Inseminasi Buatan (IB) ayam adalah teknik mengawinkan secara buatan dengan memasukkan sperma ayam jantan yang telah diencerkan dengan bahan pengencer ke dalam saluran reproduksi ayam betina yang sedang berproduksi. Sebelum tahun 1926, Inseminasi buatan (IB) pada unggas sudah dikenal di daratan China. Saat itu IB dilaksanakan untuk ternak itik. 25 tahun kemudian IB dipraktekkan di Eropa Timur dan Israel pada angsa. Namun dalam perkembangannya hingga saat ini inseminasi buatan sudah jauh dikenal untuk mengembangkan unggas terutama untuk ayam pembibit. Pada tahun 1937, Burrows dan Quinn mengembangkan metode abdominal massage and pressure untuk mengumpulkan semen. Inseminasi buatan bahkan digunakan seratus persen untuk pembibitan kalkun, karena sulit dikawinkan secara alami. Pemanfaatan teknik IB pada industri pembibitan ayam ras telah lama dikembangkan, sedangkan pada ayam buras baru dikenalkan pada awal tahun 1990. Suryana dan Rohaeni (2006) membandingkan perkawinan alami dan IB pada ayam buras dapat diterapakan pada budidaya secara semi intensif dan intensif . Hasil yang pernah dilakukan BPTP Kalsel di Desa Rumintin Kabupaten Tapin Propinsi Kalimantan Selatan menunjukkan bahwa produksi telur, fertilitas, daya tetas, dan mortalitas DOC hasil lB berturut-turut mencapai 23,35%, 80,90%, 45,94%, dan 13,70%, sedangkan melalui perkawinan alami produksi telur, fertilitas, daya tetas dan mortalitas DOC, masing-masing 21,73%, 76,30%, 27,28%, dan 27,10%. Inseminasi buatan pada unggas merupakan salah satu teknologi yang diharapkan dapat memperbaiki produktivitas ayam, dan merupakan teknik yang berharga dalam industri peternakan unggas maupun dalam riset penelitian. Dengan sistem ini dapat diprogramkan upaya untuk mendapatkan bibit dan DOC (day old chick) dalam jumlah banyak dengan umur sama dalam waktu pendek. Syarat-syarat bagi pejantan untu inseminasi buatan adalah : (1) sehat, tidak cacat dan memiliki keinginan kawin (libido) yang baik; (2) berumur 10 bulan sampai 20 bulan. Jika umur tidak diketahui dapat diperkirakan dari panjang tajinya antara 0,5 “ 2 cm; (3) memiliki mutu genetik yang baik; (4) sudah terlatih diambil spermanya; dan (5) napsu kawin (libido) baik. Pejantan dengan libido tinggi aktif mengawini betina jika dicampurkan. Semen yang dihasilkan pejantan seperti ini juga lebih banyak.Syarat-syarat induk yang baik untuk inseminasi buatan adalah (1) sehat dan tidak cacat; (2) berproduksi tinggi; (3) berumur 7 hingga 12 bulan; (4) minimal sudah mengalami periode peneluran pertama; (5) induk tersebut harus sedang berproduksi; dan (6) pemeliharaan induk sebaiknya dalam kandang batere individu. PELAKSANAAN INSEMINASI BUATAN Penampungan semen dilakukan oleh dua orang. Seorang memegang ayam dan mengurut ayam jantan hingga keluar semennya, sedangkan seorang lagi menampung semen dengan tabung. Waktu terbaik untuk menampung semen adalah sore hari. Mula-mula ayam yang di ambil dari kandang batere dielus mulai dari ujung kepala hingga ke ekor. Tujuannya agar ayam tidak stres, yang berakibat pada sedikit atau tidak keluarnya semen. Kemudian, bersihkan kotoran yang menempel di sekitar daerah kloaka dengan menggunakan tissu pembersih.Setelah tenang, pegang paha ayam dengan tangan kiri. Setelah itu, ayam didekap di antara ketiak dan badan. Posisi ayam menghadap belakang dan ekor ayam ke arah depan. Cara lain, ayam tidak di dekap, namun dielus-elus dengan tangan kanan. Apabila teknik yang dipakai adalah ayam tidak dalam posisi didekap ketiak, maka tangan kiri berperansebagai penahan agar ayam tidak berontak.Pemijatan dimulai dari arah punggung sampai pangkal ekor untuk merangsang ayam pejantan. Pemijatan diulang beberapa kali sehingga ayam pejantan menunjukkan ereksi maksimal, hal ini ditandai dengan meregangnya bulu ekor keatasSingkapkan ekor ayam, Tekan otot ekor ke arah atas, sehingga kloka tampak jelas dan penis mencuat keluar dari kloaka.Letakan ibu jari dan telunjuk tangan kiri yang sesuai untuk memerah semen pada saat yg tepat. Pada saat ereksi maksimal, tangan kiri petugas pertama melakukan pemencetan kloaka dari atas kloaka dan telapak tangan kanan menekan perut ayam bagian bawah kloaka sehingga semen ayam jantan akan memancar keluar. Tekan perlahan, sehingga semen dari ayam keluar. Tampung semen dengan tabung penampung.Lakukan pengenceran semen. Pengenceran dilakukan setelah semen ditampung. Bahan pengencer seperti larutan NaCl fisiologi menggunakan perbandingan sperma dan pengencer 1 : 6 “ 10, tergantung dengan kualitas sperma dan jumlah induk yang diinseminasi. Menurut Ridwan dan Rusdin (2008), Semen yang berkualitas baik diencerkan dengan motil progresif per 0,1 ml semen. pengencer sampai mencapai konsentrasi 150 juta spermatozoa Agar campuran merata, alat penampung digoyang. Jangan mengunakan alat pengaduk karena akan merusak kualitas sperma.Penyuntikan semen pada ayam dapat dilakukan dengan dua metode yaitu: (i) Metode intra vaginal artinya sperma disuntikkan ke dalam vagina dengan kedalaman ± 3 cm; dan (ii) metode intra uterin merupakan teknik inseminasi buatan dengan cara mendeposisikan semen pada daerah uterus.Teknik ini dilakukan dengan cara mendeposisikan semen di daerah uterus melalui spuit 1 ml yang telah disambung selang kateter 7 cm. Untuk mendapatkan hasil yang baik, maka inseminasi sebaiknya diulang tiga hari setelah IB ayam sebelumnya. Purnama dan Udjianto (2004) menyatakan, untuk menghasilkan fertilitas yang tinggi, interval IB dilakukan dua kali seminggu. Vitamin dapat diberikan, agar tingkat keberhasilan inseminasi baik. SUMBER : BPTP KALSEL, LITBANG PERTANIAN