Artocarpus communis (sukun) adalah tumbuhan dari genus Artocarpus dalam famili Moraceae yang banyak terdapat di kawasan tropika seperti Malaysia dan Indonesia. Ketinggian tanaman ini bias mencapai 20 meter (Mustafa, A.M., 1998). Di pulau Jawa tanaman ini dijadikan tanaman budidaya oleh masyarakat. Buahnya terbentuk dari keseluruhan kelopak bunganya, berbentuk bulat atau sedikit bujur dan digunakan sebagai bahan makanan alternatif (Heyne K, 1987). Sukun bukan buah bermusim meskipun biasanya berbunga dan berbuah dua kali setahun. Kulit buahnya berwarna hijau kekuningan dan terdapat segmen-segmen petak berbentuk poligonal. Segmen poligonal ini dapat menentukan tahap kematangan buah sukun (Mustafa, A.M.,1998) Pohon sukun dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah seperti podsolik merah kuning, tanah berkapur dan rawa pasang surut. Sebenarnya di ketinggian manapun tanaman ini dapat tumbuh, maka yang diinginkan untuk tanaman baru adalah permukaan air tanah haruslah relatif dangkal, tetapi tidak tergenang. Sukun memang tidak berbiji, jadi pohon sukun hanya dapat diperbanyak secara vegetatif. Adapun caranya bisa memilih dengan setek akar, okulasi, cangkok, atau tunas akar. Tehnik okulasi dan cakok ini mempunyai kendala yaitu sumber atau pohon tidak banyak, cabang bergetah dan juga sulit mencakok cabang/ranting yang sudah tinggi. Oleh karenanya, bila dibutuhkan bibit dalam jumlah banyak, cara ini sulit dipenuhi. Pembibitan pohon sukun dengan cara setek akan merupakan alternatif utama yang dipakai para pembibit. Cara ini timbul karena secara alami akar sukun mampu menumbuhkan tunas sebagai tanaman baru. Berdasarkan hal tersebut muncul kesimpulan baru bahwa akar tanaman sukun di dalam media pembibitan dapat juga menumbuhkan tunas. Pohon sukun yang baru ditanam perlu disiram agar kelembaban dan kebutuhan airnya terjaga. Untuk mengantisipasi penyiraman, para petani biasanya melakukan penanaman diawal musim hujan, dengan demikian air hujan yang turun mampu mencukupi kebutuhan air untuk tanaman yang baru. Hama Keluang atau kelambit, dalam bahasa Jawa disebut " kalong ", adalah sebangsa klelawar besar, yang biasa terbang mencari makan di waktu senja dan malam hari. Hewan ini sangat menyukai buah-buahan. Keluang suka memakan buah sukun yang telah tua, karna rasanya agak manis. Gejala serangan keluang dapat diketahui dari sisa buah yang tidak utuh lagi tergantung di ranting pohon. Serangan keluang mengakibatkan buah cacat dan bahkan rusak sama sekali. Apabila serangan tidak berat, buah perlu segera diambil agar tidak busuk di pohon. Pencegahan serangan keluang dapat dikerjakan seperti upaya perlindungan terhadap buah jambu dan lain-lain, yaitu menghalau dengan bunyi-bunyian memakai alat seperti bambu yang dibelah, kaleng atau yang lain. Selain itu senapan angin dan jaring dapat dipakai untuk menangkap keluang. Keluang atau kelambit, dalam bahasa jawa disebut "Kalong" , adalah bangsa kelelawar besar yang biasa mencari makan diwaktu senja dan malam hari. Gejala serangan keluang dapat diketahui dengan sisa buah yang tidak utuh lagi tergantung diranting pohon. Selain itu dapat pula dilihat bekas kotoran yang bercecer dibawah pohon sukun atau didahan dan pohon sukun. Serangan keluang mengakibatkan buah cacat dan bahkan dapat rusak sama sekali. Apabila serangan tidak berat, buah perlu segera diambil agar tidak busuk dipohon. Pencegahan serangan keluang dapat dikerjakan seperti upaya perlindungan terhadap buah jambu dan lain-lain, yaitu menghalau dengan bunyi-bunyian memakai alat seperti bambu yang dibelah, kaleng atau yang lain. Senapan angin dapat pula digunakan untuk menembak keluang, namun tidak dianjurkan dapat merusak lingkungan satwa. Selain itu jaring pun dapat dimanfaatkan untuk menangkap keluang.( Agus Haryadi)