Sejak pupuk SP-36 tak lagi disubsidi, banyak petani yang bingung… gimana caranya tanaman bisa tetap dapat unsur fosfor yang cukup untuk pertumbuhannya. Padahal unsur fosfor sangat penting. Kalo sampai kurang unsur ini, pertumbuhan tanaman pasti kurang optimal dan produksi hasil panen juga tidak akan bisa sesuai harapan.
Unsur posfor sendiri memang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan akar, pembentukan anakan, bunga, dan hingga pengisian biji. Namun, walau pun SP 36 tidak lagi disubsidi, kamu tetap bisa kok menyediakan posfor dari sumber lain untuk tanamanmu. Gimana caranya?
Faktanya, banyak tanah pertanian kita sebenarnya sudah punya kandungan fosfor yang cukup tinggi, terutama tanah mineral ya. Tapi masalahnya, di lahan yang pH-nya asam, unsur fosfor itu sering kali terikat kuat oleh ion besi dan aluminium. Akibatnya, meskipun fosfor ada di tanah, akar tanaman tidak bisa menyerapnya. Hampir mirip seperti saat kita lapar, ada makanan di lemari, tapi lemarinya digembok. Kita harus membuka gembok ini supaya bisa mengambil makanan itu.
Nah, agar fosfor bisa kembali tersedia, kita perlu melepaskan ikatan besi dan aluminium atau si gembok tadi itu. Caranya sederhana, yaitu dengan memperbaiki pH tanah sebelum penanaman. Lakukan pengeringan lahan agar oksigen masuk, kemudian tebarkan kapur pertanian — seperti dolomit atau kapur pertanian — untuk menetralkan keasaman tanah.
Untuk tahu berapa dosis kapur atau dolomit yang sebaiknya digunakan tentu perlu diukur dulu berapa ph tanahmu. Tapi jika menimbang masalah permodalan, setidaknya 500 kg per hektar adalah dosis yang paling masuk akal.
Selain dengan pengapuran, kita juga bisa membantu melepaskan ikatan besi dan aluminium pada unsur fosfor menggunakan bakteri-bakteri baik seperti Bacillus sp. dan Pseudomonas sp. Caranya, semprotkan pupuk hayati cair yang mengandung bakteri ini ke lahan yang sudah dibuat macak-macak. Bakteri tersebut akan mengeluarkan asam organik yang mampu melarutkan fosfor yang sebelumnya terikat di tanah, sehingga unsur Posfor kembali tersedia dan bisa diserap oleh akar tanaman.
Bakteri pelarut fosfat ini mudah ditemukan di berbagai pupuk hayati cair yang sudah beredar di pasaran, seperti Pomi, Beka, EM4, dan banyak lagi. Tapi ingat, bakteri-bakteri ini akan bekerja optimal hanya jika pH tanahmu sudah diperbaiki lebih dulu ya.
Bahan organik, seperti kompos, jerami, atau pupuk kandang memang hanya mengandung sedikit posfor. Tapi ia juga bisa menjadi alternatif terbaik untuk mencukupi kebutuhan unsur ini di tanah. Karena apa? karena bahan organik bisa menunjang perbaikan pH sekaligus meningkatkan kehidupan bakteri dan jamur baik di tanah, termasuk bakteri pelarut posfat seperti Bacillus sp. dan Pseudomonas sp. tadi.
Oh ya, untuk diketahui, kotoran kelelawar atau juga disebut pupuk guano, adalah bahan organik dengan kandungan P tertinggi ya. Diangka sekitar 10-30%. Ya, meski mungkin sulit nemunya, tapi setidaknya kamu tahu. Kalau kalau suatu waktu nemu kelelawar lagi BAB.
Nah, ini adalah alternatif terakhir. Dimana sekarang, kita bisa menemukan pupuk posfor non subsidi dengan mudah di pasaran, mulai dari pupuk KSP dari Cap Tawon, fertiphos dari pak tani, TSP dari Mahkota, atau pupuk SP36 Petro dan Phosgreen dari Petrokimia.
Meski harganya tidak disubsidi, namun tidak ada salahnya menggunakan pupuk-pupuk ini sesekali agar kebutuhan posfor tanamanmu bisa benar-benar terpenuhi. Tapi ingat, perbaiki dulu pH tanahmu agar posfor yang kamu berikan ke tanah untuk tanamanmu tidak justru terikat oleh ion besi dan almunium, melainkan bisa langsung sepenuhnya diserap oleh tanaman. Sayangkan sudah keluar uang cukup banyak, malah pupuknya tidak bisa diserap tanaman.
Nah, mungkin itu. Semoga bisa bermanfaat, atau kalau kamu punya cerita dan pengalaman seputar pupuk fosfor, boleh deh berbagi di kolom komentar. Jangan lupa share juga biar petani lain bisa ikut tercerahkan. Salam!
Oleh : Teguh Yuono, S.S.T. / Penyuluh Pertanian Ahli Pertama / BPP Kecamatan Sragi, Lampung Selatan