Hama tanaman sering merusak bagian-bagian tanaman yang menyebabkan pertumbuhan terhambat, akibatnya kualitas produk rendah. Bahkan jika serangan hebat dapat menyebabkan tanaman mati sebelum berproduksi. Dari kedua akibat serangan hama tanaman tersebut, petani akan menderita kerugian. Hama yang sering menyerang tanaman Gladiol antara lain: trips, kutu putih, dan berbagai jenis ulat pemakan daun. 1. Trips (Taeniothrips simplex) Hama trips ini merupakan hama yang dapat menimbulkan kerusakan berat di kebun gladiol. Tanda serangan hama ini terlihat pada daun terdapat bercak-bercak berwarna keperakan. Seranggga menyerang dengan alat mulutnya, memarut jaringan daun atau bunga dan menghisap cairan yang keluar dari bagian tanaman. Bagian tanaman yang sudah terhisap diisi oleh udara yang menimbulkan warna keperakan jika terkena sinar matahari. Daun yang dipenuhi bercak-bercak akhirnya menjadi coklat dan mati. Seranga pada bunga menimbulkan bercak-bercak putih. Permukaan pangkal batang yang terserang hama trips menjadi seperti gabus, kasar, lengket, dan berwarna coklat. Serangga muda (nimfa) lebih suka makan pada bagian bunga. Awal pembentukan bunga biasanya masa yang paling kritis terjadinya infestasi hama. Trips juga menyerang subang di penyimpangan, mengakibatkan permukaan subang menjadi kering, kasar, dan bercak-bercak coklat kelabu. Kadang-kadang trips juga merusak tunas yang baru muncul dan akar-akar muda. Serangga dewasa berwarna coklat tua atau hitam berbentuk ramping dan pipih dengan panjang kira-kira 2,5 cm, 2 pasang sayap berbentuk sangat khas, memanjang dihiasi rambut-rambut agak panjang. Nimfa berwarna kuning pucat. Serangga ini akan berkembang baik pada suhu 27°C. Satu ekor betina mampu bertelur rata-rata 130 butir dan dapat hidup sampai 33 hari. Makin tinggi suhu lingkungan, makin cepat trips berkembang menjadi dewasa. Jika pertanaman gladiol tidak disiangi, biasanya tingkat populasi trips tinggi. Penggunaan subang bibit yang bebas hama dan penyiangan lahan gladiol dari berbagai jenis gulma dapat membantu menekan tingkat populasi trips. Penggunaan insektisida berbahan aktif asefat, dimetoat, endosulfat, formothion, karbaril, merkaptodimetur, dan metomil, pada saat yang tepat dengan dosis anjuran dapat membantu menekan perkembangan populasi trips. 2. Kutu Putih (Pseudococcus sp) Hama kutu putih ini banyak merusak subang gladiol di penyimpanan, tetapi kadang-kadang dijumpai pula pada subang di lapangan. Kutu berlilin putih biasanya berkumpul pada bagian pucuk atau bakal akar subang. Dengan mmenusukkan alat mulutnya yang halus, panjang dan tajam ke dalam jaringan subang, serangga menghisap cairan tanaman, mengakibatkan tunas atau akar terlambat pertumbuhannya, dan bahkan gagal tumbuh. Pada serangan berat subang menjadi keriput, kering, dan kemudian mati. Serangan betina dewasa berbentuk oval dan biasanya berkelompok. Panjang badan dapat mencapai 4 mm, pada bagian sisi tuubuhnya terdapat tonjolan-tonjolan meruncing dan berlilin. Tonjolan pada ekor dapat lebih panjang dari pada tubuhnya. Serangga betina mampu bertelur sampai 200 butir yang diletakkan secara berkelompok, biasanya dilapisi lilin putih. Nimfa merayap menjauhi kelompok telur untuk mencari tempat makan yang cocok. Serangga jantan membentuk kokon dan kira-kira 2 minggu kemudian menjadi serangga bersayap. Fungsi serangga jantan belum diketahui secara pasti, biasanya perkembangbiakan kutu putih dilakukan tanpa kawin (Partenogenesis). Serangga ini mengeluarkan embun madu, sehingga sering dikerumuni semut. Subang yang akan disimpan atau yang akan ditanam dipilih yang bebas dari hama kutu putih. Sebagai tindakan pencegahan dianjurkan untuk merendam subang dalam larutan insektisida selama 30-60 menit, kemudian dikeringanginkan. Insektisida yang dapat digunakan berbahan aktif asefat, diklorfos, dikrotofos, dimetoat, formothion, fomidon, karbaril, kuinalfos, melation, meditation, MIPC, monokrotofos, nikotin, dan triazofos. Sebaiknya gudang penyimpanan berventilasi baik. 3. Berbagai jenis ulat pemakan daun (larva Lepidoptera) Gejala serangan hama ini terlihat daun menjadi berlubang-lubang pada satu sisi permukaannya atau jaringan daun hilang sama sekali, ada kalanya ulat-ulat tersebut makan pada bagian bunga. Sebagai hama potensial, tingkat populasi hama pemakan daun perlu diwaspadai. Insektisida dapat digunakan apabila populasinya cenderung meningkat. Insektisida berbahan aktif Bacillus thuringiensis selain efektif untuk ulat pemakan daun, juga terbukti aman bagi musuh-musuh alami hama karena sifatnya yang spesifikn. Penulis : SUSILO ASTUTI H. (Penyuluh Pertanian, Pusluhtan) Sumber informasi: 1. Booklet Petunjuk Teknis, Budidaya Gladiol. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian. 2007. 2. Maryam dan Djatnika. Pengendalian Hama dan Penyakit Gladiol. Jakarta, Balai Penelitian Tanaman Hias dan Pengembangan Pertanian. 1995.