Ulat grayak (Spodoptera frugiperda) adalah hama asli daerah tropis dari Amerika Serikat hingga Argentina. Ulat grayak/FAW (FALL ARMYWORM) dapat menyerang lebih dari 80 spesies tanaman, termasuk jagung, padi, tebu, sayuran, dan kapas. FAW dapat mengakibatkan kehilangan hasil yang signifikan apabila tidak ditangani dengan baik. Di Indonesia sendiri hama ulat grayak telah ditemukan pada beberapa lokasi pertanaman jagung di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Lampung dan Sumatera Selatan.
Telur diletakkan berkelompok di bawah atau atas permukaan daun, awalnya berwarna putih bening atau hijau pucat, hari berikutnya berubah menjadi hijau kecoklatan, dan berwarna cokelat saat akan menetas
Larva atau Ulat terdiri dari 6 stadia instar, ulat instar 1-5 berwarna pucat, kemudian berwarna cokelat hingga hijau muda dan berubah menjadi lebih gelap pada tahap perkembangan akhir, lama stadia ulat sekitar 12-20 hari. Ulat instar akhir (stadia 6) atau instar 3 adalah stadia ulat yang paling mudah diidentifikasi. Terlihat empat titik hitam yang membentuk persegi di segmen kedua terakhir (segmen ke-8 abdomen) tubuhnya. Kepala berwarna gelap; terdapat bentukan huruf Y terbalik berwarna lebih terang di bagian depan kepala.
Pupa atau Kepompong berwarna cokelat gelap biasanya berada di permukaan tanah, masa berpupa berlangsung selama 12-14 hari sebelum tahap dewasa muncul.
Imago atau Ngengat, memiiki bentangan sayap selebar 3-4 cm, sayap bagian depan berwarna cokelat gelap, sedangkan sayap belakang berwarna putih keabuan.Ngengat hidup 2-3 minggu Sebelum mati. Ngengat betina dalam satu siklus hidupnya mampu bertelur hingga 1000 telur
Gejala serangan Ulat FAW
• Adanya bekas gerekan dari ulat
• Pada permukaan atas daun atau disekitar pucuk tanaman jagung, ditemukan serbuk kasar seperti serbuk gergaji.
• Ketika populasi ulat FAW ini sangat tinggi, maka bagian tongkol jagung juga akan diserang oleh hama ini.
• Rotasi tanaman untuk memutus daur hidup hama.
• Pengolahan tanah yang baik (selama 1 bulan) untuk mengangkat kepompong hama dari dalam
tanah agar mati terjemur oleh sinar matahari
• Pemasangan perangkap berferomon, feromon Exi sebanyak 20 buah per hektar
• Pemasangan lampu perangkap sebanyak 30 buah per hektar
• Penyemprotan insektisida jika kerusakan daun telah mencapai 5%
• Penyemprotan insektisida jika populasi kelompok telur telah mencapai 1 kelompok atau 10
tanaman
• Penyemprotan insektisida jika tangkapan ngengat oleh Feromon Exi telah mencapai 30
ngengat/ 3 malam.
• Aplikasi insektisida sebaiknya juga dilakukan pada malam hari, atau sore hari setelah matahari
tenggelam, mengingat ulat FAW merupakan hewan yang aktif pada malam hari