Program SIMURP merupakan modernisasi irigasi strategis dan program rehabilitasi lintas kementerian dan lembaga yang melibatkan Kementerian Pertanian (Kementan), Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dengan target lokasi Daerah Aliran Sungai (DAS). Lokasi kegiatan Program SIMURP tersebar di 10 provinsi, 24 kabupaten yang merupakan daerah irigasi maupun daerah rawa, di antaranya Provinsi Sumatra Utara di Kabupaten Deli Serdang dan Serdang Bedagai serta Kabupaten Banyuasin dan Musi Banyuasin di Sumatra Selatan. Pulau Jawa meliputi Kabupaten Cirebon, Indramayu, Karawang, Subang di Jawa Barat, tujuh kabupaten di Jawa Tengah, yakni Banjarnegara, Purbalingga, Purworejo, Grobogan, Demak, Kebumen, dan Brebes, lalu Kabupaten Jember di Jawa Timur. Sementara itu, di Kalimantan hanya Kabupaten Katingan di Kalimantan Tengah; wilayah Sulawesi di Kabupaten Takalar, Bone, Pangkep, Pinrang; Konawe di Sulawesi Selatan; Kabupaten Konawe di Sulawesi Tenggara; Kabupaten Lombok Tengah di Nusa Tenggara Barat (NTB); dan Kabupaten Nagekeo di Nusa Tenggara Timur (NTT). Sektor pertanian tergolong rentan terhadap sejumlah gangguan di antaranya perubahan iklim, pemanasan global, efek rumah kaca, banjir, kekeringan, serta peningkatan permukaan air laut. Pertanian Cerdas Iklim pada Program SIMURP adalah pertanian ramah lingkungan, hemat air dan berkelanjutan yang bertujuan untuk meningkatkan indeks pertanaman, produktivitas, dan pendapatan petani sehingga terjadi peningkatan kesejahteraan petani. Menghadapi musim kemarau panjang atau El Nino yang diprediksi mulai Juli hingga September 2023, Kementerian Pertanian RI, mengembangkan teknologi Climate Smart Agriculture (CSA) dari Program Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project (SIMURP). Climate Smart Agriculture (CSA) atau pertanian cerdas iklim merupakan suatu pendekatan yang mentransformasikan dan mengorientasi ulang sistem produksi pertanian dan rantai nilai pangan sehingga mampu mendukung ketahanan pangan melalui pertanian berkelanjutan dalam menghadapi kondisi perubahan iklim. Dari hasil evaluasi kegiatan SIMURP terhadap penerapan teknologi CSA, ternyata produktivitas padi dilokasi Demplot CSA SIMURP dibandingkan dengan produktivitas padi dilokasi Non CSA SIMURP memberikan hasil yang significant yaitu : tahun 2020 produktivas padi di lokasi Demplot mencapai 5,60 ton/ha, semetaran di lokasi Non CSA hanya 5,16 ton/ha sehingga ada selisih sebesar 0,44 ton/ha; tahun 2021 produktivas padi di lokasi Demplot mencapai 6,38 ton/ha, semetaran di lokasi Non CSA hanya 5,53 ton/ha sehingga ada selisih sebesar 0,85 ton/ha; tahun 2022 produktivas padi di lokasi Demplot mencapai 7,34 ton/ha, semetaran di lokasi Non CSA hanya 6,68 ton/ha sehingga ada selisih sebesar 0,59 ton/ha (Data tahun 2022 dari sampel 2.353 poktan, 21 Kabupaten dan 82 Kecamatan). Teknologi CSA dengan Sistem pengairan AWD juga terbukti mampu menghemat penggunaan air pada lahan persawahan. Dari hasil pengujian yang dilakukan Balai Penerapan Standar Instrumen (BPSI) Agro Klimat dan Hidrologi melalui penghitungan penghematan air Sistem Pengairan AWD di lokasi CSA dan Non CSA pada dua lokasi yaitu di lokasi Utara dapat menghemat 21 persen dan Selatan 12 persen dibandingkan pada lahan persawahan Non CSA. Pengembangan Demplot pada lokasi CSA ternyata dari rekomendasi Balai Penerapan Standar Instrumen (BPSI) Pati dengan penerapan budidaya padi sawah dari lahan persawahan yang tergantung jenis tanah, kelengasan tanah, suhu tanah dan varietas padi dapat menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) rata-rata 37% dibandingkan lokasi konvensional di Indonesia. Mengingat hasil penerapan teknologi CSA yang memberikan dampak terhadap peningkatan produktivitas padi, penghematan terhadap penggunaan air dengan metode AWD dan terjadinya penurunan emisi GRK, maka dalam penerapan teknologi CSA perlu dilakukan diseminasi secara masif kepada petani agar mereka dapat memahami, mau dan mampu menerapkan teknologi CSA. Kegiatan penerapan teknologi CSA SIMURP dilaksanakan di 10 provinsi, 24 kabupaten dan 117 Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) untuk mengantisipasi kemarau panjang tahun ini (terjadinya El Nino 2023). Kegiatan penerapan teknologi CSA dilakukan melalui pendekatan Sekolah Lapang (SL) diantaranya melalui Bimtek/RembugTani, Demplot dan Farmer Field Day (FFD) dengan komponen kegiatan penerapan teknologi CSA meliputi: 1) Kelompoktani (poktan); 2) Penyuluh Pertanian; 3) Penguatan BPP; 4) Paket Teknologi CSA; dan 5) Pengukuran Emisi Gas Rumah Kaca (GRK). Paket Teknologi CSA yang diterapkan oleh poktan/petani disesuaikan dengan kondisi spesifik lokasi serta berdasarkan hasil keputusan dari tim teknis setempat dan atau Balai Penerapan Standar Instrumen Pertanian (BPSIP). Adapun paket teknologi CSA, meliputi: 1) Teknologi hemat air melalui sistem irigasi intermittent/Alternate Wet and Drying (AWD)/macak-macak; 2) Pemupukan berimbang melalui penggunaan perangkat uji tanah sawah/rawa (PUTS/PUTR) atau menggunakan rekomendasi pemupukan dari BSIP; 3) Penggunaan varietas benih unggul; 4) Penggunaan bahan organik untuk membuat pupuk organik; 5) Sistem budidaya padi jajar legowo; 6) Penerapan pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) terpadu; 7) Penggunaan Sistem Kalender Tanam (KATAM). SIMURP berupaya untuk merubah mainset atau membuka cara pandang untuk bertani cerdas iklim yang sehat, ramah lingkungan, dan berkelanjutan dengan berbagai kegiatan. Karena itu petani diajak dan didorong mengurangi penggunaan pupuk kimia dan beralih ke pupuk organik, menggunakan bibit varietas unggul dan tahan hama, menggunakan pestisida nabati, dan lain sebagainya. Intinya, saatnya kita mulai berorientasi ke pertanian cerdas iklim dengan mengembalikan kesuburan tanah untuk menghasilkan produktivitas padi yang tinggi dan sehat tanpa merusak kesuburan lahan. Untuk mencapai keberhasilan program SIMURP dalam menghadapi El Nino 2023, maka peran Penyuluh Pertanian dan Pendampingan dalam penerapan teknologi CSA menjadi kata kunci untuk merubah mainset atau membuka cara pandang untuk bertani cerdas iklim. Demikian informasi yang dapat disampaikan untuk menjadi bahan dalam mengantisipasi El Nino 2023 dengan penerapan teknologi CSA di lokasi SIMURP dan melalui pendampingan penyuluh dapat terus di replikasi atau dikembangkan di lokasi sekitar dan terus menerus didampingi sehingga dapat berkelanjutan. (Siti Nurjanah, Penyuluh Ahli Utama Pusat Penyuluhan Pertanian). Sumber: Juknis Penerapan Teknologi CSA 2023 (NPIU) dan rangkuman dari berbagai referensi.