Loading...

INTERMITTEN DALAM PENGELOLAAN TANAMAN PADI (Ngatimin, SP)

INTERMITTEN DALAM PENGELOLAAN TANAMAN PADI (Ngatimin, SP)
Padi merupakan salah satu tanaman yang membutuhkan air relative banyak. Namun demikian harus diimbangi dengan pengaturan air sehingga tidak selalu jenuh selama dalam pertumbuhannya. Hal ini dikarenakan tanaman tersebut juga memerlukan oksigen dan pasokan nutrisi. Pengaturan air disesuaikan dengan kebutuhan air untuk tanaman. Pada persiapan tanah atau ketika pengolahan tanah diperlukan air yang mencukupi sehingga ketika dibajak/ditraktor tanah mudah terbalik dan tidak mengakibatkan mesin bekerja dengan berat. Pada jumlah air yang berlebihan, mempersulit jalan traktor apalagi bila air tersebut sampai ke dalam mesin traktor dapat mengakibatkan konslet atau kerusakan mesin. Namun demikian apabila jumlah air kurang, maka mata traktor harus terasah dengan baik sehingga dapat memecah tanah walaupun dalam pembalikan tanahnya lebih ringan. Ketika dilakukan penanaman, secara konvensional perlu diatur agar permukaan air tidak terlalu tinggi yaitu tidak melebihi bibit yang ditanam dan optimalnya setengah dari tinggi bibit agar pertumbuhan tunas tidak terganggu. Pada penanaman dengan mesin tanam, pengairan sebisa mungkin tidak lebih dari 5 cm atau cukup basah tapi air tidak sampai setengah dari ketinggian bibit. Hal ini akan mempermudah bagi mesin untuk menaruh bibit dan tidak banyak kotoran dipenjepit sehingga mempermudah dalam pengambilan bibit. Pada penanaman menggunakan system Tabela, dibutuhkan perataan tanah dan pembuatan saluran air sehingga diperlukan air dengan ketinggian tidak lebih dari 2 cm dari permukaan air. Hal ini dikarenakan pengaturan tanah akan lebih mudah sehingga tidak akan kembali ke bentuk semulanya. Pada fase vegetatif, diperlukan pengairan yang cukup terutama seminggu awal tanam dan sebaiknya diberi selang pengeringan pada minggu ke dua dengan tujuan untuk merangsang pertumbuhan akar dan saat yang tepat untuk pemupukan pertama. Jumlah air yang tak berlebihan akan mempermudah akar dalam penyerapan hara dari pupuk. Pengeringan atau interval air jangan sampai tanah terbelah atau terjadi kekeringan pada tanaman yang ditandai dengan perubahan warna daun dari hijau menjadi kuning atau coklat. Pemberian air lanjutan dilakukan paling cepat tiga hari setelah dilakukan pemupukan dengan asumsi seluruh hara dari pupuk telah terserap tanah dan akar tanaman. Pengairan dilakukan selama satu minggu setelahnya atau setelah dilakukan pembersihan gulma dan pemupukan tahap ke dua. Hal ini untuk memacu pertumbuhan vegetative menuju generatif. Pada fase generatif kebutuhan air semakin meningkat dikarenakan pertumbuhan batang dan daun sudah maksimal dan membutuhkan air dan nutrisi yang ada di dalam tanah untuk pembentukan bunga dan malai. Pada masa bunting jangan sampai terjadi kekeringan dikarenakan apabila terjadi kekeringan akan mengakibatkan kegagalan dalam pembentukan malai sehingga tanaman tidak dapat membentuk malai maupun bulir padi atau terbentuk malai yang tidak optimal. Pada masa pengisian biji, disarankan untuk memberikan pengairan paling tidak tanah basah dan nada sedikit air dipermukaan sehingga tidak menjadi layu dan pengisian bulir padi maksimal. Pengairan dapat dihentikan dengan ditandai oleh ujung malai yang menguning. Karena pada masa ini padi sudah tidak membutuhkan air dalam jumlah banyak. Pada saat seminggu sebelum panen sudah bisa dilakukan pengeringan secara menyeluruh sehingga dengan harapan ketika panen tanah sudah keras sehingga mempermudah proses pemanenan dan sekaligus penghematan air. Metode pengairan dengan intermitten tersebut mempunyai kendala dimana air yang tersedia tidak sesuai dengan kebutuhan tanaman sehingga terkadang petani perlu melakukan penyesuai sehingga jumlah air sesuai untuk kegiatan budidaya terutama pada saat penanaman dan pemupukan. Namun demikian yang perlu diperhatikan adalah ketercukupan air sampai akhir pertanaman atau sampai panen.