Loading...

HIJAUAN PAKAN BARU :TRICHANTERA GIGANTEA BERPROTEIN TINGGI

HIJAUAN PAKAN BARU :TRICHANTERA GIGANTEA BERPROTEIN TINGGI
Hijauan adalah pakan utama ternak ruminansia. Salah satu hijauan yang dapat diberIkan pada ternak dan belum banyak dikenal dan ditanam oleh masyarakat yaitu : Trichantera gigantea. Nah, seperti apa tanamannya, bagaimana cara tanamnya, dan bagaimana respon ternak terutama ruminansia terhadap Trichantera gigantea ini? Berikut penjelasan singkatnya. Trichantera gigantea (TG) merupakan species tumbuhan berbunga, memiliki daun yang cukup lebar hampir sama dengan telapak tangan manusia. Pada daun tumbuh bulu halus. Batangnya cukup lunak. Tanaman ini bisa dibudidayakan dengan menggunakan stek. Trichantera gigantea adalah tanaman dari keluarga Acanthaceae, banyak ditemukan di Kolombia, Kosta Rika dan daerah Amerika Selatan. Banyak nama umum untuk tanaman ini, ada yang menyebut Nacedero, Madre de Agua, suiban, cenicero, tuno, naranjillo, dan palo de agua. Tropical Forage ACIAR terbitan tahun 2020 menyatakan bahwa dalam bidang pertanian, tanaman trichantera memiliki banyak manfaat, yaitu digunakan sebagai pagar hidup, pakan ternak, dan pohon peneduh, juga digunakan untuk melindungi mata air dari degradasi erosi sungai. Petani di Kolombia telah menggunakan trichanthera sebagai tanaman obat untuk mengobati manusia dan hewan. Pada manusia digunakan sebagai tonik darah-untuk mengobati nefritis dan sebagai minuman lactogenic untuk ibu menyusui. Pada hewan digunakan untuk mengobati kolik dan hernia pada kuda dan retensi plasenta pada sapi. Saat ini tanaman sudah mulai banyak dibudidayakan di Indonesia. Bibitnya berupa stek batang bisa didapatkan dengan mudah. Trichantera mudah dibudidayakan, produktivitas tinggi mencapai 15-16 ton (Bahan Segar), dan cocok dikembangkan pada iklim tropis, seperti wilayah Indonesia. Budidaya tanaman ini cukup dengan menggunakan stek batang. Caranya juga sangat mudah, potong stek batang dan dibersihkan daunnya, kemudian ditancapkan ke media tanam (tanah yang dicampur kompos), kemudian dilakukan penyiraman untuk menjaga tanah agar tetap lembab , dan selanjutnya ditempatkan di tempat yg teduh. Tanaman dibiarkan tetap berada di tempat teduh sampai batang yang ditancap mengeluarkan tunas baru, setelah itu barulah bisa dikenakan sinar matahari pagi antara jam 7-10. Jika tunas baru sudah tumbuh 10 cm bisa dipindahkan ke lahan untuk ditanam. Penanaman dilakukan dengan jarak tanam 2-3 meter. Untuk meningkatkan produksinya, maka tanaman perlu dipupuk. Pemupukan dilakukan dengan pupuk organik (pupuk kandang). Hasil kajian pemupukan pada tanaman TG menggunakan pupuk kandang sebanyak 1 Kg/lubang memberikan pengaruh yang baik terhadap jumlah cabang, jumlah daun, jumlah daun yang dipanen, dan berat kering daun. Kandungan nutrisi hijauan trichantera sangat baik. Trichantera mengandung protein tinggi bahkan bisa dikatakan sebagai sumber protein yang berpotensi sebagai pakan ruminansia dan monogastrik. Kandungan protein kasar daun bervariasi dari 15 hingga 22% serta kandungan kalsium ditemukan sangat tinggi dibandingkan dengan pohon pakan ternak lainnya. Protein dalam daun memiliki keseimbangan asam amino yang baik. Semakin besar jumlah daun, kualitas hijauan tersebut semakin baik, karena daun merupakan bagian jaringan tanaman yang memiliki kandungan nutrisi paling tinggi dibandingkan batang atau ranting. Penggunaannya cukup baik sebagai tepung protein atau pakan segar baik untuk sapi, kambing, kelinci atau ayam. TG mempunyai kandungan bahan kering 26.5%, bahan organik (BO) 85.5%, Nutrient detergent fiber (NDF) 50.5 %. Tanaman Trichantera dikenal tahan atau toleran terhadap naungan. Menurut hasil penelitian bahwa tanaman TG yang ditanam dengan naungan mencapai 72% dengan pemberian pupuk kandang 250 gram per tanaman dapat memberikan hasil produksi dengan jumlah daun dan biomasa segar yang tertinggi dibandingkan dengan naungan lebih kecil. Artinya trichantera bisa hidup dan menghasilkan produksi tinggi walaupun ditanam di bawah naungan. Hal ini tentunya memberikan angin segar bagi peternak yang umumnya menanam hijauan pakan pada lahan marginal dan terintegrasi dengan tanaman pangan ataupun perkebunan. sehingga TG dapat dibudidayakan pada daerah agroekosistem perkebunan atau di bawah tegakan tanaman tahunan. Di Vietnam, dengan pemberian pupuk kotoran hewan (kohe) 5-9 ton/ha dapat meningkatkan produksi hijauan TG dari 15 menjadi 30 ton/ha bahan kering. Selain toleran terhadap naungan, trichantera juga dikenal toleran terhadap defoliasi atau pemotongan. Pemotongan disarankan dilakukan pada tinggi 60 cm, dengan frekuensi pemotongan setiap 3 bulan sekali, yang dimaksudkan untuk optimalisasi hasil dan kualitas. Dan karena batangnya rapuh, trichantera tidak dianjurkan untuk penggembalaan. Trichanthera gigantea (TG) sangat berpotensi sebagai sumber hijauan pakan ternak (HPT). Selain kandungan protein dan serat yang cukup tinggi, palatabelitas atau tingkat kesukaan ternak terhadap tanaman ini juga cukup tinggi. Sapi, domba, kambing, kelinci dan bahkan babi mengkonsumsi hijauan ini. Penggunaannya cukup baik sebagai tepung protein atau pakan segar baik untuk sapi, kambing, kelinci atau ayam. Menurut hasil penelitian, bahwa tricantera dapat menggantikan ransum komersial untuk kambing sebesar 20 sampai 40% tanpa mengurangi berat karkas, serta sumber protein pada kambing masa pertumbuhan. Pemberian TG pada ruminansia mampu meningkatkan efisiensi penggunaan energi dan mampu menurunkan emisi gas metan sehingga bermanfaat bagi lingkungan. Pemberian TG untuk menggantikan konsentrat menurunkan penampilan tetapi tidak menurunkan kualitas karkas pada penggemukan domba. Trichantera gigantea mudah ditanam dan dikembangkan, selain memiliki nutrisi yang baik sebagai pakan ternak dan juga tahan terhadap naungan, sangat layak untuk dikembangkan oleh peternak. Senyawa anti nutrisi dilaporkan sangat minimum, tidak ditemukan alkaloid atau tanin serta kandungan saponin dan steroidnya rendah. Semoga tanaman ini menambah variasi hijauan pakan ternak dan meningkatkan produksi dan produktivitas ternak. Selamat mencoba. Penulis : Ir. Ari Widyastuti (Penyuluh Ahli Utama). BPTP Yogyakarta 03/XII/2022 Disarikan dari berbagai sumber