Daya saing adalah kemampuan suatu negara untuk memasarkan komoditas yang dihasilkan negara yang bersangkutan bersaing dengan negara penghasil komoditas sejenis. Dengan banyaknya negara eksportir lada maka persaingan lada di pasar Internasional semakin ketat. Komoditi lada Indonesia secara internal memiliki keunggulan komparatif pada faktor sumber daya alam dan ketersediaan sumber daya manusia, tetapi terdapat kekurangan pada kualitas tenaga kerja terutama dalam pemanfaatan dan penerapan IPTEK serta penggunaan bibit unggul. Selain itu juga belum didukung infrastruktur yang memadai terutama sarana dan prasarana perbenihan dan belum adanya dukungan industri penangkar benih/bibit dan belum berkembangnya industri pengolahan. Untuk itu dalam rangka meningkatkan daya saing lada Indonesia, perlu adanya peningkatan kualitas dan kuantitas produksi yang efisien, yang dapat dilakukan melalui inovasi agribisnis lada yaitu : a. Inovasi Varietas Unggul Baru Untuk mendukung peningkatan produksi dan daya saing lada dapat dilakukan melalui penggunaan benih ungguh atau bersertifikat. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balitro) selaku instansi yang mendapatkan mandat perbanyakan benih telah melakukan perbanyakan benih lada sebanyak 255 ribu batang, antara lain benih lada varietas Petaling 1, Petaling 2, Lampung Daun Kecil (LDL), Chunuk, Natar 1, Natar 2 dan Bengkayang yang mempunyai keunggulan potensi produksi dan ketahanan terhadap organisme pengganggu tanaman (OPT). Selain itu varietas unggul lokal juga sudah banyak yang dikembangkan sebagai varietas unggul diantaranya Malonan dan Ciinten. Penyediaan varietas unggul baru ini harus memenuhi 4 T (tepat waktu, tepat tempat, tepat harga dan tepat jenis) sehingga petani akan terpacu untuk menggunakannya. Untuk itu diperlukan adanya industri benih lada yang layak secara teknis dan ekonomis. Dengan menggunakan varietas unggul disertai oleh SOP budidaya lada yang benar maka target produktivitas lada nasional yang diharapkan mencapai 561 ton pada tahun 2024 nanti. b. Inovasi Teknologi Pemupukan Tanaman lada termasuk tanaman yang responsif terhadap pemupukan. Inovasi teknologi pemupukan yang perlu dikembangkan melalui penggunaan pupuk yang efisien. Pemupukan harus memenuhi 5T (tepat jenis, tepat dosis, tepat waktu, tepat tempat dan tepat cara). Untuk tanaman lada pupuk buatan dalam bentuk tunggal atau priil tidak efisien sehingga sebaiknya digunakan pupuk tablet atau pupuk organik. c. Inovasi Teknologi Budidaya Sistem budidaya lada yang baik dan benar akan meningkatkan potensi genetik lada. Dengan teknologi budidaya diharapkan mampu menghasilkan lada berkualitas tinggi, melalui penggunaan varietas unggul, sehat, tahan hama penyakit, memaksimalkan penggunaan pupuk organik, menggunakan pestisida nabati dan penggunaan agensia hayati. d. Inovasi Pengolahan Hasil Agar lada Indonesia mampu bersaing di pasar internasional, perlu diterapkan standar mutu hasil ISO 9000, ISO 14000 HACCP, dan SPS sejak penyediaan bahan baku sampai pengepakan serta mengoptimalkan kadar air, kebersihan, keutuhan, dan kemurnian. Dengan demikian, produsen/petani dapat memenuhi standar mutu yang ditetapkan eksportir dan memasarkan lada secara perorangan maupun melalui kelompok (kemitraan). Selain itu untuk meningkatkan daya saing lada Indonesia, perlu adanya peningkatan kualitas dan kuantitas dari pasokan lada dengan mengembangkan dan meningkatkan ekspor lada dalam bentuk olahan (diversifikasi) seperti aneka produk lada hijau, oleoresin, minyak lada, parfum lada dan produk lainnya yang memanfaatkan lada sebagai flavor. e. Inovasi Pemasaran Hambatan dalam pemasaran lada di daerah produsen utama lada (Bangka-Belitung dan Lampung) seperti lemahnya efisiensi tata niaga, kurangnya informasi pasar, transparasi pembentukan harga, dan promosi harus dapat diminimalisir agar daya saing produk lada dapat diatasi. Untuk itu agar dapat memperkuat daya saing petani lada dapat dilakukan peningkatan informasi pasar melalui media dan perlu dilakukan promosi produk lada secara berkala di pusat-pusat produsen lada. Promosi ini diharapkan dapat meningkatkan konsumsi domestik dan ekspor produk lada. f. Inovasi Kelembagaan Upaya memperkuat posisi tawar petani dapat dilakukan melalui organisasi baik melalui kelompoktani, gabungan kelompoktani dan koperasi atau asosiasi petani lainnya. Pengenalan dan pembelajaran yang dialami petani dalam kelembagaan tersebut merupakan keunggulan dalam kelembagaan agribisnis lada ke depan. Mugi Lestari (PP BPPSDMP Kementan) Sumber : Agus Wahyudi dan Ekwasita Rini Pribadi, 2016. Inovasi Untuk Meningkatkan Daya Saing Lada Indonesia. Perspektif, Volume 15 (2), Desember 2016. Syafril Kemala, 2011. Strategi Pengembangan Sistem Agribisnis Lada Untuk Meningkatkan Pendapatan Petani. Pengembangan Inovasi Pertanian 4 (2).