Loading...

HARUMNYA TANAMAN SERAIWANGI

HARUMNYA TANAMAN SERAIWANGI
Sektor pertanian terus berupaya meningkatkan ekspor dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Salah satu komoditas pertanian yang memiliki potensi menghasilkan produk yang dapat diekspor dan sedang digalakkan pengembangannya saat ini adalah tanaman seraiwangi. Seraiwangi (Cymbopogon nardus L) yang merupakan tanaman dari famili rumput-rumputan (Graminae) adalah salah satu penghasil minyak atsiri yang memiliki nilai ekonomi, khasiat dan beragam kegunaan. Minyak atsiri memiliki permintaan pasar yang tinggi, baik di dalam maupun di luar negeri. Nilai ekonomi minyak atsiri, termasuk minyak seraiwangi sangat tinggi. Harga daun seraiwangi dan minyak seraiwangi terus meningkat, bahkan dalam sepuluh tahun terakhir hingga 100%. Di pasar internasional, minyak seraiwangi Indonesia dikenal dengan sebutan “Java citronella oil”. Minyak tersebut mengandung senyawa sitronellal, geraniol, sitronellol, geranil asetat dan sitronellal asetat yang berfungsi sebagai oksidan dan fitokimia. Agar bisa diekspor, minyak seraiwangi harus memenuhi persyaratan yaitu memiliki kandungan sitronellal dan geraniol yang tinggi. Minyak yang tidak dapat memenuhi persyaratan ekspor, kemudian dijual di pasar dalam negeri. Citronella oil memiliki sifat antiseptik, antimikroba dan anti jamur. Oleh karena itu, industri kesehatan dan kecantikan menjadikan minyak seraiwangi sebagai bahan utama untuk pembuatan beragam produk obat-obatan, aromaterapi, pastagigi, sabun, parfum, dan produk kosmetika lainnya. Tidak hanya itu, minyak seraiwangi juga dapat digunakan sebagai bahan aktif pembuatan krim anti nyamuk, pestisida nabati, dan bahkan bisa sebagai bahan baku bioaditif penghemat bahan bakar minyak (BBM). Tanaman seraiwangi dapat tumbuh di berbagai tipe tanah, di dataran rendah dan tinggi, namun ketinggian optimum adalah 250 m dpl. Tanaman seraiwangi tumbuh lambat di musim kemarau. Keberadaan tanaman pelindung yang terlalu rimbun berpengaruh kurang baik terhadap produksi daun dan kadar minyak. Pada dasarnya, tanaman seraiwangi memerlukan iklim yang lembab, namun juga perlu sinar matahari yang cukup. Tanaman seraiwangi memiliki akar serabut yang kuat sehingga bisa dimanfaatkan untuk konservasi, seperti di lahan miring, dan bahkan untuk tanaman perintis di lahan eks pertambangan. Tanamannya yang tidak tinggi membuat tanaman seraiwangi juga dapat digunakan sebagai tanaman sela di lahan perkebunan dan kehutanan, sehingga menjadi salah satu alternatif tambahan pendapatan bagi pekebun dan masyarakat sekitar hutan. Melihat begitu besar potensi ekonomi dan manfaat yang dimiliki seraiwangi, Kementerian Pertanian mendorong pengembangan tanaman seraiwangi di Indonesia. Saat ini, tanaman seraiwangi dapat dijumpai di hampir seluruh Provinsi di Indonesia. Tanaman serai wangi mudah dibudidayakan dan tidak menuntut perlakuan khusus sehingga bagi masyarakat yang berminat mengembangkannya maka budidaya seraiwangi menjadi peluang usaha yang menjanjikan. Budidaya Seraiwangi Tanaman seraiwangi merupakan tanaman berumpun dan memiliki daun pipih memanjang menyerupai alang-alang. Dibanding serai biasa, tanaman serai wangi membentuk rumpun yang lebih besar dengan jumlah batang lebih banyak, warna batang hijau dan merah keunguan, serta bentuk daun yang lebih lebar dan warna hijau yang lebih tua. Apabila daun diremas, seraiwangi memberikan aroma yang lebih tajam dibanding serai biasa. Sebelum melakukan penanaman, buat bedeng untuk persemaian bibit tanaman. Perbanyakan tanaman seraiwangi lebih baik dengan anakan, daripada biji yang memiliki tingkat hidup rendah. Caranya, pilih tanaman induk yang sehat minimal umur 1 tahun dan pilih bonggol yang cukup besar (berisi 4-6 tunas). Tunas dipisah-pisahkan dan potong akar yang terlalu panjang. Bibit ditempatkan di bedeng persemaian. Kebutuhan bibit adalah 30.000 – 40.000 stek per hektar. Pada lahan yang sudah siap, buat lubang tanam ukuran 30 x 30 x 30 cm, dengan jarak tanam 100 x 100 cm (tanah subur), dan 75 x 75 cm (tanah kurang subur). Pada lahan yang miring, dibuat terasering. Lubang tanam diberi pupuk kandang sebanyak 0,2-0,3 kg per lubang, dibiarkan terbuka 2 minggu agar dapat sinar matahari. Setelah bibit siap, penanaman dapat dimulai. Sebaiknya dilakukan di sore hari, diawal atau diakhir musim hujan. Bibit tumbuh lebih cepat bila ditanam di musim hujan. Masukkan 1 bibit (batang bibit besar) atau 2 bibit (batang bibit kecil) di setiap lubang, kemudian ditimbun dan diratakan dengan tanah bekas galian lubang. Apabila ada bibit yang layu/mati atau tumbuh tidak sempurna, segera lakukan penyulaman. Penyiangan dilakukan secara kontinyu, terutama setiap selesai panen, serta diawal dan di akhir musim hujan. Perhatikan drainase lahan karena tanaman seraiwangi tidak tahan genangan. Tanaman serai wangi sangat memerlukan pupuk. Pemupukan dilakukan berkala, tahap pertama pada umur 1, 6 dan 9 bulan; kemudian tahap kedua pada umur 12 bulan, di tahun ketiga dan di tahun keempat. Dosis pupuk per hektar adalah 150-300 kg urea, 25-50 kg TSP dan 125-250 kg KCl. Pupuk dimasukkan dalam lubang secara melingkar sedalam 10 cm, kemudian ditutup dengan tanah. Apabila daun seraiwangi sudah memperlihatkan titik-titik minyak, maka tiba waktunya panen. Bagian bawah daun apabila ditekuk memperlihatkan minyak keluar dari pori-pori daun. Saat tanaman berumur 7-8 bulan, bisa dilakukan panen pertama. Panen kedua saat tanaman berumur 10-12 bulan (1 tahun). Tanaman memasuki umur produktif pada tahun kedua, sehingga bisa dipanen setiap 3-4 bulan sekali. Waktu panen sebaiknya pagi hari atau sore hari. Daun dipotong menggunakan sabit dengan jarak 3-5 cm di atas pangkal daun. Daun seraiwangi hasil panen segera disuling agar minyak tidak hilang karena menguap. Daun dirajang dengan panjang sekitar 10-15 cm dan dimasukkan ke ketel suling. Satu ketel suling (volume 3000 liter) bisa memuat 800-1000 kg daun rajangan. Masa produksi tanaman seraiwangi sampai umur 4 tahun. Agar lahan seraiwangi terus berproduksi, perlu dilakukan peremajaan. Di akhir tahun ketiga, bibit baru ditanam di sela atau dibagian tengah tanaman lama. Menjelang akhir tahun keempat, tanaman baru berumur 1 tahun, dan tanaman lama bisa dibongkar (Suroso, 2018). Kendala Pengembangan Seraiwangi Saat ini, budidaya tanaman seraiwangi masih banyak dilakukan secara tradisional. Petani umumnya belum menggunakan bibit unggul. Minyak yang dihasilkan umumnya memiliki kualitas rendah dengan kandungan sitronellal maksimal 27% dan geraniol maksimal 82% (standar ekspor SNI 06-3953-1995: sitronellal minimal 35% dan geraniol minimal 85%). Sebagaimana usahatani lain yang sangat terkait dengan industri, pengembangan seraiwangi juga terkendala permodalan. Diperlukan modal awal yang relatif besar karena usatani seraiwangi tidak bisa berdiri sendiri tanpa industri penyulingan. Pertanaman Seraiwangi Pengembangan seraiwangi dapat dilakukan secara monokultur atau pertanaman campuran (Sujianto, et al., 2019). Penanaman secara monokultur bisa dilakukan bagi daerah yang memiliki ketersediaan lahan yang cukup luas. Pertanaman seraiwangi dapat juga dibudidayakan secara campuran, baik sebagai tanaman pokok maupun tanaman sekunder. Tanaman seraiwangi dapat dibudidayakan bersama-sama dengan tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, tanaman hutan, dan bahkan ternak. Kotoran ternak berguna sebagai pupuk kendang, sementara limbah budidaya seraiwangi bisa sebagai hijauan pakan. Apabila dibudidayakan bersama ternak, maka tidak bisa menggunakan pupuk dan pestisida kimia. Mengingat tanaman seraiwangi sangat membutuhkan industri untuk pengolahannya menjadi minyak atsiri, maka perlu diupayakan kemitraan yang jelas antara petani dan industri penyulingan. Satu mesin penyulingan diperkirakan membutuhkan sekitar 15 – 20 ha lahan pertanaman seraiwangi (Sukamto, et al., 2011). Dengan perhitungan rata-rata kepemilikan lahan tegalan secara nasional 0,7 ha per petani (BPS, 2014), maka kemitraan petani seraiwangi dan industri memerlukan sekitar 20-30 orang petani. Melalui kemitraan petani seraiwangi dan industri penyulingan, diharapkan dapat menyelesaikan persoalan seperti ketersediaan lahan, teknis budidaya, permodalan, bahan baku dan lokasi penyulingan, ketersediaan air, dan pemasaran. Diperlukan perencanaan yang menyeluruh mulai dari hulu sampai hilir apabila ingin mengembangkan agroindutri seraiwangi. Ricky Feryadi Penyuluh Pertanian Pusat