan gas elpiji dengan bahan belerang. Hal ini dilakukan untuk menekan populasi hama tikus pada saat tanaman padi sudah ditanam. Sejumlah petani melakukan penyisiran sarang tikus khususnya di tanggul dan pematang sawah. Begitu menemukan sarang, sekam dan belerang, dimasukkan lubang. Sekam dan belerang, kemudian dibakar dengan api dari kompor elpiji, sehingga menciptakan asap beracun. Asap beracun tersebut, akan menyebar ke dalam sarang melalui lubang. Hasilnya, banyak tikus yang mati keracunan. Sebagian besar tikus mati dalam lubang, yang berhasil keluar akhirnya juga mati, setelah menghirup asap beracun. Menurut Wanto salah satu anggota kelompok tani setempat mengatakan, menggunakan teknik ini cukup efektif, karena pestisida tidak mampu berbuat banyak berbagai cara dipakai, tetapi hasilnya tidak maksimal. "Kawanan tikus tetap mengganas, sehingga banyak tanaman padi yang rusak". Penggunaan emposan gas elpiji ini cukup efektif mengendalikan hama tikus, karena asap beracun dari belerang yang dibakar yang masuk ke dalam lubang/sarang tikus dapat membunuh tikus dewasa dan juga anakan tikus yang masih berada dalam lubang. Petani tidak perlu merusak atau menggali lubang pada tanggul atau pematang sawah. Tikus lain yang datang belakangan tidak memanfaatkan lubang sarang yang pernah ada sebagai tempat tinggalnya, hal ini membuat tikus tidak nyaman di lahan sehingga mencari tempat alternatif lainnya. Selain itu tikus dan anakannya yang mati di dalam lubang sarang langsung terkubur sehingga tidak menyebabkan bau busuk yang mengganggu.By : didik purwanto