Dalam budidaya padi varietas Memberamo dengan hasil panen yang optimum, perlu dilakukan usaha pengendalian hama dan penyakit secara intensif dan kontinu, karena hama dan penyakit merupakan cekaman biotis yang dapat mengurangi hasil dan bahkan dapat menyebabkan gagal panen. Pengendalian Hama Terpadu (PHT) merupakan pendekatan pengendalian yang memperhitungkan faktor ekologi, sehingga pengendalian yang dilakukan agar tidak terlalu mengganggu keseimbangan alami dan tidak menimbulkan kerugian besar. PHT merupakan panduan beberapa cara pengendalian diantaranya melakukan monitoring populasi hama dan kerusakan tanaman. Pengendalian Hama dan Penyakit secara Terpadu Ada beberapa hama dan penyakit yang sering menyerang padi varietas Memberamo, antara lain : 1. Tikus Sawah Tikus merusak tanaman padi pada semua tingkatan pertumbuhan, dari semai hingga panen, bahkan di gudang penyimpanan. Kerusakan parah terjadi jika tikus menyerang padi pada fase generatif, karena tanaman sudah tidak mampu membentuk anakan baru. Tikus merusak tanaman padi mulai dari tengah petak, kemudian meluas ke arah pinggir. Biasanya tikus menyerang padi pada malam hari dan pada siang hari, tikus bersembunyi dalam lubang pada tangul-tanggul irigasi, jalan sawah, pematang, dan daerah perkampungan dekat sawah. Kehadiran tikus pada daerah persawahan dapat dideteksi dengan memantau keberadaan jejak kaki, jalur jalan, kotoran/feases, lubang aktif, dan gejala serangan. Tikus berkembang biak sangat cepat dan hanya terjadi pada periode padi generatif. Satu ekor tikus betina dapat menghasilkan 80 ekor tikus baru dalam satu musim tanam. Pengendalian hama tikus, dilakukan secara dini, intensif dan terus menerus (berkelanjutan) dengan memanfaatkan teknologi pengendalian yang sesuai dan tepat waktu. Kegiatan pengendalian diprioritaskan pada awal tanam (pengendalian dini) untuk menurunkan populasi tikus serendah mungkin sebelum terjadi perkembangbiakan tikus yang cepat pada stadia generatif padi. Pelaksanaan pengendalian dilakukan oleh petani secara bersama-sama (berkelompok) dan terkoordinasi dalam skala luas (hamparan). Langkah-langkah Pengendalian Ada beberapa langkah pengendalian hama tikus, sebagai berikut : a. Menerapkan pola tanam yang teratur dan waktu tanam serempak (tidak lebih dari 2 minggu); b. Periode bero/pengolahan tanah, dilakukan gropyokan masal atau berburu tikus oleh semua anggota kelompoktani. Kegiatan tersebut dapat berupa pembongkaran sarang tikus pada habitat utama seperti tanggul irigasi, jalan sawah, rel kereta api, lahan kosong dan lainnya. Apabila populasi tikus sangat tinggi dapat digunakan rodentisida, baik jenis akut atau antikoagulasi sesuai anjuran atau Kerat RM 1 kg/ha; c. Pada musim kemarau, disarankan dipasang sistem bubu perangkap (Trap Barrier System = TBS) ukuran 15 m x 15 m untuk setiap 15 ha ditempatkan di dekat habitat utama tikus an dilakukan pengambilan tangkapan tikus setiap hari sampai panen. d. Periode padi vegetatif. Sanitasi gulma pada habitat tikus, baik yang ada di hamparan sawah maupun disekitar sawah agar tidak digunakan sebagai sarang tikus. Dilakukan pengendalian secara mekanis, rodentisida bila populasi masih tinggi, pasang (Linier Trap Barrier System = LTBS) di dekat habitat utama dan dipindahkan setiap 5 hari, serta lakukan fumigasi sarang tikus; e. Periode padi generatif. Lakukan fumigasi asap belerang pada setiap sarang aktif tikus, sanitasi gulma pada habitat utama dan pasang LTBS di dekat habitat utama secara periodik. 2. Wereng Coklat Wereng coklat yang biasa menyerang varietas Memberamo, yaitu wereng coklat biotipe 3. Bila perkembangan hama wereng terus meningkat (hubungan musuh alami dan hama tidak seimbang), pada kondisi seperti dibawah ini perlu pengendalian sebagai berikut : a. Populasi hama di bawah ambang ekonomi gunakan insektisida botani atau jamur ento-mopatogenik; b. Populasi hama di atas ambang ekonomi digunakan insektisida kimiawi yang direkomendasikan. 3. Penggerek Batang Padi a. Ada 6 penggerek batang yang menjadi hama padi, 4 diantaranya merupakan spesies yang paling banyak dijumpai dan dominasinya tergantung pada daerah penyebarannya; b. Insektisida butiran diaplikasikan bila genangan air dangkal dan insektisida cair saat genangan tinggi. Insektisida cair diaplikasikan pada fase generatif apabila populasi tangkapan ngengat 100 ekor/minggu pada perangkap feromon, atau 300 ekor/minggu pada perangkap lampu; c. Penangkapan massal ngengat jantan dengan memasang perangkap 9 - 16 perangkap setiap hektar untuk mengamati spesies dominan. d. Saat panen, tunggul jerami dipotong rendah supaya kehidupan larvanya terganggu. 4. Penyakit Tungro Tungro adalah penyakit virus pada padi yang biasanya terjadi pada fase pertumbuhan vegetatif dan menyebabkan tanaman tumbuh kerdil dan berkurang jumlah anakan. Pelepah dan helaian daun memendek dan daun yang terserang berwarna kuning sampai kuning oranye. Daun muda sering belurik atau strip berwarna hijau pucat sampai putih dengan panjang berbeda sejajar dengan tulang daun. Cara pengendalian penyakit tungro, antara lain : a. Usahakan tanam serentak minimal 20 ha; b. Kendalikan serangan wereng hijau penular virus dengan insektisida kimiawi yang direkomendasikan bila saat tanaman umur kurang dari sebulan setelah tanam ditemukan 1 tanaman terserang dari 1.000 rumpun tanaman; c. Sawah jangan dikeringkan. Penulis : Sri Hartati Sumber : 1) Informasi Ringkas Teknologi Padi, Kerjasama Pusat Pnelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan dengan International Rice Research Institute 2007; 2) Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi Sawah Irigasi, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian 2008; 3)http;// images.google.co.id. nuturalnusantara.co.id