Loading...

Inseminasi Buatan

Inseminasi Buatan
Inseminasi buatan atau inseminasi artifisial adalah pemasukan secara sengaja sel sperma ke dalam rahim atau serviks seorang wanita dengan tujuan memperoleh kehamilan melalui inseminasi (fertilisasi in vivo) dengan cara selain hubungan seksual. Metode ini merupakan salah satu cara penanganan fertilas pada manusia. Selain itu, termasuk suatu praktik umum dalam pemuliaan hewan seperti sapi perah dan babi. Inseminasi buatan dapat menggunakan teknik-teknik peternakan, donasi sperma, dan teknologi reproduksi berbantuan. Teknik-teknik inseminasi buatan yang tersedia meliputi inseminasi intraservikal (ICI) dan inseminasi intrauterin (IUI). Produktiftas ternak tergantung langsung maupun tidak langsung pada kemampuan reproduksinya. Ternak dengan kecepatan reproduksi tinggi, disertai seleksi yang baik dan perkawinannya, pasti akan meningkatkan produksi hasil ternaknya Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Inseminasi Buatan Keberhasilan Iseminasi Buatan dapat dilihat dari angka konsepsi atau kebuntingan, yang dipengaruhi oleh 4 faktor sebagai berikut : Tingkat ketrampilan petugas/Inseminator Kondisi Akseptor Pengetahuan/keterampilan peternak Kualitas semen Keempat faktor tersebut diatas secara makro dapat diketahui penyebab utamanya dengan model perhitungan angka konsepsi yaitu Service per Conception (S/C) = jumlah penggunaan semen per kebuntingan dan Conception Rate (CR) = angka kebuntingan atau jumlah IB untuk satu konsepsi, sebagaimana contoh kasus berikut : Apabila CR Tinggi (75%) dan S/C rendah (1,25) dapat disimpulakn bahwa keberadaan 4 faktor penentu terjadinya kebuntingan sangat baik Apabila C/R tinggi (75%) dan S/C tinggi (3,0) dapat disimpulkan bahwa petugas/IB terampil, peternak juga terampil akan tetapi kemungkinan penyebab tingginya S/C (3 kali IB baru terjadi konsepsi) disebabkan kondis ternak atau semen kurang baik Apabila C/R rendah (40%) dan S/C rendah (1,5) dapat disimpulkan ketrampilan petugas IB perlu lebih ditingkatkan atau peternaknya kurang terampil dalam mendeteksi birahi atau manajemen reproduksi serta manajemen umum dalam tata laksana pemeliharaan sapi masih kurang. Sebaliknya kondisi ternak atau semen mungkin baik. Apabila C/R rendah (30%) dan S/C tinggi (3,4) dapat disimpulakn ke 4 faktor penentu terjadinya konsepsi jelek. Penulis : Asnam, A.Md (Penyuluh Pertanian Kec. Amali)