Loading...

HAMA PENGGEREK POLONG Etiella spp. PADA TANAMAN KEDELAI DAN STRATEGI PENGENDALIANNYA

HAMA PENGGEREK POLONG Etiella spp. PADA TANAMAN KEDELAI DAN STRATEGI PENGENDALIANNYA
PENDAHULUAN Kedelai merupakan komoditas pangan setelah padi dan jagung yang sampai saat ini produksinya belum dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri. Hal ini disebabkan rendahnya produktivitas kedelai di petani. Sudah tentu banyak faktor yang menyebabkan produksi kedelai masih tergolong rendah yakni benih, sanitasi, tanah yang kurang produktif, iklim dan terutama adanya serangan hama dan penyakit tanaman yang telah menimbulkan kerusakan pada tanaman kedelai. Salah satu hama penting yang menyerang pada stadia polong hampir pada semua pertanaman kedelai di Indonesia adalah penggerek polong (Etiella spp).. Kehilangan hasil akibat serangan penggerek polong mencapai 80%, bahkan puso apabila tidak ada tindakan pengendalian. Larva Etiella spp lebih suka menggerek polong yang masih muda dibandingkan polong yang sudah tua. Serangan pada polong muda dapat mengakibatkan polong rontok dan pada polong tua mengakibatkan turunnya kuantitas dan kualitas biji kedelai. Serangan penggerek polong ini cenderung meningkat pada musim kemarau dan rendah dimusim penghujan. Suhu yang panas pada musim kemarau akan mengakibatkan aktivitas metabolisme hama meningkat yang akhirnya akan memperpendek siklus hidupnya dan populasi hama meningkat dengan cepat. CIRI-CIRI PENGGEREK POLONG Etiella spp Ada dua jenis Etiella spp yang bisa menyerang kedelai di Indonesia yaitu Eteilla zinckenella dan Etiella hobson. Serangga dewasa E. zinckenella berwarna keabuabuan dan mempunyai garis putih pada sayap depan, sedangkan E. hobsoni tidak mempunyai garis putih pada sayapnya. Telur berbentuk lonjong dengan diameter 0,6 mm dan diletakkan berkelompok 4-15 butir di bagian bawah daun, kelopak bunga atau pada polong. Pada saat diletakkan telur berwarna putih mengkilap, kemudian berubah jingga ketika akan menetas. Setelah 3-4 hari, telur menetas dan keluar ulat berwarna putih kekuningan, kemudian berubah menjadi hijau dengan garis merah memanjang. Dalam satu polong sering dijumpai lebih dari 1 ekor ulat. Ulat instar akhir mempunyai panjang 13-15 mm dengan lebar 2-3 mm. Kepompong terbentuk di dalam tanah dengan terlebih dahulu membuat sel di dalam tanah. Kepompong berwarna coklat dengan panjang 8-10 mm dan lebar 2 mm. Setelah 9-15 hari kepompong berubah menjadi ngengat. GEJALA SERANGAN PENGGEREK POLONG Ulat menggerek polong kedelai kemudian hidup dan tinggal di dalam polong dan memakan biji kedelai yang masih utuh. Gejala serangan ditandai dengan adanya lubang gerek berbentuk bundar pada kulit polong. Apabila terdapat dua lubang gerek pada polong berarti ulat sudah meninggalkan polong. Ulat menyebabkan kerusakan pada polong muda dan tua. PENGENDALIAN HAMA PENGGEREK POLONG Pengendalian hama penggerek polong pada tanaman kedelai sebaiknya dilakukan dengan strategi penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT). PHT adalah suatu cara pengendalian hama yang didasarkan pada pertimbangan ekologi dan efisiensi ekonomi dalam rangka pengelolaan ekosistem yang berwawasan lingkungan yang berkelanjutan. Komponen teknologi strategi pengendalian hama penggerek polong adalah Tanam serempak Pada daerah dengan topografi yang sama dianjurkan untuk bertanam serempak, dengan kisaran waktu tanam antarpetani tidak lebih dari 14 hari, sehingga kisaran umur tanaman kedelai tidak lebih dari 14 hari. Jika ada petani yang melakukan tanam kedelai di luar kisaran tersebut, perlu dilakukan pengamatan hama secara intensif, dan bila populasi mencapai ambang kendali (2 ekor/tanaman) perlu dikendalikan dengan insektisida kimia efektif, misalnya lamda sihalotrin dan deltametrin Sanitasi Penggerek polong memiliki tanaman inang yang liar Crotalaria sp. Untuk itu tanaman inang Crotalia sp yang hidup disekitar lahan yang akan ditanami kedelai perlu di lakukan sanitasi selektif agar populasi penggerek polong dapat ditekan dengan cara memangkas polongnya karena penggerek polong hanya adakan hidup dan berkembang di dalam polong. Pergiliran Tanaman Pergiliran tanaman dimaksudkan untuk memutus siklus hama dan menurunkan populasi awal penggerek polong sehingga tanaman kedelai terbebas dari penggerek polonga, jikapun terserang maka serangannya akan rendah. Padi dan jagung bukan inang dari penggerek polong, maka pergiliran tanaman kedelai dapat dilakukan dengan padi atau jagung. Untuk lahans awah tadah hujan atau lahan sawah irigasi, maka pergiliran tanaman dengan padi cocok dilakukan. Sedangkan kalau lahan kering, pergiliran tanaman dapat dilakukan dengan jagung, kubis, wortel, ubi jalar atau ubi kayu. Pergiliran tanaman akan berhasil bila disertai dengan bertanam serempak dan sanitasi Crotalaria sp. Pemasangan lampu perangkap karena ulat ini menyukai cahaya Tanaman Perangkap Tanaman perangkap adalah tanaman inang yang menarik serangga hama menjauh dari tanaman utama selama periode waktu kritis. Tanaman perangkap untuk penggerek polong dapat digunakan kedelai varietas Malabar yang ditanam 1-2 minggu lebih awal dari tanaman utama. Luas tanaman perangkap untuk penggerek polong 15% dari luas penanaman kedelai. Penggunan Pestisida Nabati Penggunaan pestisida nabati ektrak daun Aglaia odorata 5% dan ekstrak daun mimba serta ekstrak daun papaya dengan dosis 1,5 kg/10 liter air mampu menekan serangan hama penggerek polong. Penggunaan Insektisida Kimia Penggunaan insektisida kimia untuk mengendalikan serangan hama penggerek polong jika telah melebihi ambang kendali yaitu intensitas serangan lebih dari 2% dan 2 ekor ulat/rumpun pada umur tanaman 45 HST dengan insektisida berbahan aktif lamda sihalotrin, klorantraniliprol atau klorpirifos 500 g/l dan sipermetrin 50 g/l pada konsentrasi 1,50 ml/l mampu menekan populasi dan serangan hama penggerek polong maupun meningkatkan produksi. Penulis : Ir. Sari Nurita, Penyuluh Pertanian BPTP Kalimantan Barat Sumber : Baliadi, Y., W. Tengkano, Marwoto, 2008. Penggerek Polong Kedelai, Etiella Zinckenella Treitschke (Lepidoptera: Pyralidae), Dan Strategi Pengendaliannya Di Indonesia. Jurnal Litbang Pertanian. file:///E:/Juknis%20dan %20deskripsi %20varieta/Penggerek%20Polong%20 Kedelai.pdf Harahap, S., M. Agung Permadi, 2019. Uji Efektifitas Insektisida Nabati (Ekstrak Daun Pepaya) Dan Insektisida Kimia (Alika) Dalam Pengendalian Hama Penggerek Polong (Etiella Zinkenella) Pada Tanaman Kacang Kedelai (Glycine Max Merril.) Agrohita Jurnal Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan. Marwoto, 2008. Status Hama Penggerek Polong Kedelai Etiella spp. Pada Tanaman Kedelai dan Cara Pengendaliannya. file:///E:/Penggerek%20polong %20pada%20tanaman%20kedelai.pdf Marwoto, et al., 2017. Hama dan Penyakit Tanaman Kedelai. Identifikasi dan Pengendaliannya. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. file:///E:/Juknis%20dan%20deskripsi%20varietas/booklet_hama_kedelai-.pdf