PENDAHULUAN Produktivitas tanaman padi 75 % ditentukan oleh varietas, pupuk dan air. Pemupukan sesuai dengan kebutuhan tanaman merupakan salah satu faktor yang sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi yang pada akhirnya berpengaruh terhadap produktivitas. Salah satu unsur hara utama yang diperlukan oleh tanaman padi adalah N (Nitrogen). Unsur hara N yang ada hampir pada semua tanah tidak mencukupi bagi kebutuhan tanaman, oleh karenanya tambahan unsur hara N harus diberikan untuk mempertahankan atau meningkatkan hasil. Penggunaan pupuk N yang kurang dari kebutuhan tanaman akan memberikan hasil panen yang rendah, sebaliknya jika pemberian pupuk N berlebihan akan menyebabkan tanaman menjadi lebih peka terhadap serangan penyakit dan mudah rebah. Oleh karena itu diperlukan cara untuk dapat mengetahui kebutuhan unsur hara N pada tanaman. Secara visual, tanaman kekurangan atau kelebihan hara N dapat dilihat dari warna daunnya. Berdasarkan hal tersebut, Badan Litbang Pertanian merekomendasikan penggunaan Bagan warna Daun (BWD) dalam pengelolaan tanaman terpadu (PTT) padi sawah. DESKRIPSI DAN FUNGSI BWD Bagan Warna Daun (BWD) merupakan alat yang seringkali digunakan pada tanaman padi ataupun jagung. Alat yang didistribusikan oleh IRRI (International Rice Research Institute) ini sangat sederhana dan mudah digunakan dengan harga yang terjangkau. Bagan Warna Daun (BWD) berfungsi untuk mengetahui apakah tanaman perlu segera dipupuk N atau tidak dan berapa jumlah pupuk N yang perlu diberikan (menentukan waktu pemupukan N pada tanaman padi). Alat ini cocok untuk mengoptimalkan penggunaan N, untuk berbagai sumber pupuk N yang diberikan. Alat ini seringkali digunakan pada tanaman padi ataupun jagung. Alat yang didistribusikan oleh IRRI (International Rice Research Institute) merupakan alat yang sederhana dan mudah digunakan dengan harga yang terjangkau untuk menentukan waktu pemupukan N pada tanaman padi Pada saat ini alat BWD berbentuk persegi panjang dengan 4 kotak skala warna (skala 2, 3, 4, dan 5) yang masing-masing mencerminkan tingkat kehijauan daun dan status N pada tanaman padi Skala 2 pada BWD menggambarkan warna daun hijau kekuningan atau cerminan dari tanaman yang kekurangan hara N. Sedangkan skala 5 menggambarkan warna daun hijau gelap atau cerminan dari tanaman yang terlalu subur atau kelebihan hara N. CARA PENGGUNAAN BWD Pemberian pupuk N pada padi sawah, direkomendasikan sebanyak 3 kali untuk efisiensi yang lebih tinggi. Yang pertama diberikan sebagai pupuk dasar atau pupuk yang pertama, sebelum tanaman berumur 14 HST (Hari Setelah Tanam). Pada saat ini BWD belum digunakan. Pada pemupukan dasar pada tanaman padi, urea diberikan 50-75 kg/ha urea atau sepertiga dari dosis anjuran setempat. Waktu penggunaan BWD dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu (a) berdasarkan waktu yang telah ditetapkan, dan (b) berdasarkan kebutuhan riil tanaman. Di Indonesia lebih cocok menggunakan cara yang pertama (waktu yang telah ditetapkan), yaitu pada pembentukan anakan aktif (21-28 HST) dan primordia (35-40 HST). Dengan cara ini hanya perlu dilakukan 2 kali pengukuran warna daun padi dengan BWD. Cara penggunaan BWD sebagai berikut : Pilih secara acak 10 rumpun tanaman sehat pada hamparan yang seragam, kemudian pilih dau teratas yang telah membuka penuh pada setiap rumpun. Taruh bagian tengah daun di atas BWD dan bandingkan antara warna daun dengan warna pada panel. Jika warna daun berada di antara 2 skala, ambilah nilai rata-ratanya. Misalnyal antara 3 dan 4 maka rata-ratanya 3,5. Pada saat mengukur warna daun dengan BWD, jangan menghadap sinar matahari, sebab pantulan sinar matahari dari daun padi dapat berpengaruh pada pengukuran warna daun. Pilih waktu pembacaan daun pada pagi atau siang hari. Lakukan pengukuran pada waktu yang sama dan oleh orang yang sama. Jika 6 atau lebih dari 10 daun yang diamati warnanya berada dalam batas kritis (<4), maka tanaman perlu segera dipupuk N susulan dengan takaran sesuai dengan tingkat hasil. Tingkat hasil pada kondisi kebutuhan tanaman akan unsur hara lain seperti P dan K terpenuhi serta faktor lain seperti pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) dan pengelolaan air dilakukan secara optimal. Berdasarkan rata-rata pengukuran BWD dan tingkat hasil maka: Jika warna daun berada pada skala 2 sampai 3 maka untuk hasil yang biasa dicapai di suatu tempat adalah 7 t/ha GKG perlu diberikan tambahan Urea 125 kg/ha pada lahan. Sedangkan untuk hasil yang biasa dicapai di suatu tempat adalah 5 t/ha GKG cukup diberikan tambahan Urea 75 kg kg/ha. Jika warna daun berada antara skala 3 dan 4, berikan Urea 100 kg/ha kalau hasil yang biasa dicapai di suatu tempat adalah 7 t/ha GKG atau cukup berikan 50 kg urea/ha kalau hasil yang biasa dicapai di suatu tempat adalah 5 t/ha GKG Jika warna daun pada skala 4 sampai 5, berikan Urea 50 kg/ha kalau hasil yang biasa dicapai di suatu tempat adalah 7-8 t/ha GKG. Tanaman tidak perlu dipupuk N kalau hasil yang biasa dicapai di suatu tempat adalah 5-6 t/ha GKG Pemberian pupuk N berdasarkan BWD ini dapat menekan biaya pemakaian pupuk sebanyak 15-20% dari jumlah yang umum digunakan petani tanpa menurunkan hasil. Sumber bacaan: dari berbagai sumber Disusun oleh: Fauziah Yulia Adriyani