Penerapan pemupukan berimbang berdasarkan uji tanah memerlukan data analisa tanah. Disisi lain daya jangkau (aksesibilitas) penyuluh dan petani untuk menganalisis contoh tanah masih rendah, sehingga menyebabkan rekomendasi pupuk untuk padi bersifat umum. Hal ini mengakibatkan pupuk yang diberikan tidak berimbang dan efisiensi pemupukan menjadi rendah ada kemungkinan suatu unsur hara diberikan secara berlebihan, sementara unsur hara lainnya diberikan lebih rendah dari yang dibutuhkan tanaman. Ketidaktepatan pemberian pupuk menyebabkan sebagian unsur hara yang diberikan kurang bermanfaat, produksi rendah dan polusi lingkungan. Salah satu sarana produksi dengan alokasi penggunaan dan biaya yang besar dalam budi daya tanaman sawah adalah pupuk. Sementara, akses petani baik dari sisi ketersediaan pupuk dan harga, seringkali menjadi hambatan produksi. Hal inilah yang mendorong berbagai upaya untuk melakukan efisiensi penggunaan pupuk. Keberadaan efisiensi pemupukan tidak hanya akan meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga mendukung keberlanjutan system produksi (sustainable production system), kelestarian lingkungan, dan penghematan sumberdaya energi. Kebutuhan dan efesiensi pemupukan ditentukan oleh dua faktor yang saling berkaitan yaitu: a) ketersediaan hara dalam tanah, dan b) kebutuhan hara tanaman. Oleh sebab itu, rekomendasi pemupukan harus bersifat spesifik lokasi dan spesifik varietas. Langkah untuk membantu petani dalam meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk yakni melalui ketepatan pemberian dosis pupuk, terutama pupuk N, P, dan K untuk padi sawah. Salah satu instrumen yang dapat digunakan untuk mengukur status hara tanah sawah di lapangan dengan kesesuaian standardisasi adalah Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS). Hasil pengukuran tersebut nantinya dapat menjadi dasar penyusunan rekomendasi penggunaan pupuk sesuai kebutuhan tanaman. Manfaat PUTS: 1) Mengukur status hara N, P, K, dan pH tanah sawah secara cepat dan mudah. 2) Dasar penentuan dosis rekomendasi pupuk N, P, K dan amelio ran tanah sawah, dan 3) Menghemat penggunaan pupuk, meningkatkan pendapatan petani dan menekan pencemaran lingkungan. Prinsip kerja : 1) Mengekstrak hara N, P, dan K tersedia dalam tanah. 2) Mengukur hara tersedia dengan bagan warna, dan 3) Menentukan rekomendasi pupuk padi sawah. Cara pengambilan contoh tanah sawah; Sebelum pengambilan contoh tanah maka perlu diperhatikan keseragaman areal/hamparan dan intensitas pengelolaan lahan yang akan dimintakan rekomendasinya, misalnya diamati dahulu keadaan topografi, tekstur tanah, warna tanah, draenase dan kondisi tanaman. Berdasarkan pengamatan dilapangan dan informasi yang diperoleh, kemudian ditentukan satu hamparan lahan yang kurang lebih seragam (homogen) seluas 3-5 ha mewakili 1 contoh tanah komposit. Untuk hamparan lahan sawah yang kurang lebih seragam, satu contoh tanah komposit dapat mewakili luas lahan sekitar 5 ha. Alat yang digunakan; Bor tanah (auger, tabung), cangkul, atau sekop; Ember plastik untuk mengaduk kumpulan contoh tanah individu; Kantong plastik bening/transparan, tali, spidol, dan label; GPS bila tersedia. Cara Pengambilan contoh tanah komposit; 1). Contoh tanah komposit diambil setelah panen atau menjelang pengolahan tanah pertama, sekali dalam satu tahun. 2). Tentukan titik pengambilan contoh tanah individu dengan salah satu dari empat cara yaitu cara diagonal, zigzag, sistemik atau acak. 3). Rumput, batu-batuan atau kerikil, sisa-sisa tanaman atau bahan organik segar/serasah yang terdapat dipermukaan tanah disisihkan 4). Kondisi tanah terbaik pada saat pengambilan contoh tanah dalam keadaan lembab, tidak terlalu basah atau terlalu kering. 5). Contoh tanah individu diambil dengan bor tanah, cangkul atau skop pada kedalaman 0-20 cm. Satu contoh tanah komposit berasal dari 10 – 15 contoh tanah individu dicampur dan diaduk merata dalam ember plastik. 6). Contoh tanah dibersihkan dari tanaman, akar dan binatang yang terbawa, lalu disimpan dalam kantong plastik dan diberi label. 7). Label berisi keterangan lokasi, waktu, nama pengambil contoh, dan koordinatnya bila memungkinkan. 8). Contoh tanah yang sudah siap untuk dianalisis diambil dengan sendok spatula/syringe dengan cara (a) Permukaan tanah lembab ditusuk dengan syringe sedalam 5 cm dan diangkat (b) Bersihkan dan ratakan permukaaan syringe, tanah didorong keluar dan potong contoh tanah setelah 0,5 cm dengan sendok stainless lalu masukkan dalam tabung reaksi. CARA PENETAPAN STATUS HARA NITROGEN (N) Status N tanah Unsur hara N dalam tanah sangat mobile, sehingga mudah hilang karena menguap atau tercuci, dimana N mudah berubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya seperti NH4 menjadi NO, N2O, NH3. Tanaman padi sangat respon terhadap pemberian pupuk urea tetapi efisiensi serapan pupuk sangat rendah < 30 %. Efisiensi serapan pupuk dapat ditingkatkan dengan cara 2 sampai 3 kali pemberian, yaitu pada saat tanam, 4 MST, dan 8 MST dan pupuk dibenamkan ke tanah. Sebelum pemberian pupuk urea kedua atau ketiga dilakukan, bagan warna daun (Balitpa-IRRI) dipergunakan untuk memonitor tingkat kecukupan hara N pada tanaman. Tanaman yang kekurangan N akan tumbuh kerdil, daun berwarna kuning, dan mudah gugur, pembungaan terlambat, dan pertumbuhan aakar terbatas sehingga produksi rendah. Kekurangan N dapat diperbaiki dengan pemupukan N dalam berbagai bentuk seperti Urea, ZA, DAP, pupuk majemuk NPK, dan pupuk organik seperti kompos, azolla, pupuk hijau, dan kotoran ternak. Tahapan Penetapan Status N tanah dengan menggunakan PUTS antara lain;1. ½ sendok kecil contoh tanah (0,5 cm) dimasukkan ke dalam tabung reaksi 2. Tambahkan 2 ml Pereaksi N-1, diaduk sampai merata/homogen 3. Tambahkan 2 ml Pereaksi N-2, dikocok rata 4. Tambahkan 3 tetes pereaksi N-3, dikocok rata 5. Tambahkan 5 - 10 butir Pereaksi N-4, dikocok sampai rata 6. Didiamkan 10 menit, 7. Bandingkan warna yang timbul dalam larutan jernih dengan bagan warna N tanah dan baca status hara N tanah. Rekomendasi Pemupukan N dengan Tekstur tanah berliat (liat 20-40%) untuk target hasil 5 (t/ha) rekomendasi Urea jika status N rendah: 250 kg/ha, Sedang: 200 kg/ha, dan Tinggi 200 kg/ha sedangkan untuk target 6 t/ha jika status N rendah: 300 kg/ha, Sedang: 250 kg/ha, dan Tinggi 250 kg/ha (kg/ha). Rekomendasi Pemupukan N dengan tekstur tanah berpasir (liat <20%) untuk target hasil 5 (t/ha) rekomendasi Urea jika status N rendah: 300 kg/ha, Sedang: 250 kg/ha, dan Tinggi 200 kg/ha sedangkan untuk target 6 t/ha jika status N rendah: 300 kg/ha, Sedang: 250 kg/ha, dan Tinggi 250 kg/ha (kg/ha). CARA PENETAPAN STATUS HARA FOSFOR (P) Unsur P berperan penting dalam pembentukan bunga, buah dan biji serta mempercepat kematangan buah. Tanaman padi yang kahat P mengakibatkan pertumbuhan tanaman menjadi kerdil, anakan sedikit, kematangan gabah terhambat, dan produksi gabah rendah. Sumber hara P berasal dari pupuk SP36, DAP, P-Alam, pupuk NPK majemuk dapat memenuhi kebutuhan tanaman akan hara P. Pemberian pupuk P harus tepat dosis, jenis, cara dan waktu agar lebih efisien. Fosfor (P) dalam tanah terdiri dari P-anorganik dan P-organik yang berasal dari bahan organik dan mineral yang mengandung P (apatit). Unsur P dalam tanah rendah karena P terikat oleh liat, bahan organik serat oksidasi Fe dan Al pada tanah yang pH rendah (tanah masam pH 4 – 5,5) dan oleh Ca, dan Mg pada tanah yang pH tinggi (7-8). Akibat pemupukan P dalam jumlah banyak dan kontinyu telah terjadi penimbunan (akumulasi) P didalam tanah. P tanah terakumulasi dapat digunakan kembali apabila reaksi tanah mencapai kondisi optimal untuk pelepasan P tersebut. Tahapan penetapan status P tanah antara lain; 1). ½ sendok kecil contoh tanah (0,5 cm) dimasukkan ke dalam tabung reaksi 2). Tambahkan 3 ml Pereaksi P-1, diaduk sampai merata 3). Tambahkan 5 - 10 butir Pereaksi P-2, dikocok sampai rata 4). Didiamkan ±10 menit, 5). Warna yang timbul dalam larutan jernih dibandingkan dengan bagan warna P tanah dan baca status hara P tanah. Rekomendasi pupuk fosfat (dalam bentuk SP-36) untuk padi sawah yang mempunyai potensi hasil 5-7 t GKG/ha, sebagai berikut: untuk target hasil 5 ton GKG/ha, rekomendasi pupuk fosfat (kg SP-36/ha) pada tanah berstatus hara P Rendah 100 kg/ha, sedang 75 kg/ha dan tinggi 50 kg/ha. Sedangkan untuk mencapai target hasil 5 ton GKG/ha rekomendasi pupuk fosfat (kg SP-36/ha) pada tanah berstatus hara P Rendah 125 kg/ha, sedang 100 kg/ha dan tinggi 75 kg/ha. Semuanya diberikan 1 kali pada saat tanam. CARA PENETAPAHAN HARA KALIUM (K) Cara penetapahan Hara Kalium (K); Tanah Unsur hara K merupakan unsur hara utama ketiga yang diperlukan tanaman dalam jumlah besar. Unsur tersebut dalam bentuk mobil, sehingga mudah hilang tercuci. Bila terjadi kekurangan unsur K tanaman menjadi rentan terhadap serangan hama penyakit, proses metabolisme terganggu, sehingga kualitas dan kuantitas produksi padi rendah. Sumber K berasal dari pupuk anorganik seperti KCl dan NPK. Pada tanaman padi sebagian hara K dari pupuk dapat digantikan oleh jerami padi yang dikembalikan sebagai pupuk organik. Kadar K dalam jerami umumnya sekitar 1 % sehingga dalam 5 ton jerami terdapat sekitar 50 kg K setara (K-K20-KCl). Pengembalian jerami dalam bentuk segar maupun dikomposkan dilahan sawah harus digalakkan kembali karena selain mengandung unsur K, jerami juga mengandung unsur hara lain seperti N, P, Ca, Mg dan unsur mikro, hormon, pengatur tumbuh serta asam-asam organik yang sangat berguna bagi tanaman. Selain itu dapat memperbaiki sifat fisik tanah dan biologi tanah. Tahapan penetapan status K tanah antara lain; 1). ½ sendok kecil contoh tanah (0,5 cm) dimasukkan ke dalam tabung reaksi 2). Tambahkan 2 ml Pereaksi K-1, dikocok sampai rata 3). Tambahkan 1 tetes Pereaksi K-2, dikocok selama 1 menit 4). Tambahkan 1 tetes pereaksi K-3, dikocok rata 5). Didiamkan 10 menit, 6). Warna yang timbul dalam larutan jernih dibandingkan dengan bagan warna K tanah dan baca status hara K tanah. Rekomendasi pupuk K dengan bahan organik tanpa pengembalian jerami dengan target hasil 5 t/ha, rekomendasi pupuk kalium yang dapat di berikan dengan status K yang rendah 100 kg KCL/ha, sedang 50 kg KCL/ha dan Tinggi 50 kg KCL/ha. Sedangkan untuk mencapai target hasil 6 t/ha, rekomendasi pupuk kalium yang dapat di berikan dengan status K yang rendah 125 kg KCL/ha, sedang 75 kg KCL/ha dan Tinggi 50 kg KCL/ha. Rekomendasi pupuk K jika bahan organik dalam bentuk jerami yang dikembalikan ke sawah untuk target hasil 5 t/ha, rekomendasi pupuk kalium yang dapat di berikan dengan status K yang rendah dapat ditambahkan pupuk Kalium (KCL) sebanyak 50 kg/ha tapi jika status K nya sedang atau tinggi maka tidak perlu ditambakan lagi. Sedangkan untuk mencapai target hasil 6 t/ha, rekomendasi pupuk kalium yang dapat di berikan dengan status K yang rendah dapat ditambahkan pupuk Kalium (KCL) sebanyak 75 kg/ha yang dapat diberikan 2 kali (masing-masing ½ bagian 1-2 MST dan 3-5 MST) tapi jika status K nya sedang atau tinggi maka tidak perlu ditambakan lagi. CARA PENETAPAN KEMASAMAN TANAH DAN KEBUTUHAN KAPUR Pada tanah ,asam (pH<4,5), ketersediaan beberapa hara lebih rendah dari pada tanah netral, serta kemungkinan besar muncul keracunan (Fe++) akibat kondisi tanah yang reduktif. Ciri tanah yang mengandung besi yaitu pada permukaan air genangan tertutup lapisan seperti karat/minyak, berbau menyengat, dan pada daun terdapat bintik karat. Pada kondisi terjadi keracunan Fe, disarankan untuk menerapkan sistem draenase berselang (intermittent drainage) dengan tujuan untuk membuang larutan tanah yang mengandung (Fe) tinggi dan memberi peluang kondisi tanah bersifat oksidatif. Cara lain adalah dengan menambahkan bahan amelioran kedalam tanah, seperti kapur. Kapur dapat meningkatkan pH tanah sehingga aktivitas Fe++ menurun. Pada tanah basa/alkalin, haranya rendah dan kelebihan Na. Cara untuk mengurangi keracunan Na dengan melakukan pencucian tanah dengan air ber pH netral. Ciri tanah kelebihan Na adalah permukaan tanah pada saat kering akan ditutupi lapisan kristal putih (garam), tanaman tumbuh tidak normal, akar tanaman berwarna kehitaman, produksi gabah rendah. Penetapan status kemasaman tanah 1. 1/2 sendok kecil contoh tanah dimasukkan ke dalam tabung reaksi 2. Tambahkan 4 ml Pereaksi pH-1, diaduk merata 3. Tambahkan 1-2 tetes Pereaksi pH-2, 4. Diamkan ±10 menit, hingga suspensi mengendap dan terbentuk warna pada cairan jernih di bagian atas. 5. Bandingkan warna yang timbul dengan bagan warna pH tanah, 6. Jika warna yang timbul meragukan, tanah dikocok ulang secara perlahan sampai cairan jernih teraduk merata dan diamkan sampai mengendap kembali. Rekomendasi kebutuhan kapur Nilai Ph <4-5 kategori sangat masam atau masam rekomendasi pengelolaannya adalah sistem draenase terputus, kapur 1-2 t/ha dan pemberian pupuk N daalam bentuk urea, Nilai Ph 5-6 (agak masam) dan Ph 6-7 (Netral) rekomendasi pengelolaannya yaitu sistem draenase konvensional dan pemberian pupuk N dalam bentuk urea, nilai Ph 7-8 (agak basa) pengelolaan dengan sistem draenase konvensional dan pemberian pupuk N dalam bentuk ZA, sedangkan untuk Ph >8 (basa) pengelolaannya dapat dilakukan dengan pencucian garam dan pemberian pupuk N dalam bentuk urea. pH tanah yang rendah atau tinggi pada umumnya hanya terdapat pada sawah bukaan baru atau sawah dengan draenase buruk. Pada sawah lama (sesudah > 5 tahun disawahkan) pH tanah sawah mendekati netral (pH 5-5 sampai 6,5). Sumber Informasi: Balai Informasi Standar Instrumen Pertanian (BISIP) Disusun oleh Religius Heryanto, S.ST (Penyuluh BSIP Sulbar)