Pohon sukun merupakan salah satu jenis tanaman yang tepat untuk mengatasi masalah lahan kritis. Setelah diadakan penanaman pohon sukun di beberapa pulau di kepulauan Seribu ternyata cocok dan tumbuh dengan baik. Oleh karena itu pohon sukun tidak hanya berfungsi sebagai tanaman penghijauan saja, tetapi buahnya pun berguna untuk menambah gizi penduduk. Jadi dengan adanya usaha untuk menanggulangi lahan kritis, pohon sukun pun berpeluang besar untuk dikembangkan guna menunjang hal tersebut, karena manfaatnya yang begitu besar (Kartikawati dan Adinugraha, 2003). Kadang-kadang batang atau cabang tanaman sukun diserang oleh binatang yang disebut sebagai hama penggerek batang. Diduga penyebabnya adalah Xyleberus spesies, larvanya berupa kumbang kecil. Bubuk penggerek batang membuat lubang gerekan, dan menimbulkan bekas luka berwarna merah kecoklatan. Serangan pada batang pokok, biasanya belum banyak mengakibatkan kematian tanaman sukun. Pengendalian penggerek batang adalah dengan menggunakan insektisida sistemik. Bagian tanaman yang terserang dilubangi dan diberi insektisida menurut dosis yang dianjurkan, kemudian ditutup kembali dengan tanah atau sumbat. Cara ini sebaiknya dilaksanakan pada saat tanaman tidak sedang berbunga atau berbuah. Selain itu dapat dilakukan dengan pemangkasan cabang yang sakit untuk menstimulasi percabangan baru. Pemangkasan terbaik adalah menjelang musim penghujan. Hama Tanaman Sukun Penggerek Buah Buah sukun telah banyak dimanfaatkan sebagai bahan pangan. Ada yang memanfaatkanya sebagai makanan pokok tradisional, antara lain di Hawai, Tahiti, Fiji, Samoa, dan Kepulauan Sangir Talaut. Selain itu sukun dimanfaatkan pula sebagai makanan ringan. Cara pemanfaatannya, ada yang hanya direbus, diiris dan dibakar, dimasak seperti kentang, atau cara tradisional yang lain. Pada saat sekarang pemanfaatan sukun telah selangkah lebih maju, terutama di daerah penghasil sukun. Pemanfaatan sukun sebagai bahan pangan semakin penting, sejak pemerintah mulai melancarkan program diversifikasi pangan. Sukun mengandung karbohidrat dan gizi yang baik seperti halnya ubi, uwi, gembili, gadung, suweg dan lain-lain. Dengan demikian sukun mempunyai prospek yang cerah sebagai komoditas agroindustri di waktu mendatang. Hama Pada saat buah menjelang tua, sering dijumpai serangan hama penggerek buah. Gejala penggerek buah biasanya terlihat pada bagian atas atau bagian sisi buah dengan tanda-tanda lubang kehitam-hitaman. Serangga tersebut memasukkan telurnya ke permukaan kulit buah yang mulai menipis, dan agak kasar. Telur kemudian menetas menjadi ulat kecil yang terus berkembang menjadi dewasa. Ulat tersebut berkulit kekuning-kuningan, kepala kecoklat-coklatan, dan panjangnya mencapai lebih dari dua sentimeter. Sambil memakan daging buah, ulat membuat lubang, sehingga terjadi rongga bekas gerekan melingkar-lingkar masuk ke dalam daging buah. Biasanya sebagian rongga masih dipenuhi dengan kotoran dari bekas daging buah yang dimakan. Rongga aru berwarna putih, sedangkan rongga lama berwarna kehitam-hitaman. Kerugian dari buah yang terserang hama ini adalah bahwa penampilannya tidak menarik karena adanya luka-luka hitam pada kulitnya, dan daging buahnya rusak. Selain itu nilai ekonominya menjadi kurang karena tidak laku dijual. Cara pengendalian hama tersebut belum banyak dilakukan oleh para pemilik sukun. Di daerah yang telah maju, upaya pencegahan terhadap penggerek buah ditempuh dengan cara pembungkusan tiap-tiap buah sukun sejak masih muda di pohon Pada buah menjelang tua, sering dijumpai hama tanaman pengerek buah. Gejala penggerek buah biasanya terlihat pada bagian atas atau bagian sisi buah dengan tanda-tanda lubang kehitam-hitaman. Serangan tersebut memasukkan telurnya kepermukaan buah yang mulai menipis, dan agak kasar. Telur kemudian menetas menjadi ulat kecil yang terus berkembang menjadi dewasa. Ulat tersebut berkulit kekuning-kuningan, kepala kecoklat-coklatan, dan panjangnya mencapai lebih dari dua centimeter. Apabila serangan pengerek buah terjadi lebih awal, maka buah sukun dapat terganggu pertumbuhannya, bahkan sering gugur. Namun apabila serangan terjadi pada buah sukun menjelang tua, serangan tersebut tidak berakibat parah, karna biasanya, kerusakan hanya terjadi dibagian luar daging buah. Cara pengendalan hama tersebut belum banyak dilakukan oleh para pemilik pohon sukun. Didaerah yang telah maju, upaya pencegahan terhadap pengerek buah ditempuh dengan cara pembungkusan tiap-tiap buah sukun sejak masih muda dipohon. Pengendalian penggerek buah dengan menggunakan insektisida tidak dianjurkan, karena residu insektisida tersebut dapat membahayakan konsumen. Tanaman sukun dapat digolongkan menjadi sukun yang berbiji disebut breadnut dan yang tanpa biji disebut breadfruit. Sukun tergolong tanaman tropik sejati, tumbuh paling baik di dataran rendah yang panas. Tanaman ini tumbuh baik di daerah basah, tetapi juga dapat tumbuh di daerah yang sangat kering asalkan ada air tanah dan aerasi tanah yang cukup. Sukun bahkan dapat tumbuh baik di pulau karang dan di pantai. Di musim kering, disaat tanaman lain tidak dapat atau merosot produksinya, justru sukun dapat tumbuh dan berbuah dengan lebat. Tidak heran, jika sukun dijadikan sebagai salah satu cadangan pangan nasional. Sukun dapat dijadikan sebagai pangan alternatif karena keberadaannya tidak seiring dengan pangan konvensional (beras), artinya keberadaan pangan ini dapat menutupi kekosongan produksi pangan konvensional (Pitojo, 1999). Di Indonesia, daerah penyebaran hampir merata di seluruh daerah, terutama Jawa Tengah dan Jawa Timur. Mengingat penyebaran sukun terdapat di sebagian besar kepulauan Indonesia, serta jarang terserang hama dan penyakit yang membahayakan, maka hal ini memungkinkan sukun untuk dikembangkan. Pohon sukun mulai berbuah setelah berumur lima sampai tujuh tahun dan akan terus berbunga hingga umur 50 tahun. Produktivitasnya cukup tinggi. Dalam satu tahun akan diperoleh buah sukun sebanyak 400 buah pada umur 5 sampai 6 tahun, dan 700 - 800 buah per tahun pada umur 8 tahun. Tanda-tanda kerusakan yang terjadi pada kayu disebabkan karena faktor-faktor perusak dapat terlihat dari adanya cacat-cacat berupa lobang gerek (bore holes), pewarnaan (staining), pelapukan (decay), rekahan (brittles), pelembekan (softing), dan lain-lain perubahan yang semuanya merupakan penurunan kualitas dan bahkan kuantitas karena ada juga yang benar-benar memakan habis kayu. Setiap tanda-tanda kerusakan yang terlihat merupakan gejala spesifik dari salah satu faktor penyebab. Sedangkan adanya tanda serangan itu sendiri sekaligus merupakan kriteria bahwa kayu atau hasil hutan yang bersangkutan telah terserang hama, penyakit atau penyebab lainnya.(Agus Haryadi)