Itik yang berasal dari Cherry Valley Farm di Inggris ini mulai diadaptasikan dengan iklim Indonesia pada bulan November 1993 oleh sebuah usaha peternakan di Bogor dan baru dikomersilkan pada tahun 1995 dengan merek dagang CV 2000-INA. Di Inggris, itik CV 2000-NA telah menjalani penelitian dan pengembangan rekayasa genetika selama ? 25 tahun. Hasilnya diperoleh adalah itik dengan kemampuan produksi rata-rata 285 butir per ekor per tahun. Angka ini melebihi produktivitas ayam ras petelur putih (277 butir) dan ayam ras petelur cokelat (269 butir). Karakteristik lain dari itik CV 2000 ini adalah sebagai berikut. Mulai bertelur pada umur 21 minggu dengan produksi sekitar 10 Puncak produksi pada umur 26-32 minggu dan mampu mencapai 90. Umur 52 minggu produksi masih bertahan pada 75 dan umur 72 minggu masih bertahan sekitar 65. Berat telur 80 g per butir, lebih berat dari itik lokal dengan kandungan gizi lumayan tinggi, yaitu protein 13,5; lemak 13,4; abu 1; dan bahan kering 30,3. Warna kerabang telur hijau kebiru- biruan, mirip telur lokal sehingga sesuai dengan pasar Indonesia. Itik yang memiliki mutu genetik baik ini harus dipelihara dalam lingkungan yang baik pula, termasuk pakannya. Namun, yang perlu diperhatikan adalah itik CV 2000-NA ini tidak bisa dilepas atau digembalakan layaknya itik lokal karena merupakan itik ras. Hal ini sepertinya yang mendasari itik CV 2000-NA kurang berkembang di Indonesia. Sumber : Ir. Supriyadi, MM, Panduan Itik, 2011.