Jagung merupakan komoditas tanaman pangan yang memiliki peranan penting dan strategis dalam pembangunan nasional. Sekarang ini jagung tidak hanya digunakan sebagai bahan pangan tetapi juga digunakan sebagai bahan pangan dan industri bahkan di luar negeri sudah mulai digunakan sebagai bahan bakar alternatif (biofuel). Permintaan jagung terus mengalami peningkatan berbanding lurus dengan pertumbuhan penduduk, sebagai dampak dari peningkatan kebutuhan pangan, konsumsi protein hewani dan energi. Sebagian besar dari pemenuhan konsumsi protein hewani masyarakat bersumber dari daging ayam. Dalam hai ini jagung merupakan bahan baku utama pakan ternak. Selain itu, jagung akan semakin diperhitungkan kegunaannya sebagai bahan baku energi alternatif (biofuel) seiring dengan semakin berkurangnya cadangan minyak bumi dunia.Menyadari fungsi dan peran jagung tersebut, maka pemerintah berupaya untuk mewujudkan peningkatan produksi jagung. Kabinet Kerja telah menetapkan kebijakan swasembada komoditas padi, jagung dan kedelai melalui Upaya Khusus (UPSUS) padi, jagung dan kedelai yang harus dicapai dalam 3 tahun, dimulai tahun 2015. Untuk meningkatkan produksi jagung, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian telah merilis varietas jagung hibrida bima -7 dan bima- 8 yang berumur genjah. Jagung Hibrida Bima-7Jagung hibrida bima-7 merupakan varietas jagung temuan peneliti dari Balai Penelitian Serelia (Balitsereal) Maros ini memiliki berbagai keunggulan antara lain berumur genjah atau dipanen pada umur 89 hari, produktivitasnya mampu mencapai 12,1 ton/ha pipilan kering. Batang dan perakarannya kuat membuat tanaman yang tingginya sekitar 195 cm ini tidak mudah rebah. Varietas hasil persilangan antara galur murni GJ11 sebagai tetua betina dengan galur murni GJ15 sebagai tetua jantan (GJ11 x GJ15) ini juga tahan terhadap penyakit bulai, toleran terhadap helmintosporium, dan penyakit karat daun. Hal ini penting karena pertanaman jagung di Indonesia sekitar 79 % di lahan tegal dan 10% di lahan sawah tadah hujan yang memerlukan varietas genjah (Spesifikasi jagung hibrida varietas bima-7 sebagai berikut:Umur : genjah50% keluar rambut: + 49 hari setelah tanamMasak fisiologis : + 89 hari setelah tanamBatang : tegak dan kuatWarna batang : hijauKeragaman tanaman : seragamPerakaran : kuatBentuk malai : besar dan terbukaWarna malai (anthera): putih kekuninganWarna sekam (glume): hijau keunguanWarna rambut : putih kekuninganBentuk tongkol : panjang dan silindrisKedudukan tongkol : pertengahan tinggi tanamanKelobot : menutup raparTipe biji : mutiaraBaris biji : lurus dan rapatWarna biji : oranyeBobot 1.000 biji : + 316 gramRata-rata hasil : 10 ton/ha pipilan keringPotensi hasil : 12,1 ton/ha pipilan keringKetahanan : Agak toleran terhadap penyakit bulai (Peronosclerosporamadys L.), toleran penyakit karat dan bercak daun (Lasarus KL, Pusat Penyuluhan Pertanian)Sumber : Slamet Widayadi. Jagung Hibrida Varietas Bima-7 Tanaman Antar Musim. Majalah Sains Indonesia Edisi 26 Februari 2014Sumber Gambar : www.sainindonesia.co.id