Lampung merupakan penghasil ubi kayu utama di Indonesia dengan total produksi lebih dari 9 juta ton. Hasil tersebut diperoleh dari luas panen sekitar 360 ribu hektar atau dengan rata-rata produktivitas 24,9 ton/ha. Produktivitas ini lebih tinggi dibanding dengan rata-rata produktivitas nasional yang baru mencapai 19,8 ton/ha. Walaupun demikian masih lebih rendah jika dibandingkan dengan potensi hasil beberapa varietas unggul yang dapat mencapai 30-40 ton/ha, bahkan dengan penerapan teknologi produksi yang lebih maju dapat diperoleh hasil hingga 60 ton/ha. Produktivitas ubi kayu selain dipengaruhi oleh potensi lahan, juga dipengaruhi oleh tingkat penerapan teknologi. Di Lampung, ubi kayu banyak ditanam di lahan Ultisol yang bersifat masam, bahan organik rendah, kurang subur dan banyak mengandung senyawa-senyawa yang bersifat meracuni tanaman. Dalam hal ini Karama menyebutkan bahwa salah satu penyebab rendahnya produktivitas ubikayu di Indonesia adalah terbatasnya penggunaan teknologi maju oleh petani. Hal ini menunjukkan bahwa produktrivitas di atas masih mempunyai peluang untuk ditingkatkan dengan penerapan inovasi teknologi produksi yang lebih maju. Berkenaan dengan peningkatan produktivitas ubi kayu di lahan kering masam Badan Litbang Pertanian telah merakit paket inovasi teknologi sebagai berikut : Varietas UnggulPemilihan varietas disesuaikan dengan agroekosistem setempat dan permintaan pengguna, misalnya UJ-5, Malang-4, Malang-6, Litbang UK-2 dll. Bibit BerkualitasBibit diambil dari bagian tengah tanaman ubi kayu sehat berumnur 7-12 bulan, bebas hama dan penyakit. Panjang bibit (stek) ubikayu 20-25 cm, dengan diameter 2,5-3 cm. Bibit yang digunakan adalah yang masih segar (paling lama 2 minggu setelah panen). Penyimpanan bibit dilakukan dengan cara menyimpan batang ubi kayu secara terbalik, ditempat teduh dan lembab. Penyiapan LahanLahan diolah secara sempurna (dibajak dua kali dengan kedalaman olah > 30 cm) dan digaru. Dibersihkan dari sisa-sisa tanaman sebelumnya. Dibuat guludan dengan lebar 50-60 cm dan tinggi 40-50 cm, dan jarak antarguludan 100-125 cm. Dibuat juga saluran drainase agar lahan tidak tergenang pada saat hujan. Pengaturan Populasi TanamanPada tanah subur ditanam dengan jarak tanam 100 cm x 100 cm atau 125 cm x 80 cm tergantung pada tipe pertumbuhan varietas. Jumlah populasi antara 10.000-12.500 tanaman/ha.. Tanaman ubi kayu yang bercabang ditanam dengan jarak tanam yang lebih lebar dibandingkan dengan yang tidak bercabang. Pada tanah yang kurang subur, bibit ditanam dengan jarak tanam yang lebih rapat, misalnya 60 cm x 80 cm atau 100 cm x 50 cm, sehingga populasinya dapat mencapai sekitar 20.000 tanaman atau lebih. PemupukanPupuk yang digunakan adalah 300 kg Urea + 200 kg SP-36 + 200 kg KCl + 5 ton pupuk kandang (kotoran sapi) + 500 kg dolomit. Pupuk dolomit diberikan pada saat tanam, sedangkan pupuk kandang diberikan pada saat tanaman berumur 1 bulan. 100 kg Urea + seluruh pupuk SP-36 + seluruh pupuk KCl diberikan pada saat tanam. 100 kg Urea diberikan pada umur 3 bulan, dan 100 kg Urea sisanya diberikan pada umur 5 bulan. PembumbunanPembumbunan dan perbaikan guludan dilakukan pada umur 3 bulan bersamaan dengan pemupukan kedua. Pengendalian OPT (Hama, Penyakit , dan Gulma) Hama utama yang sering menyerang tanamn ubi kayu adalah tungau merah Tetranychus urticae, kutu putih, dan uret. Cara pengendalian dilakukan secara terpadu, yaitu memadukan beberapa teknik pengendalian, seperti menggunakan varietas tahan/agak tahan, pengendalian secara fisik, dan secara mekanis, dan kimiawi. Sebagai contoh pengendalian tungau secara kimiawi dilakukan dengan cara disemprot dengan insektisida Antimit atau Kheltin. Sedangkan penyakit yang muncul antara lain bercak daun, hawar bakteri, busuk pangkal batang dan umbi.Teknik pengendaliannya dengan cara mengusahakan tanaman tumbuh sehat, menanam bibit sehat, dan menanam varietas yang tahan terhadap penyakit penting misalnya UJ-5, Malang-4, Malang-6, dan Adira-4.Seperti halnya pengendalian hama dan penyakit, pengendalian gulma juga dilakukan dengan cara terpadu yang meliputi cara mekanis, kultur teknis, dan kimiawi. Penyemprotan kombinasi herbisida sistemik dengan glifosat disusul dengan penyemprotan herbisida kontak berbahan aktif paraquat efektif untuk mengendalikan gulma. Pengendalian gulma dilakukan pada saat pengolahan tanah, kemudian pada umur 1,5-2 bulan, dan 3 bulan. Periode kritis tanaman terhadap gulma sampai umur 3 bulan. Pengairan dan Pembuatan Saluran Drainase Periode kritis tanaman ubi kaytu terhadap kekeringan adalah 3 bulan pertama setelah tanam dan fase pembesaran umbi (sekitar umur 7 bulan). Saluran drainase diperlukan terutama pada musim hujan untuk mencegah terjadinya genagan air. PanenPanen dilakukan jika tanaman sudah cukup umur (varietas berumur genjah 6-7 bulan, varietas berumur panajang 9-11 bulan). Panen dilakukan secara hati-hati agar umbi tidak rusak. Ditulis Kembali Oleh : Bambang Wijayanto (Penyuluh Pertanian BPTP Lampung)Sumber : Budhi S. Radjit, Y.Widodo, N.Saleh, dan Prasetiaswati Iptek Tanaman Pangan Vol.9 No. 1. Juni 2014 Pusat Penelitian dan pengembangan Tanaman Pangan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian