Loading...

Harga Singkong di Lampung: Kebijakan Harga Pemerintah dan Dinamika Pasar

Harga Singkong di Lampung: Kebijakan Harga Pemerintah dan Dinamika Pasar

Harga Singkong di Lampung: Kebijakan Harga Pemerintah dan Dinamika Pasar

 

Lampung menjadi daerah penghasil singkong terbesar di Indonesia. Namun, anjloknya harga singkong menjadi persoalan yang terus berulang. Apa saja sebenarnya masalah utama dalam tata niaga singkong dan bagaimana langkah konkret yang harus segera dilakukan oleh pemerintah? Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Kementerian Pertanian mencatat, produksi ubi kayu atau singkong di Lampung pada tahun 2022 mencapai 5,9 juta ton. Lampung menjadi provinsi penghasil singkong terbesar di Indonesia dan menyumbang sekitar 39,74 persen dari total produksi singkong secara nasional yang tercatat 14,9 juta ton.

Produksi singkong di Lampung pada 2022 juga meningkat jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pada 2021, produksi singkong di Lampung mencapai 5,6 juta ton. Data ini menunjukkan melimpahnya bahan baku singkong di Lampung untuk kebutuhan pangan. Namun, harga singkong di Lampung berkali-kali anjlok hingga memicu gelombang unjuk rasa petani singkong. Sejumlah pabrik tapioka di Lampung tutup (Kompas).

Harga singkong di Provinsi Lampung, salah satu sentra produksi singkong terbesar di Indonesia, kini berada di bawah ketetapan pemerintah sebesar Rp1.350 per kilogram. Kebijakan yang mulai berlaku sejak September 2025 ini menjadi angin segar bagi para petani yang sebelumnya kerap dihadapkan pada fluktuasi harga yang merugikan. Meskipun demikian, dinamika di lapangan menunjukkan bahwa perjalanan menuju stabilisasi harga masih diwarnai oleh berbagai tantangan.

Penetapan harga ini merupakan hasil dari serangkaian dialog dan desakan dari para petani singkong di Lampung yang selama ini merasa dirugikan oleh permainan harga di tingkat pabrik tapioka. Sebelumnya, harga singkong di tingkat petani sempat anjlok, jauh di bawah biaya produksi. Aksi unjuk rasa pun kerap dilakukan untuk menuntut keadilan harga dan intervensi dari pemerintah.

Menanggapi aspirasi tersebut, Pemerintah Provinsi Lampung bersama dengan pemerintah pusat akhirnya menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk singkong. Keputusan ini disambut baik oleh para petani yang berharap dapat memperoleh kepastian dan keuntungan yang layak dari hasil panen mereka.

Meskipun telah ada ketetapan harga resmi, implementasi di lapangan tidak selalu berjalan mulus. Pada awal pemberlakuan kebijakan ini, sejumlah pabrik tapioka sempat menunjukkan resistensi dengan alasan penyesuaian mekanisme pasar. Salah satu poin yang menjadi perdebatan adalah mengenai potongan kualitas atau yang dikenal dengan istilah "rafaksi".

Pemerintah menetapkan batas maksimal rafaksi, namun praktik di lapangan terkadang masih merugikan petani. Besaran potongan yang tidak transparan dan dianggap terlalu tinggi menjadi keluhan utama para petani. Hal ini menunjukkan bahwa pengawasan terhadap implementasi kebijakan harga menjadi krusial untuk memastikan tujuan mulia dari regulasi ini benar-benar tercapai.

 

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Harga

Selain dinamika antara petani dan pengusaha, terdapat beberapa faktor lain yang turut mempengaruhi harga singkong di Lampung, di antaranya:

 

1)    Kebijakan Impor: Kebijakan pemerintah terkait impor tepung tapioka memiliki dampak signifikan terhadap harga singkong lokal. Pembatasan impor diharapkan dapat melindungi petani domestik dan menjaga stabilitas harga di dalam negeri.

2)    Musim Panen: Pada saat panen raya, pasokan singkong yang melimpah seringkali menekan harga jual di tingkat petani.

3)    Kualitas Hasil Panen: Kadar pati dan kualitas fisik singkong menjadi salah satu penentu harga di tingkat pabrik. Hal ini yang mendasari adanya mekanisme rafaksi.

4)    Biaya Produksi: Kenaikan harga pupuk, obat-obatan, dan biaya tenaga kerja juga menjadi pertimbangan petani dalam menentukan harga jual yang ideal.

 

Pemerintah Provinsi Lampung terus berupaya untuk menjembatani kepentingan antara petani dan pengusaha. Dialog dan mediasi secara berkala dilakukan untuk mencari solusi atas berbagai persoalan yang muncul. Selain itu, upaya peningkatan produktivitas dan kualitas hasil panen singkong petani juga terus digalakkan melalui program-program penyuluhan dan bantuan teknis.

 

Stabilitas harga singkong di Lampung tidak hanya penting bagi kesejahteraan petani, tetapi juga bagi keberlangsungan industri tapioka di daerah tersebut. Dengan adanya kepastian harga, diharapkan gairah petani untuk menanam singkong tetap terjaga, sehingga pasokan bahan baku untuk industri dapat terus terpenuhi.

  

Andreas Suryanto S.P, BPP Kotabumi Selatan Lampung Utara/Sumber : Badan Litbang Pertanian