Bawang putih (Allium sativum L) selain merupakan jenis sayuran yang penting, juga merupakan salah satu sumber pertumbuhan baru ekonomi dalam pembangunan pertanian. Bawang putih dianggap sebagai komoditas potensial terutama untuk subsitusi impor dan dalam hubungannya dengan penghematan devisa. Hasil umbi bawang putih banyak digunakan sebagai penyedap dalam masakan karena mempunyai aroma yang harum dan rasa yang khas. Selain itu bawang putih juga dimanfaatkan sebagai bahan baku obat karena mengandung zat aliium yang bersifat sebagai pembunuh kuman dan penawar racun. Nilai kalori bawang putih cukup tinggi, tetapi kandungan vitaminnya sangat rendah. Penggunaannya untuk bumbu dapur, hanya dalam jumlah sedikit. Berbagai resep masakan sebagai bumbunya hampir selalu menggunakan bawang putih. Kegunaan lain yang tidak kalah penting adalah keampuhan dalam bidang pengobatan, seperti untuk obat penurun tekanan darah tinggi, reumatik, sakit gigi, kena gigitan ular dan lain-lain. Karena kegunaannya membuat bawang putih dibutuhkan langsung oleh konsumen akhir, mulai skala kecil sampai besar (rumah tangga, restoran/hotel, dan industri). Banyaknya manfaat dari umbi bawang putih mennjadikan permintaan bawang putih terus meningkat. Di sisi lain usahatani bawang putih termasuk usahatani yang beresiko tinggi karena dengan biaya produksi tinggi belum tentu menghasilkan keuntungan tinggi. Walaupun petani mampu memroduksi tinggi dengan kualitas umbi yang baik namun terkadang masalah fluktuasi harga tidak bisa menjadi jaminan keuntungan yang tinggi pula. Beberapa sentra bawang putih di Jawa Tengah umumnya tersebar di dataran tinggi (>700 m dpl) seperti Tawangmangu (Karanganyar), Kaliangkrik (Magelang) dan Tuwel (Tegal). Varietas yang banyak berkembang di beberapa lokasi tersebut antara lain Lumbu Hijau, Lumbu Putih, Tawangmangu, Lumbu Kuning, Gombloh dan Sembalun (Hilman dkk., 1997). Pada saat ini perkembangan luas panen yang berada di beberapa sentra bawang putih di Jawa Tengah umumnya relatif kecil, dengan luasan antara 5 - 50 hektar per tahun. Diantara komponen budidaya yang sangat berpengaruh terhadap pencapaian produksi bawang putih antara lain penggunaan benih varietas unggul bermutu dan teknologi pemupukan yang tepat dan berimbang. Penggunaan benih secara turun temurun dengan hanya mengandalkan pupuk tertentu menjadi salah satu sebab semakin turunnya produktivitas dan kualitas bawang putih. Untuk mengetahui peningkatan produksi melalui intensifikasi budidaya budidaya, Peneliti dan Penyuluh BPTP Jawa Tengah melaksanakan kajian di Desa Tuwel Kecamatan Bojong Kabupaten Tegal. Teknologi yang diterapkan adalah penggunaan bibit bermutu (bebas infektan, tua secara fisiologis, bobot umbi 1,5-3,0 gram), mulsa plastik perak hitam dan jerami, serta pemupukan lengkap berimbang menggunakan pupuk organik (10-20 t/ha), pupuk NPK anorganik (200 kg N/ha, 180 kg P2O5/ha, 60 kg K2O/ha dan 142 kg S/ha), pupuk organik cair (POC) dan pupuk pelengkap cair (PPC). Hasil panen bawang putih pada kegiatan kajian intensifikasi budidaya mampu mencapai hasil sekitar 9,0 t/ha atau meningkat sekitar 48,2% dari hasil eksisting petani. Hasil tertinggi dicapai pada penggunaan varietas Lumbu Hijau asal Tuwel yang dikombinasi dengan mulsa jerami + PPC + POC dan varietas Lumbu Hijau asal Batu dikombinasikan dengan mulsa plastik + POC. Pemupukan berimbang yang diperkaya dengan pupuk pelengkap cair (PPC) dan pupuk organik cair (POC) terbukti efektif meningkatkan hasil dari kondisi eksisting petani. Penggunaan PPC dan POC masing-masing memberikan pengaruh peningkatan hasil sebesar : Atonik 53%, Baguse 56%, Atonik + Baguse 54% dan Organox 46%. Pengkajian intensifikasi budidaya menggunakan beberapa jenis POC & PPC dan penggunaan mulsa plastik mampu meningkatkan berat umbi. Sumber : Kajian Intensifikasi Budidaya Bawang Putih di Kabupaten Tegal oleh Samijan, Tri Reni Prastuti, dan Joko Pramono