Trips merupakan hama penting yang menyerang tanaman komersil. Serangan trips pada tanaman sayuran dan tanaman lainnya cukup tinggi. Kerusakan akibat serangan trips akan semakin besar jika diikuti oleh serangan virus yang terbawa oleh trips. Siklus hidup thrips terdiri atas empat fase, yaitu telur, fase larva dan nimfa, fase prspupa dan pupa, dan imago dewasa. Satu siklus bisa memakan waktu satu bulan, namun bervariasi tergantung pada temperatur dan spesiesnya. Telur trips berbentuk oval dan berukuran kecil sehingga tidak terlihat dengan mata telanjang. Telur akan menetas sekitar 3 sampai 7 hari setelah peletakan oleh imago betina. Biasanya trips meletakkan telur di bawah daun secara terpisah. Telur yang belum menetas, tidak hanya berada dibawah daun, melainkan banyak bersembunyi di dalam tanah di sekitar pertanaman. Larva yang baru menetas segera memakan jaringan tanaman. Nimfa Mereka sangat mobile dan sering berpindah ke bagian lain dari tanaman. Serangan trips menyebabkan daun yang terserang berwarna keperak-perakkan atau kekuning-kuningan seperti perunggu pada permukaan bawah daun dan menyebabkan gangguan fisiologi pada daun. Daun menjadi berkerut karena cairan sel dihisap. Serangan berat dapat mengakibatkan semua daun mongering dan lama-kelamaan daun menjadi mati. Gejala pada bunga berupa bintik-bintik putih atau kadang berupa bercak berwarna merah yang muncul juga dipermukaan daun. Kondisi serangan langsung pada daun, bunga, dan buah disebabkan karena trips menghisap isi sel bagian-bagian tanaman tadi lebih berbahaya pada saat musim kering karena tanaman menjadi lebih cepat kehilangan kelembaban. Mengingat sedemikian berbahayanya hama tersebut maka Kepala BPP banjar Agung memutuskan untuk melakukan kegiatan penyuluhan tentang pengendalian hama Thrips tersebut. Bekerja sama dalam tim, kami melakukan penyuluhan ke kelompok-kelompok tani di kecamatan Banjar Agung khususnya ke petani hortikultura yang sangat merasakan dampak kerugian dari hama Thrips ini. Pengendalian hama tersebut dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu, dengan cara Mekanis, biologi, dan kimia. Pengendalian secara mekanis ini meliputi: Memasang perangkap perekat misalnya dengan menggunakan Insect Adhesif Trap Paper (IATP) berwarna kuning, Melakukan pembersihan manual menggunakan kuas dan larutan air sabun. Hal ini hanya dilakukan untuk tanaman buah dalam pot (tambulampot) dan tanaman hias, tidak efektif dan efisien untuk diaplikasikan di kebun,Menyediakan kondisi pertumbuhan yang baik bagi tanaman untuk memastikan pertumbuhan yang cepat. Stres lingkungan yang melemahkan tanaman membuat mereka lebih rentan terhadap serangan thrips. Pengendalian secara biologi dengan menggunakan predator dan parasit, sedangkan pengendalian secara kimia secara umum ialah menggunakan insektisida baik yang sintetis maupun organik. Penyemprotan insektisida kimia secara bijaksana dan aplikasi yang tepat, seperti: Noozle diatur sedemikian rupa agar larutan insektisida keluar dalam bentuk kabut (fogging), sehingga partikel larutan dapat masuk ke sela-sela bagian tanaman (tempat bersembunyi thrips) secara merata, Penyemprotan insektisida dilakukan pada pagi dan/atau sore hari ketika thrips masih berkeliaran di permukaan tanaman dan dikonsentrasikan pada bagian permukaan bawah daun, tunas, bunga, dan pucuk tanaman. (Tim BPP Banjar Agung)