Loading...

HASIL-HASIL PENELITIAN BIO-PESTISIDA UNTUK JAGUNG

HASIL-HASIL PENELITIAN BIO-PESTISIDA UNTUK JAGUNG
Penggunaan pestisida kimia ibaratnya pisau bermata dua. Jika ditinggalkan menyebabkan malapetaka kelaparan dan bilamana dipakai juga menimbulkan kerusakan lingkungan, masalah keracunan, dan menyebabkan banyak penyakit pada manusia. Tujuan yang semula untuk meningkatkan produktivitas, justru menjadi bumerang bagi kehidupan manusia. Pada tahun 1999, ada sebuah laporan yang menyatakan bahwa setiap tahunnya sebanyak 25 juta pekerja di bidang pertanian di seluruh dunia meninggal akibat keracunan pestisida. Selain berdampak pada kerusakan lingkungan, residu pestisida juga berbahaya bagi kesehatan, baik dalam jangka panjang maupun jangka pendek. Di sisi lain dampak penggunaan pestisida kimia sintetik akan lebih mengarah pada pengrusakan sumber daya alam, timbulnya pencemaran air, tanah, udara dan tanaman, bahaya keracunan, munculnya biotipe-biotipe hama baru yang resisten serta matinya beberapa jenis serangga yang sebenarnya menguntungkan. Pentingnya pengembangan bio-pestisida memiliki beberapa kelebihan antara lain ramah lingkungan, murah dan mudah didapat, tidak meracuni tanaman, tidak menimbulkan resistensi hama, mengandung unsur hara yang diperlukan tanaman, kompatibel digabung dengan pengendalian lain dan menghasilkan produk pertanian yang bebas residu pestisida. Penggunaan biopestisida, khususnya pestisida nabati merupakan kearifan lokal bangsa Indonesia. Pemanfaatan pestisida nabati mendapat perhatian penting seiring dengan munculnya dampak negatif penggunaan pestisida sintetis terhadap kesehatan dan lingkungan. Beberapa formula pestisida nabati yang terbukti manjur untuk mengendalikan OPT telah diproduksi dan sebagian diekspor ke negara tetangga. Namun, pengembangan pestisida nabati menghadapi beberapa kendala, antara lain: (1) daya kerjanya lambat sehingga petani lebih memilih pestisida sintetis yang cara kerjanya cepat terlihat; (2) banyaknya pestisida sintetis yang beredar di pasaran sehingga petani mempunyai banyak pilihan dan kemudahan untuk memperoleh pestisida dan tidak tertarik pada pestisida nabati; (3) sulitnya memperoleh bahan baku dalam jumlah banyak karena masyarakat enggan mengembangkannya dan hanya mengandalkan pada alam; dan (4) sulitnya proses pendaftaran dan perizinan karena umumnya pestisida nabati dikembangkan oleh pengusaha kecil. Beberapa penelitian pemanfaatan pestisida nabati di bidang hama dan penyakit sebenarnya telah memberikan hasil yang memuaskan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa jenis pestisida nabati cukup efektif terhadap beberapa jenis hama penyakit tanaman pangan seperti padi dan jagung, baik opt yang ada di pertanaman maupun di gudang penyimpanan. Berikut hasil-hasil penelitian bio-pestisida yang efektif untuk mengendalikan berbagai macam opt pada jagung yang merupakan komoditas terbesar kedua setelah padi di Indonesia. 1. Hama Belalang, Ulat Penggulung, dan Ulat TongkolPestisida nabati yang digunakan adalah hasil fermentasi dari bahan dasar babandotan 32,5 %, umbi gadung 25 %, serei 22,5 %, lengkuas 20 %, EM-4 150 ml, molases 150 ml dan air 4 liter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan dosis 100 cc / liter air menekan intensitas serangan dan populasi belalang. Sedangkan untuk menekan populasi ulat penggulung dan ulat tongkol lebih efektif dengan menggunakan dosis 25 cc / liter air pestisida nabati tersebut. Meski demikian hasil penelitian ini juga menyatakan bahwa pestisida nabati tersebut aman terhadap musuh alami yaitu laba-laba. (sumber: Jurnal Agrisistem, Juni 2008, Vol. 4 No. 1). Selain itu, ada juga penelitian dari Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) Jatisari pada Tahun 2012, menggunakan campuran ekstraksi tanaman mimba, mindi dan lengkuas untuk mengendalikan hama penggerek tongkol dan terbukti efektif. Selain itu BBPOPT juga memanfaatkan agens hayati berupa bakteri Corynebacterium dan Beauveria.2. Hawar Daun JagungPada Tahun 2012, Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) Jatisari meneliti penggunaan pestisida nabati dari tanaman mimba, mindi dan lengkuas serta agens hayati berupa bakteri Corynebacterium dan Beauveria, untuk mengendalikan hawar daun pada tanaman jagung3. Hama Bubuk Jagung Sitophylus zeamaysSitophylus zeamays merupakan salah satu hama gudang yang menyerang biji jagung pipilan maupun berkelobot. Larva yang keluar dari telur, hidup didalam biji dan memakan lembaga dan endosperm. Untuk menekan serangan hama ini, bisa menggunakan pestisida nabati yang terbuat dari ekstrak bawang putih yang sudah terfermentasi selama 24 jam. Sesuai penelitian yang terdapat di jurnalfloratek.wordpress.com pada tanggal 4 Agustus Tahun 2010, bawang putih di ekstrak dengan aquadest dengan perbandingan 1:1 lalu didiamkan selama 24 jam. Ekstrak bawang putih dengan konsentrasi 6% sangat efektif untuk mengendalikan hama gudang ini dengan tingkat mortalitas sebesar 85%. Selain ekstrak bawang putih, ekstrak daun papaya, ekstrak daun nimba, dan ekstrak daun sirih juga efektif untuk mengendalikan hama gudang Sitophylus zeamays. Ekstrak daun sirih, daun nimba, dan daun pepaya dikeringkan dengan penjemuran di bawah sinar matahari selama kurang lebih 3 hari. Pemberian ekstrak bahan nabati sebanyak 20 g/kg jagung. Hal ini diduga karena adanya bahan aktif azadirachtin (limonoid) pada daun nimba; bahan aktif alkaloid hiksiamin pada daun papaya; dan bahan aktif antiseptic pada daun sirih, diduga dapat bersifat sebagai deterrent, antifeedant, repellent, penghambat perkembangan, sterilant dan insektisida terhadap larva-larva serangga hama ini. Senyawa azadirachtin memiliki aktivitas insektisida, antifeedant dan penghambat perkembangan hama. Bahan aktif ini juga berpengaruh terhadap reprodoksi serangga hama (Sumber : PARTNER, Buletin Pertanian Terapan, Vol 15, No 2 Tahuin 2008).4. Hama Penggerek Batang Jagung (O. Furnacalis)Ostrinia furnacalis atau hama penggerek tongkol merupakan salah satu hama utama pada tanaman jagung. Larva O. Furnacalis ini mempunyai karakteristik kerusakan pada setiap bagian tanaman jagung yaitu lubang kecil pada daun, lubang gorokan pada batang, bunga jantan atau pangkal tongkol, batang dan tassel yang mudah patah, tumpukan tassel yang rusak. Pestisida nabati yang bisa digunakan untuk mengendalikan hama ini salah satunya adalah ekstrak biji bitung (Baringtonia asiata), yang bisa diaplikasikan setelah tanaman berumur 7 HST dengan konsentrasi 50 cc per liter dan selanjutnya setiap 7 hari sekali hingga satu minggu sebelum panen. Senyawa saponin dan triterpenoid yang terdapat dalam biji bitung dapat menghambat populasi larva penggerek batang (O. furnacalis) yang menyerang tanaman jagung (sumber: Jurnal Agroforestri VII Nomor 1 Maret 2012).Pemanfaatan musuh alami seperti : Parasitoid Trichogramma spp juga terbukti efektif untuk mengendalikan hama penggerek batang jagung ini. Parasitoid tersebut dapat memarasit telur O. furnacalis. Bakteri Bacillus thuringiensis Kurstaki, cendawan Beauveria bassiana dan Metarhizium anisopliae juga dapat mengendalikan larva O. Furnacalis (sumber: www.bbpp-binuang.info). *) Penulis adalah Koordinator Penyuluh Pertanian di UPTD Bangsalsari Dinas TPHP Kab. Jember Email: aboknanda@yahoo.co.id