Loading...

Heat Stress Pada Ternak Unggas

Heat Stress Pada Ternak Unggas
Pemahaman mengenai tingkah laku ternak dapat memberikan informasi mengenai apa saja yang dibutuhkan oleh seekor ternak dalam hidupnya. Informasi ini penting bagi peternak dalam upaya mengkondisikan lingkungan dan mendesain manajemen yang sesuai. Dengan demikian ternak dapat menghasilkan produksi yang optimal sesuai potensi genetiknya. Stres pada hewan merupakan reaksi biologis terhadap stimuli (rangsangan) yang mengganggu keseimbangan fisiologis (homeostasis). “Heat stress“ merupakan akibat dari jumlah (netto) energi yang dilepas tubuh hewan ke lingkungan sekitar lebih kecil dari pada jumlah energi panas yang diproduksi hewan. Hal tersebut dapat disebabkan oleh faktor lingkungan (panas dan kelembaban udara di kandang dan transportasi) dan karakteristik hewan. Ayam broiler sangat sensitif terhadap panas lingkungan sehingga mudah mengalami “heat stress”, karena bulu yang tebal dan tidak adanya kelenjar keringat. Dampak negatif “heat stress” terhadap ayam broiler mulai dari gangguan pertumbuhan dan penurunan kualitas daging. Pengaruh “heat stress” terhadap kualitas daging ayam broiler terkait dengan 3 faktor, yaitu: Terengah-engah (panting) yang meningkatkan glikolisis anaerob (asidosis metabolik) yang meningkatkan suhu tubuh dan akunulasi asam laktat pada otot (daging). Hal ini yang menyebabkan daging “pale, soft, and exudative“ (PSE). PSE berkaitan dengan penurunan pH otot yang cepat dan suhu tubuh masih relatif tinggi. Heat stress memicu terjadinya kerusakan oksidatif (stres oksidatif), yang terkait jumlah oksidan yang melebihi jumlah antioksidan (termasuk “superoxide dismutase“, katalase, “glutathione peroxidase“, askorbat, dan vitamin E dalam sel. Pada hewan hidup, oksidasi diinisiasi oleh “reactive oxygen species“ (ROS) yang dihasilkan metabolisme seluler dan asupan luar (pakan). Oleh karena itu adanya antioksidan sangat penting dalam pakan untuk mengurangi dampak negatif “heat stress“. Heat stress juga memicu peningkatan ROS yang menyebabkan terjadinya oksidasi ptotein dan selanjutnya menyebabkan oksidasi lemak (menghasilkan malonaldehid) dan memperpendek masa simpan, termasuk penurunan masa simpan daging beku yang disimpan dalam “cold storage“ (ruang pendingin). Peningkatan konsentrasi kortikosteron yang juga memengaruhi peningkatan ROS dan kejadian PSE pada daging ayam broiler. Salah satu pencegahan “heat stress“ ini adalah transportasi yang baik yang meminimalisasi panas dan pengistirahatan ayam sebelum penyembelihan, serta pakan yang baik. Demikianlah penyuluhan bidang unggas pada kali ini, Maaf, tulisan ini agak ilmiah, namun diharapkan bermanfaat bagi sahabat penyuluh dan petani yang berkecimpung dalam Penjamin Kualitas Daging Ayam Broiler. Yusran A. Yahya NS (Sumber: www.sciencedirect.com)