Loading...

HAMA YANG SERING MERUSAK ANGGREK PAHALAENOPSIS DAN UPAYA PENGENDALIANNYA

HAMA YANG SERING MERUSAK  ANGGREK PAHALAENOPSIS  DAN UPAYA PENGENDALIANNYA
Anggrek, merupakan salah satu tanaman hias yang kini banyak dikembangkan secara komersial. Berkembangnya usaha tanaman hias tersebut berkaitan erat dengan meningkatnya pendapatan konsumen, tuntutan keindahan lingkungan, pembangunan industri pariwisata, pembangunan kompleks perumahan, perhotelan dan perkantoran. Tidak ada petani, pencinta dan pengusaha anggrek yang bunga anggrek nan cantik itu layu atau bahkan mati. Sedikit terlihat bercak pada kelopaknya pun pasti akan membuat pemiliknya sedih. Untuk itu, petani,pencinta, pengusaha anggrek perlu lebih mengenal hama yang mungkin menyerang anggrek tercintanya sehingga dapat mengatasinya jika hama menyerang anggreknya Hama Yang Sering Menyerang 1. Kumbang Gajah (Orchidophilus aterrimus Wat) Kumbang berwarna hitam kotor/tidak mengkilap dengan ukuran 3,5-7 mm. Kumbang, mulai dari fase larva, pupa sampai dewasa berlangsung dalam umbi semu. Tanaman inang kumbang adalah anggrek epifit seperti Arachnis sp., Coelogyne sp., Dendrobium sp., Cymbidyum sp., Paphiopedilum sp., Renanthera sp., dan Vanda sp. Sebagai tanda bahwa anggrek diserang Kumbang Gajah, daun nampak berlubang-lubang karena larvanya menggerek daun tersebut. Larva juga menggerek batang semu dan pucuk untuk membentuk kepompong. Selain itu, larva juga memakan jaringan di bagian dalam batang sehingga mengakibatkan aliran air ke daun muda, jaringan/tangkai bunga dan pucuk/kuntum sehingga dapat mematikan bagian tanaman yang diserang tersebut. Sedang kumbang dewasa memakan epidermis/permukaan daun muda, jaringan/tangkai bunga dan pucuk/kuntum sehingga bagian tanaman tersebut menjadi rusak. Kumbang bertelur pada daun atau lubang batang tanaman. 2. Tungau Merah (Tenulpalpus pacuficus Baker) Sesuai dengan namanya, tungau berwarna merah dan ukurannya sangat kecil, yaitu kira-kira 0,1 mm yang mudah ditemukan di permukaan bawah daun. Serangannya dilakukan dengan cara menusukkan alat mulutnya ke jaringan tanaman dan mengisap cairannya. Tungau sangat cepat berkembang biak sehingga dalam waktu singkat dapat menyebabkan kerusakkan tanaman secara mendadak. Selain menyerang anggrek Phalaenopsis, tanaman inang lain adalah anggrek jenis Dendrobium sp., Vanda sp. Juga jenis tanaman lain seperti kapas, kacang-kacangan, jeruk dan gulma, terutama dari golongan dikotil. Gejala serangan Tungau Merah dapat dilihat pada tangkai dan daunnya.Jika mernyerang tangkainya, tangkai yang diserang akan berwarna seperti perunggu. Bila menyerang daunnya, pada permukaan atas daun terdapat titik/bercak berwarna kuning atau coklat, kemudian meluas sehingga seluruh daun menjadi kuning. Sedang di bagian bawah daun berwarna putih perak dan bagian atas berwarna kuning semu. Pada serangan yang lebih lanjut/parah, daun akan berwarna cokelat dan berubah menjadi hitam, kemudian gugur.Meski hama dapat menyerang pada musim penghujan maupun musim kemarau, tetapi umumnya serangannya akan meningkat pada musim kemarau. Oleh karena itu, pada musim kemarau kita harus lebih waspada terhadap serangan Tungau Merah. 3. Siput Setengah Telanjang (Parmarion sp.) Warna siput coklat kekuningan atau coklat keabuan dengan panjang kira-kira 5 cm. Siput memiliki cangkang kecil dan sedikit menonjol. Pada siang hari, siput bersemunyi di tempat yang teduh dan aktif mencari makan pada malam hari. Sebagai tanaman inangnya, selain menyerang tanaman anggrek, siput ini juga suka menyerang tanaman lain seperti kol, sawi, tomat, kentang, tembakau, karet dan ubi jalar. Untuk mengetahui adanya serangan siput tersebut, tandanya antara lain daun yang diserang nampak adanya lubang-lubang tidak beraturan sebagai akibat siput memakan daun tersebut. Seringkali diikuti adanya kotoran bekas lendir yang mengkilat. Selain menyerang daun, siput juga suka merusak akar dan tunas anakan. Hama ini seringkali merusak tanaman di pesemaian atau tanaman yang baru saja tumbuh. Siput suka juga makan bahan organik yang telah membusuk atau tanaman yang masih hidup. 4. Bekicot (Achatina fulica Wbowdich) Bekicot dewasa mempunyai cangkang dengan ukuran panjang 10-13 cm. Pada siang hari, binatang tersebut bersembunyi di tempat yang terlindung. Telur-telurnya diletakkan di bawah batu, tanaman atau dalam tanah yang gembur dan akan menetas dalam waktu 10-14 hari. Selain meyerang anggrek, bekicot suka juga menyerang bunga bakung, dahlia, pepaya dan tomat. Tanaman yang diserangnya, nampak terpotong-potong tidak beraturan. Binatang ini bisa merusak seluruh bagian tanaman dengan memakan daun dan bagian tanaman lain. Juga suka makan tanaman yang sudah mati. 5. Siput Semak( Bradybaena similaris) Siput dewasa ukurannya sekitar 10-12 mm dengan diameter 14-18 mm dan mempunyai 5-6 alur-alur lingkaran, solid, buram dan berwarna coklat kemerahan atau hijau kekuningan. Di sekeliling bagian luarnya, kadang-kadang mempunyai strip coklat kemerahan. Binatang ini senangnya berada diantara media tumbuh anggrek tersebut. Pada malam hari, siput naik ke atas dan menyerang bagian daun. Serangan berat umumnya terjadi pada musim hujan. Selain menyerang anggrek, tanaman lain yang merupakan tanaman inang siput tersebut adalah bunga bakung, dahlia, pepaya dan tomat. Upaya Pengendaliannya Secara garis besarnya upaya untuk mengendalikan hama-hama tersebut dilakukan dengan cara fisis, mekanis, kutur teknis, dan kimawi. Pengendalian secara fisis, media tumbuh yang akan digunakan untuk menanam anggrek disucihamakan dengan uap air panas agar tanaman dapat bebas dari serangan hama. Pot atau wadah lainnya ataupun peralatan yang digunakan disucihamakan, misalnya dengan formalin 2% atau desinfektan laiinya. Pengedalian secara mekanis dilakukan bilamana serangga hama dijumpai dalam jumlah terbatas. Misalnya, kumbang gajah dapat dijepit dengan jari tangan, kemudian dimatikan. Bekicot atau siput dengan mudah dapat ditangkap pada malam hari, kemudian dimatikan. Segala sampah dan gulma yang ada di pertanaman dibersihkan sehingga tidak menjadi sarang dan bersembunyinya hama. Adapun pengendalian cara kultur teknis, tanaman dipelihara dengan baik dan benar sehingga tanaman bisa tumbuh subur dan kuat yang akhirnya lebih tahan terhadap serangan hama. Untuk itu, tanaman disiram, dipupuk dan diganti medianya secara teratur untuk memberi kesempatan tanaman dapat tumbuh secara optimal. Pertanaman dijauhkan dari tanaman inang hama tersebut. Sedang jika dilakukan dengan cara kimiawi , gunakan pestisida yang sudah terdaftar dan diizinkan oleh Menteri Pertanian yang cocok untuk mengendalikan jenis hama tersebut. Cara menggunakannya sesuai aturan yang tertera pada label pembungkusnya. Penggunaan pestisida sebaiknya dilakukan pada pagi hari dan tidak pada waktu hujan dengan menggunakan alat pelindung/masker. Bekas wadah atau tempat pestisida yang baru digunakan harus dimusnahkan, misalnya dimasukkan ke dalam lubang tanah yang jauh dari pertanaman anggrek Disarikan oleh : Lasarus, Pusluhtan Sumber : 1.Profil Komoditas Tamanan Hias (Anggrtek, Krisan, Dracaena, Palem). Direktorat Budidaya Tanaman Hias, Direktorat Jenderal Hortikultura, Departemen Pertanian, Jakarta, 2005 2.Standar Operasional Prosedur (SOP) Budidaya dan Pasca Panen Anggrek Phalaenopsis. Direktorat Budidaya dan Pascapanen Florikultura, Direktorat Jenderal Hortikultura, Kemeterian Pertanian, 2011.