Loading...

Hama dan Penyakit Bunga Sedap Malam

Hama dan Penyakit  Bunga Sedap Malam
Pengendalian hama dan penyakit Tanaman Bunga sedap malam sangatlah prioritas, ini disebabkan karena tanpa kondisi tanaman yang prima maka harapan produk akan tidak maksimal. Dalam mengantisipasi hal tersebut maka perlu adanya perlindungan tanaman agar dikemudian hari hasil bisa maxsimal. Adapun perlindungan tanaman tersebut perlu memperhatikan beberapa hal penting dalam PHT (Pengendalian Hama Terpadu) untuk melakukan pengendalian harus mengenal Organisme Pengganggu Tanaman yang menyerang, gejala serangan, cara penyebaran dan faktor-faktor perkembangan orgsanisme pengganggu tanaman. Usaha meningkatan produksi Bunga sedap malam merupakan suatu pola pendekatan inovatif dalam efisiensi usahatani. Paket teknologi yang dirakit dan sesuai komponen - komponen teknologi serta diimplementasikan secara partisipatif dengan orientasi pada kebutuhan kondisi lahan/spesifik lokasi. Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) adalah segala kegiatan usahatani secara terpadu yang bertujuan untuk memperoleh pertumbuhan tanaman yang optimal, kepastian keberhasilan panen, mutu produk yang tinggi dan aman untuk dikomsumsi. Dalam pelaksanaan kegiatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) diharapkan dapat menjaga kelestarian lingkungan dan keseimbangan ekologis. PTT bersifat spesifik lokasi dan merupakan integrasi antara teknologi maju dengan teknologi asli petani. Organisme Pengganggu Tanaman yang perlu diperhatikan antara lain: Beberapa hama dan penyakit serta pengendaliannya pada tanaman Bunga sedap malam Hama utama yang menyerang tanaman sedap malam adalah thrips (Thaeniothrip sp.), kutu dompolan atau mealybugs (Dysmicoccus brevipes) dan kutu perisai (Coccus sp.). Ketiga hama tersebut akan muncul pada musim kemarau yang panjang. 1. Thrips (Thaeniothrips sp.) Thrips mulai menyerang sejak awal penanaman hingga sedap malam berbunga. Hama tersebut ditemukan pada celah-celah antar daun dan juga pada daun yang masih menguncup. Awal serangan ditandai dengan adanya bekas gigitan pada permukaan daun dan akhirnya berubah menjadi kecoklatan bila serangan sudah lanjut. Sebagai tindakan awal pengendalian dapat digunakan kertas berperekat warna kuning. Untuk mengendalikan hama tersebut dapat digunakan insektisida berbahan aktif dimetoat atau diafentiuron sesuai dengan dosis anjuran. 2. Kutu dompolan (Dysmicoccus brevipes) Kutu dompolan menyerang tanaman dengan cara mengisap cairan sehingga dapat merusak tanaman. Kutu dompolan mulai menyerang pada musim kemarau sehingga hama ini perlu diwaspadai. Bila permukaan tanah dibiarkan sampai retak, maka hama kutu dompolan akan menyerang bagian umbi dan dapat menyebabkan kegagalan panen. Untuk mengendalikan hama tersebut dapat digunakan insektisida berbahan aktif diafentiuron sesuai dengan dosis anjuran dan ditambahkan mineral oil dengan dosis 1 cc/l. 3. Kutu Perisai (Caccus sp). Kutu Perisai umumnya menyerang dari tanam berumur diatas satu tahun. Gejala serangan kutu perisai ini ditandai dengan semut mengkerubuti tanaman. Kerusakan yang ditimbulkan adalah daun menguning, layu, kering dan akhirnya mati. Pencegahan dapat dilakukan dengan perompesan daun atau menggunakan bakterisida berbahan aktif streptomisin sulfat yang disemprotkan sesuai dengan anjuran. 4. Penyakit bercak daun (Xanthomonas sp). Penyakit bercak daun yang disebabkan oleh Xanthomonas sp. Penyakit tersebut umumnya menyerang pada musim hujan. Gejala serangan ditandai dengan adanya bercak kecoklatan pada permukaan daun dan akhirnya busuk dan mengering. Pencegahan dapat dilakukan dengan perompesan daun atau menggunakan bakterisida berbahan aktif streptomisin sulfat yang disemprotkan sesuai dengan anjuran. 5. Penyakit bercak hitam Penyakit bercak hitam ini menyerang pada bagian bunga sehingga warna bunga ditandai degan bercak-bercak hitam dan megeras. Bunga tersebut mengeras dan tidak mau mekar, sehingga bunga tersebut tidak dapat dipanen. Pencegahan dapat dilakukan dengan perompesan daun atau menggunakan bakterisida berbahan aktif streptomisin sulfat yang disemprotkan sesuai dengan anjuran. Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman sebaiknya dilakukan secara menjaga kelestarian lingkungan dan keseimbangan ekologis berprinsif PTT antara lain adalah: a. Kultur Teknis; penggunaan benih sehat, pengaturan jarak tanam, pemupukan berimbang sesuai dengan dosis anjuran, pengelolaan air dengan baik dan pergilirang tanaman. b. Mekanis; dari hasil pengamatan bila sudah ada gejala serangan yang tidak terlalu berat dilakukan pengumpulan telur, larva dan imago untuk dimusnakan, bila serangan sudah mula berat maka tanaman harus dibongkar dan dimusnakan agar tidak menjalar ke tanaman yang lainnya. c. Secara biologi; memanfaatkan musuh alami seperti parasitoid telur, pupa, patogen serangga dan cendawan antagonis d. Secara kimiawi; pengendalian pestisida kimiawi sebaiknya digunakan sebagai alternatif terakhir yang perlu memperhatikan antara lain tepat mutu, jenis, sasaran, dosis, cara dan waktu. Ditulis Oleh: Dalmadi BBP2TP Bogor Sumber: Bacaan Ditjen Horti dan sinar tani edisi 5- 11 Nopember No 3276 Tahun XXXIX