Loading...

Hama Putih Palsu Pada Pertanaman Padi

Hama Putih Palsu Pada Pertanaman Padi
Budidaya tanaman padi tidak terlepas dari hama dan penyakit. Hama dan penyakit yang menyerang pertanaman padi dapat mengakibatkan penurunan produksi padi. Kehilangan hasil akibat hama dan penyakit sekitar 40 sampai 55 % bahkan hingga gagal panen. Ini belum termasuk dampak iklim dan proses penanganan pasca panen yang kurang baik Oleh sebab itu perlu memberikan penyuluhan dengan memanfaatkan berbagai media seperti penyuluhan melalui media digital dalam memberikan pembinaan teknis kepada petani. Dengan harapan petani semakin meningkat kapasitas, keterampilan dan kompetensinya dalam melakukan kegiatan usahatani sehingga produktivitas hasil dan pendapatan mereka juga meningkat. Beberapa jenis hama yang seringkali menyerang pertanaman padi diantara lain: Tikus dianggap sebagai hama tanaman padi yang sangat mengganggu petani. Tikus akan aktif menyerang tanaman pada malam hari, sedangkan pada siang hari tikus bersembunyi pada saluran irigasi, pematang sawah hingga semak-semak. Selain itu tikus memiliki siklus berkembang biak yang cukup cepat, jika tidak ditanggulangi maka tikus akan menyebabkan gagal Wereng yang menyerang padi dengan menghisap cairan batang dan dapat menularkan virus seperti tungro. Virus inilah yang dianggap berbahaya bagi tanaman padi. Keong mas menyerang tanaman padi pada saat masa vegetatif dan ketika dalam masa pembibitan. Hama ini memarut jaringan tanaman untuk dimakan sehingga bibit padi menjadi Walangsangit merupakan hama tanaman yang mengancam produktivitas padi. Padi yang terserang walangsangit kualitasnya kurang baik nampak seperti keriput dan berwarna cokelat serta rasanya juga tidak enak. Burung merupakan hama umum tanaman padi yang paling meresahkan petani. Burung akan memakan tanaman padi yang sedang berbulir dan berusia tua ketika menjelang panen. Selain memakan bulir padi hama burung juga menyebabkan malai padi patah. Penggerek batang padi merupakan hama yang banyak jenisnya. Ada memiliki warna putih, merah jambu, kuning maupun belang. Bagian tanaman yang diserang hama ini adalah bagian batang dan pelepah daun padi. Hama putih palsu merupakan hama yang cukup merusak pertanaman padi, hingga menurunkan hasil produksi. Tiga faktor utama yang menyebabkan munculnya serangan hama pada tanaman, khususnya pada tanaman padi yaitu: Faktor iklim. Kehidupan serangga sangat sangat dipengaruhi oleh keadaan cuaca dan iklim tempat hidupnya. Cuaca dan iklim berpengaruh besar terhadap perilaku, perkembangan populasi dan penyebaran serangga. Faktor iklim yang berpengaruh terhadap perkembangan hama antara lain adalah: Curah hujan. Unsur penting dari hujan yang berhubungan dengan perkembangan hama yaitu jumlah hari hujan dan sering-tidaknya hujan turun. Suhu udara. Mengendalikan perkembangan, kelangsungan hidup dan penyebaran hama tanaman Kelembaban udara. Kebutuhan serangga terhadap air sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungannya, terutama kelembapan dan ketersediaan air. Cahaya matahari. Umumnya serangga sangat tertarik pada cahaya dan untuk kebutuhan hidupnya memerlukan energi yang bersumber dari cahaya matahari atau bulan. Gerakan angin. Angin merupakan faktor penting dalam penyebaran hama pada tanaman. Kecepatan terbang serangga sangat dibantu oleh kecepatan dan arah angin. Angin juga membawa bau wangi tanaman yang tertangkap oleh sensor hama, sehingga datang kepada tanaman. Faktor kelalaian. Hal ini umumnya disebabkan adanya kesalahan dalam tindakan budidaya tanaman. Penggunaan pestisida yang kurang bijaksana dan pencampur pestisida yang tidak sejenis atau aplikasi pestisida belum waktunya merupakan faktor - faktor yang menjadi penyebab hama menjadi resisten (tahan) terhadap pestisida. Karakteristik dari masing - masing fase Hama Kutu Palsu: Hama putih palsu (Chaphalocrosis medinalis Guen) adalah hama penggulung daun atau pelipat daun. Ngengat dewasa muncul sekitar 30 hari setelah peletakan telur. Panjang ngengat dewasa 10-12 mm dan lebar 13-15 mm, sayapnya mengkilap dan berwarna kuning jerami yang dihiasi pinggiran gelap 2-3 garis vertikal. Lebar sayap jika direntangkan sekitar 17-19 mm. Ngengatnya aktif pada malam hari dan tertarik pada cahaya. Ngengat jantan dan betina mempunyai bentuk yang serupa bedanya hanya pada ujung perut (abdomen) betina tumpul sedangkan pada jantan tajam. Ngengat betina biasanya hidup sekitar 10 hari dan meletakkan telurnya satu per satu atau dalam bentuk barisan di permukaan bawah daun muda padi yang terserang. Telurnya berbentuk oval dengan permukaan agak cembung berwarna putih transparan jika baru diletakkan dan selanjutnya berwarna putih kekuningan. Panjang telur 0,68 mm dan lebar 0,39 mm. Telur diletakkan satu persatu atau berlapis dalam suatu baris atau kelompok yang terdiri dari 10-12 butir pada permukaan daun, pelepah atau sepanjang tulang daun. Telur akan menetas sekitar 4-6 hari setelah peletakan Larva yang baru menetas panjangnya 1,5-2,0 mm dan lebar 0,2-0,3 mm tubuh larva putih, transparan dan kepalanya berwarna coklat muda. Larva mengalami perubahan 5-6 kali rata-rata keseluruhan perubahannya diselesaikan sekitar 25-30 hari. Saat perubahan yang pertama larva memakan daun muda dengan menggaruk permukaan daun namun tidak menyebabkan daun melipat. Tubuh larva biasanya dilapisi bahan seperti sutera dan memerlukan waktu sekitar 2-4 hari untuk memakan daun padi. Pada hari kelima atau perubahan tahap kedua dan seterusnya serangan larva menyebabkan daun padi menggulung. Pelipatan daun padi dilakukan dengan menghubungkan kedua tepi helaian daun melalui sederetan benang yang dihasilkan oleh larva tersebut. Benang ini bila kering akan mengerut dan mengeras sehingga helaian daun akan berbentuk seperti tabung. Larva hidup dalam gulungan daun sambil memakan lapisan hijau daun menyebabkan adanya jalur putih yang tembus cahaya. Jika helaian daun rusak berat maka larva akan berpindah ke daun lainnya. Gerakan Larva sangat lincah jika gulungan daun dibuka maka larva akan melompat. Larva dewasa berwarna hijau kekuningan dengan kepala coklat tua dan panjang tubuhnya 20-25 mm dan lebarnya sekitar 1,5-2,0 mm. Larva biasanya menyerang tanaman muda padi hingga berumur 75 hari. Setelah umur tersebut serangan akan menurun dan menjadi tidak berarti. Pupa atau kepompong terbentuk dalam gulungan daun padi dalam untaian benang sutera yang terjalin renggang. Pupa yang baru terbentuk berwarna kuning terang dan berubah coklat tua menjelang munculnya ngengat dewasa. Tahapan pupa sekitar 6 - 8 hari. Tanaman yang terserang oleh hama putih palsu biasanya adalah tanaman padi yang masih muda yaitu tanaman yang baru dipindah ke sawah sampai umur 75 hari setelah tanam. Serangan hama putih palsu dapat terjadi sepanjang tahun dan umumnya populasi meningkat pada saat musim penghujan. Selain itu banyaknya gulma dan bekas potongan jerami padi yang terlalu tinggi di sekitar pertanaman padi juga akan meningkatkan jumlah populasi hama ini. Pemberian pupuk N (Urea) yang berlebihan pada tanaman padi mengakibatkan makin meningkatnya serangan hama putih palsu. Kerusakan tanaman padi akibat hama putih palsu disebabkan oleh larvanya. Bagian tanaman yang diserang terutama pada daun yang masih muda. Kerusakan tersebut ditandai adanya gulungan dan goresan putih transparan yang panjangnya sekitar 15- 20 mm dan lebar sekitar 1,2 mm. Garis putih tersebut sejajar dengan tulang daun dan menampakkan daerah dengan beberapa goresan dan pada serangan yang berat terdapat beberapa daun tergulung dan terlipat. Goresan putih akibat hilangnya hijau daun dan pelipatan daun ini akan dapat mempengaruhi proses fotosintesis pada daun tanaman. Daun padi yang rusak juga memberikan peluang bagi jamur dan bakteri untuk menyerang tanaman padi. Beberapa langkah pengendalian atau alternatif pengendalian yang dapat dilakukan terkait serangan hama putih palsu ini antara lain: Penggunaan varietas padi yang tahan serangan hama putih Jenis padi yang tahan terhadap serangan hama putih palsu antara lain IR 21586-R31-1, IR 21836-90-3, IR 8192-31-2-1-2 dan RD 19. Jenis padi ini kurang disenangi oleh hama putih palsu dalam meletakkan telurnya karena berhubungan struktur fisik daun. Jumlah kelompok telur yang diletakkan lebih sedikit. Keempat jenis padi ini mempunyai daun yang agak keras sehingga menjadikan kesulitan bagi larva muda untuk memakan daun tersebut dan larva banyak yang mati. Larva hama aktif menyerang tanaman muda hingga tanaman berumur sekitar 75 hari. Setelah itu serangan menurun karena daun tanaman semakin keras. Tanaman padi yang daunnya keras kurang disenangi hama putih palsu. Perlakuan budidaya dan pemupukan yang berimbang. Selain menyerang padi hama putih palsu juga menyerang gulma sebagai inang alternatifnya. Oleh sebab itu penyiangan gulma dapat mengurangi serangan hama ini. Selain itu pemupukan N dapat mempengaruhi tingkat serangan. Semakin tinggi dosis pupuk N (Urea) yang diberikan maka serangan hama semakin tinggi pula. Hama putih palsu sangat menyukai tanaman yang subur daun yang lebih hijau mengakibatkan intensitas serangannya lebih tinggi. Demikian juga waktu tanam serempak dapat menekan serangan hama putih Adapun pertanaman lebih awal satu bulan dari jadwal mendapat serangan yang lebih tinggi. Pemanfaatan musuh alami hama. Musuh alami yang bertindak sebagai predator antara lain beberapa jenis semut pemangsa larva sedangkan yang menyerang telur antara lain beberapa jenis laba - laba (Arachnida). Aplikasi insektisida. Insektisida yang cukup efektif mengendalikan hama putih palsu adalah insektisida dari BPMC (misalnya Kiltop 50 EC). Selain itu insektisida mikroba Bacillus thuriugiensis juga cukup efektif mengendalikan hama tersebut dan kedua jenis insektisida ini dapat digunakan secara bersama karena keduanya berpengaruh terhadap kematian larva hama putih palsu. Pustaka: Dari berbagai sumber