Loading...

INSTRUMEN MENENTUKAN STATUS HARA TANAH KERING MELALUI PENGGUNAAN PERANGKAT UJI TANAH KERING (PUTK)

INSTRUMEN MENENTUKAN STATUS HARA TANAH KERING MELALUI PENGGUNAAN PERANGKAT UJI TANAH KERING (PUTK)
Tanah kering di Indonesia pada umumnya didominasi oleh tanah-tanah beraksi masam yang mempunyai tingkat kesuburan rendah, kahat hara N, P, K dan sering mengalami keracunan Fe dan Al. Teknologi peningkatan produktivitas tanah kering dapat dilakukan melalui perbaikan (ameliorasi) tanah dengan penambahan kapur, bahan organik, atau bahan lainnya. Aplikasi pemupukan N, P, dan K dilakukan setelah tindakan ameliorasi. Perangkat Uji Tanah Kering / PUTK merupakan salah satu instrumen untuk menanalisis kadar hara tanah lahan kering, yang dapat digunakan di lapangan dengan cepat, mudah, murah dan cukup akurat. PUTK dirancang untuk mengukur kadar P, K, C-organik, pH dan kebutuhan kapur. Dengan PUTK pengukuran unsur hara tanah bisa dilakukan di mana pun, kapan pun dan bisa dilakukan secara mandiri. Prinsip kerja PUTK adalah mengukur hara P, dan K tanah yang terdapat dalam bentuk tersedia secara semi kuantitatif. Penetapan P dan pH dengan metode kolorimetri (pewarnaan). Hasil analisis P dan K tanah selanjutnya digunakan sebagai dasar penentuan rekomendasi pemupukan P dan K spesifik lokasi untuk tanaman jagung, kedelai dan padi gogo. Cara pengambilan contoh tanah; Persyaratan Sebelum contoh tanah diambil, perlu diperhatikan keseragaman areal/hamparan dan intensitas pengelolaan lahan yang akan dimintakan rekomendasinya, misalnya keadaan kemiringan lahan, tekstur dan warna tanah, drainase, dan kondisi tanaman. Berdasarkan pengamatan di lapangan dan informasi yang diperoleh, ditentukan satu hamparan lahan yang kurang lebih seragam (homogen). Contoh tanah komposit (campuran 8-10 anak contoh tunggal) diambil dari hamparan lahan kering yang hampir seragam pada kedalaman 0-20 cm. Untuk hamparan lahan kering yang kurang lebih seragam, satu contoh tanah komposit dapat mewakili 5-8 ha lahan kering. Alat yang digunakan; Bor tanah (auger, tabung), cangkul, atau sekop; Ember plastik untuk mengaduk kumpulan contoh tanah individu; Kantong plastik bening/transparan, tali, spidol, dan label; GPS bila tersedia. Cara Pengambilan contoh tanah komposit; 1). Contoh tanah komposit diambil sebelum tanam atau menjelang pengolahan tanah, sekali dalam satu tahun; 2). Tentukan cara pengambilan contoh tanah tunggal dengan salah satu dari 4 cara, yaitu cara diagonal, zig-zag, sistematik dan cara acak; 3). Rumput-rumput, batu-batuan atau kerikil, sisa-sisa tanaman atau bahan organik segar/serasah yang terdapat di permukaan tanah disisihkan; 4). Pada saat pengambilan contoh, sebaiknya tanah dalam kondisi tidak terlalu basah; 5). Contoh tanah individu diambil menggunakan bor tanah, cangkul, atau sekop dari tanah lapisan olah (0-20 cm); 6). Contoh tanah individu yang diambil dengan cangkul atau sekop usahakan sama banyak (kedalaman dan ketebalannya) antara satu titik dengan titik lainnya, misalnya sekitar setengah kg dari masing-masing titik; 7). Contoh-contoh tanah individu dari masing-masing titik dicampur dan diaduk sampai merata dalam ember plastik, jika ada sisa tanaman, akar, atau kerikil dibuang; 8). Dari campuran contoh tanah tersebut lalu diambil kurang lebih ½ kg dan disimpan di plastik bening dan diberi keterangan lokasi, waktu dan pengambil contoh; 9). Contoh tanah uji siap dianalisa. Hal yang perlu diperhatikan; 1). Jangan mengambil contoh tanah dari pinggir jalan, tanah sekitar rumah, bekas pembakaran sampah/sisa tanaman/ jerami, tempat penggembalaan ternak yang banyak kotoran ternak, bekas timbunan pupuk dan kapur; 2). Hasil pengukuran kadar hara dengan perangkat uji tanah ini tidak dapat digunakan untuk pembuatan Peta Status Hara P dan K Tanah Kering. Karena dalam pembuatan peta status hara P dan K memerlukan angka kuantitatif untuk penarikan garis batas (delineasi) kelas pada peta; 3). Ketepatan hasil analisa tanah ini sangat ditentukan oleh pengambilan contoh tanah yang tepat dan mewakili. Pengambilan Contoh Tanah pada Pertanaman Jeruk dan Tanaman dalam Bedengan; a). Pertanaman Jeruk: contoh tanah diambil diantara 4 pokok pada lingkar tajuk terluar dari salah satu tanaman. Contoh tanah diambil setiap tahun sebelum pemupukan pada tahun tersebut; 2). Tanaman dalam Bedengan: contoh tanah diambil di tengah bedengan diantara 4 tanaman. Contoh tanah diambil sebelum dilakukan pemupukan. CARA PENETAPAN STATUS HARA FOSFOR (P) Kadar P dalam Tanah Fosfor (P) yang terdiri dari P-anorganik dan P-organik berasal dari bahan organik dan mineral yang mengandung P (apatit). Unsur P dalam tanah ketersediaannya (availability) bagi tanaman rendah karena P terikat oleh liat, bahan organik, serta oksida Fe dan Al pada tanah yang ph-nya rendah (tanah masam dengan ph 4-5,5) dan oleh Ca dan Mg pada tanah yang ph-nya tinggi (tanah netral dan alkalin dengan ph 7-8). Fosfor berperan penting dalam sintesa protein, pembentukkan bunga, buah dan biji serta mempercepat pemasakan. Kekurangan P dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman menjadi kerdil, anakan sedikit, pemasakan terlambat dan produksi tanaman rendah. Kebutuhan tanaman akan hara P dapat dipenuhi dari berbagai sumber, antara lain: TSP, SP-36, DAP, P-alam, NPK yang pada umumnya diberikan sekaligus pada awal tanam. Agar pupuk yang diberikan efisien, pupuk P harus diberikan dengan memperhatikan jumlah, jenis, cara, waktu, serta tempat Cara pengukuran P lahan kering antara lain: 1). Sebanyak ½ sendok spatula contoh tanah uji di masukkan ke dalam tabung reaksi, atau jumlah tanah sebanyak 0,5 ml sesuai yang tertera pada tabung reaksi; 2). Tambahkan 3 ml Pereaksi P-1, kemudian diaduk sampai homogen dengan pengaduk kaca selama 1 menit dan biarkan sampai larutan jernih; 3). Tambahkan ±10 butir atau seujung spatula Pereaksi P-2 (dibutuhkan hanya dalam jumlah sedikit goyangkan perlahan jangan sampai keruh); 4). Diamkan kurang lebih selama 5 s/d 10 menit; 5). Bandingkan warna yang muncul dari larutan jernih di atas permukaan tanah dengan bagan warna P- tanah. CARA PENETAPAN STATUS HARA KALIUM (K) Kadar K dalam Tanah Kalium (K) bersumber dari mineral tanah (misal feldspar, mika, vermikulit, biotit), dan bahan organik sisa tanaman. K dalam tanah mempunyai sifat yang mobile (mudah bergerak) sehingga mudah hilang melalui proses pencucian atau terbawa arus pergerakan air. Berdasarkan sifat tersebut, efisiensi pupuk K biasanya rendah, namun dapat ditingkatkan dengan cara pemberian 2-3 kali dalam satu musim tanam. Kalium dalam tanaman berfungsi mengendalikan proses fisiologis dan metabolisme sel, serta meningkatkan daya tahan terhadap penyakit. Kekurangan hara kalium menyebabkan tanaman kerdil, lemah (tidak tegak), proses pengangkutan hara, pernafasan, dan fotosintesis terganggu, yang pada akhirnya mengurangi produksi. Tahapan penetapan status K tanah antara lain; 1). Sebanyak ½ sendok spatula contoh tanah (0,5 ml) dimasukkan dalam tabung reaksi; 2). Tambahkan 4 ml pereaksi K-1, kemudian diaduk sampai homogen dengan pengaduk kaca, diamkan 5 menit sampai jernih; 3). Tambahkan 2 tetes pereaksi K2 kocok diamkan sekitar 5 menit; 4). Ditambahkan 2 ml K-3 secara perlahan melalui dinding tabung biarkan beberapa saat lalu amati endapan putih yang terbentuk antara larutan K-3 dengan dibawahnya. Interpretasi data hasil uji: a). Bila pengujian menghasilkan endapan putih berarti tanah yang diuji memiliki kandungan K-dd > 0,25 me/100 g; b). Status K rendah apabila tidak terbentuk endapan putih; c). Status K sedang apabila endapan putih terbentuk; d). Status K tinggi apabila endapan putihnya jelas dan banyak. CARA PENETAPAN pH TANAH LAHAN KERING PH (reaksi) tanah dan penanganannya Reaksi tanah, yang dinyatakan dengan nilai pH, menunjukkan tingkat kemasaman tanah. Pada tanah masam (ph < 4,5), ketersediaan beberapa hara makro dan mikro lebih rendah dari pada tanah netral. Salah satu cara untuk menangani kemasaman tanah lahan kering masam dengan menambahkan bahan amelioran ke dalam tanah, seperti kapur. Kapur dapat meningkatkan pH tanah sehingga aktivitas Al 3+ menurun. Terdapat tanah-tanah dengan pH sama, tetapi mempunyai kejenuhan Al 3+ yang berbeda. Jenis-jenis kapur yang bisa dipergunakan dan terdapat dipasaran meliputi CaCO 3 (Kaptan), Ca(OH) 2 (Kapur Tohor), CaMgCO 3 (Dolomit). Ketiga jenis bahan amelioran tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan ph tanah disesuaikan dengan kebutuhan dan ketersediaan di lapang. Tahapan untuk menetapkan pH lahan kering dengan menggunakan PUTK adalah: 1). Sebanyak ½ sendok spatula contoh tanah (0,5 ml) dimasukkan dalam tabung reaksi; 2). Tambahkan 4 ml pereaksi pH-1, kemudian diaduk sampai homogen dengan pengaduk kaca; 3). Tambahkan 1-2 tetes indikator warna pereaksi pH-2; 4). Diamkan ± 10 menit sampai mengendap dan terbentuk warna pada cairan jernih di bagian atas; 5). Bandingkan warna yang muncul pd larutan jernih dengan bagan warna pH; 6). Untuk menentukan kebutuhan kapur tambahkan pereaksi kebutuhan kapur tetes demi tetes sambil dikocok perlahan sampai muncul warna hijau yang permanen (pH 6-7). Hitung jumlah tetes pereaksi kebutuhan kapur yang ditambahkan. Jumlah tetes yg diperoleh menunjukkan jumlah kapur yang akan ditambahkan sesuai yang tertera pada tabel kebutuhan kapur. Rekomendasi kapur, Untuk tanaman kedelai dan jagung berkaitan dengan jumlah tetes yang diperlukan untuk merubah warna larutan jernih yang berwarna oranye (pH 4 – 5 sampai merah (pH < 4) menjadi hijau (pH 6 – 7). CARA PENETAPAN KANDUNGAN C-ORGANIK C-organik tanah Kadar C-organik tanah identik dengan tingkat kesuburan tanah mineral, karena kadar C-organik tanah memiliki korelasi yang positif dengan kadar N tanah dengan nilai korelasi mencapai 80%. Pada umumnya tanah-tanah pertanian lahan kering mempunyai kadar C-organik di bawah 1,5%, mengingat sangat sedikitnya pengembalian sisa panen, tingkat dekomposisi yang tinggi karena suhu dan kelembababan tanah yang tinggi, erosi tanah yang cukup besar dengan membawa lapisan top soil yang kaya akan bahan organik tanah. Penetapan C-organik tanah digunakan untuk mengestimasi jumlah C-organik dalam tanah yang selanjutnya dapat dikaitkan dengan cadangan N dalam tanah. Tahapan Penetapan kandungan C-organik tanah kering antara lain: 1). Sebanyak ½ sendok spatula contoh tanah (0,5 ml) dimasukkan dalam tabung reaksi 2). Tambahkan 1 ml pereaksi C-1, kemudian diaduk sampai homogen dengan pengaduk kaca, 3). Tambahkan 3 tetes pereaksi C-2 (jangan diaduk) 4). Setelah 10 menit amati ketinggian busa yang terbentuk Kriterianya: a). Bila tinggi busa ≤ 3 cm yg dibaca pd tanda garis tabung reaksi 3 ml, maka C organik tergolong rendah dan; b). Bila tinggi busa > 3 cm, maka C-Organik tanah tersebut tergolong sedang sampai tinggi. Rekomendasi pemberian bahan organik bila satus C-Organik Rendah adalah 2 ton/ha tetapi kalau status C-Organik sedang-tinggi cukup 1 ton/ha. Rekomendasi kebutuhan pupuk urea untuk tanaman kedelai tanpa pemberian bahan organik adalah 80 kg/ha, jika ada pemberian bahan organik cukup 50 kg/ha. Untuk tanaman jagung tanpa pemberian bahan organik adalah 400 kg/ha, jika ada pemberian bahan organik cukup 350 kg/ha. Dan untuk tanaman padi gogo tanpa pemberian bahan organik adalah 250 kg/ha, jika ada pemberian bahan organik cukup 200 kg/ha. Sumber Informasi: Badan Standar Instrumen Pertanian (BSIP) Disusun oleh Religius Heryanto, S.ST (Penyuluh BSIP Sulbar)