Loading...

Jenis-jenis Dan Cara Mengendalikan Hama Pada Tanaman Cabai Merah

Jenis-jenis Dan Cara Mengendalikan Hama Pada Tanaman Cabai Merah
Penulis : Hotma Sri Wulan Sihombing BPP Kecamatan Pahae Jae 1. Trips ( parvispinus) Trips menyerang tanaman cabai sepanjang tahun, serangan hebat umumnya terjadi pada musim kemarau. Serangga dewasa bersayap seperti jumbai (sisir bersisi dua), sedangkan nimfa tidak bersayap. Warna tubuh nimfa kuning pucat, sedangkan serangga dewasa berwarna kuning sampai coklat kehitaman (Gambar 1). Panjang tubuh sekitar 0.8 – 0.9 mm. Daur hidup trips dari telur sampai dewasa di dataran rendah berkisar antara 7 – 12 hari. Tanaman inang trips lebih dari 105 jenis tanaman dari keluarga Cucurbitaceae, Solanaceae, Malvaceae dan Leguminoceae. Inang utama trips antara lain adalah tembakau, kopi, ubi jalar, krotalaria dan kacang-kacangan. Permukaan bawah daun yang terserang berwarna keperak-perakan dan daun mengeriting atau berkerut (Gambar 2). Intensitas serangan dapat mencapai 87% (Sastrosiswojo dan Basuki 2002). Cara Pengendalian : Menggunakan tanaman perangkap seperti kenikir kuning. Menggunakan mulsa perak Sanitasi lingkungan dan pemotongan bagian tanaman yang terserang thrips. Penggunaan perangkap warna kuning sebanyak 40 buah per ha atau 2 buah per 500 m2 yang dipasang sejak tanaman berumur 2 minggu. Perangkap dapat dibuat dari potongan bambu yang dipasang plastik map warna kuning. Plastik diolesi dengan lem agar thrips yang tertarik menempel. Apabila plastik sudah penuh dengan thrips maka plastik perlu diganti. Pemanfaatan musuh alami yang potensial untuk mengendalikan hama thrips, antara lain predator kumbang Coccinellidae, tungau, predator larva Chrysopidae, kepik Anthocoridae dan patogen Entomophthora sp. Pestisida digunakan apabila populasi hama atau kerusakan tanaman telah mencapai ambang pengendalian (serangan mencapai lebih atau sama dengan 15% per tanaman contoh) atau cara-cara pengendalian lainnya tidak dapat menekan populasi hama. 2. Kutudaun Persik (M. persicae) Kutudaun persik selalu ditemukan di areal pertanaman cabai merah Ukuran tubuhnya kecil (1 – 2 mm), Kutudaun muda (nimfa atau apterae) dan dewasa (imago atau alatae) mempunyai antena yang relative panjang, kira-kira sepanjang tubuhnya. Nimfa dan imago (bersayap) mempunyai sepasang tonjolan pada ujung abdomen yang disebut kornikel. Ujung kornikel pada kutu daun persik berwarna hitam (Gambar 2). Perkembangbiakannya dilakukan dengan dua cara, yaitu (1) dengan perkawinan biasa (di daerah subtropis) dan (2) secara “parthenogenesis”atau melahirkan anak. Di daerah tropis, daur hidupnya berkisar antara 10 – 20 hari, sehingga dalam satu tahun terdapat 8 – 20 generasi. Tanaman inang M. persicae lebih dari 400 jenis, antara lain adalah kentang, kubis, wortel, seledri, mentimun, terung bayam, cabai, tembakau, tomat, dan petsai. Secara langsung tanaman yang terserang keriput, tumbuhnya kerdil, kekuningan, daun-daun terpuntir, layu lalu mati (Gambar 3). Secara tidak langsung kutudaun persik merupakan vektor penting penyakit virus menggulung daun kentang (PLRV) dan PVY. Cara Pengendalian : Pengendalian hama kutu daun ini dapat dilakukan dengan penyemprotan insektisida, bila populasi tinggi (ambang batas), yaitu lebih dari 50 setiap tanaman pada tanaman muda, tanaman pindahan, hampir panen. Musuh alami kutu daun ini dapat berupa parasitoid yaitu Diaretiella rapae, sedangkan predator yang berfungsi sebagai musuh alami dari hama ini seperti kumbang macan, laba-laba, larva dari syrphid, dan belalang sembah. 3. Tungau Teh Kuning (P. latus) P. latus lebih dikenal sebagai tungau teh kuning, menyerang tunas dan daun-daun yang baru tumbuh sehingga bentuknya berubah. Hama tersebut menyerang tanaman cabai sepanjang tahun, serangan hebat umumnya terjadi pada musim kemarau. Imago berkaki delapan, sedangkan nimfa berkaki enam. Warna tubuh kuning transparan. Ukuran tubuh + 0.25 mm. Tungau ukurannya kecil dan mengisap cairan sel daun. Bercak-bercak klorotik yang disebabkan oleh tungau ini menyebabkan daun berwarna gelap, sebaliknya infestasi tungau yang tinggi menyebabkan daun dan tanaman mati. Tanaman inang P. latus lebih dari 57 jenis tanaman antara lain cabai, tomat, karet, dan teh. Daun yang terserang menjadi berwarna tembaga, tepi daun mengeriting, tunas dan bunga gugur (Gambar 4). Cara Pengendalian : Sanitasi dengan mengeradikasi bagian tanaman yang terserang kemudian dimusnahkan. Pemanfaatan musuh alami yaitu predator Ambhyseins cucumeris Pengendalian dengan akarisida yang efektif, terdaftar dan diijinkan Menteri Pertanian dilakukan apabila ditemukan gejala kerusakan daun dan populasi tungau. 4. Ulat Tanah (A. ipsilon)Ulat tanah merupakan hama penting tanaman sayuran muda seperti kubis, petsai, tomat, dan cabai. Tanaman inang lainnya adalah tembakau, cabai merah, dan kacang-kacangan. Ngengat A. ipsilon berwarna coklat tua dengan beberapa titik putih bergaris-garis, kecuali bagian depannya berwarna abu-abu atau coklat pucat dan aktif pada malam hari untuk berkopulasi, makan dan bertelur (Gambar 5). Lama hidup ngengat A. ipsilon 7 – 14 hari. Telur diletakkan berkelompok atau tunggal pada daun muda. Telur berbentuk bulat kecil bergaris tengah 0,5 mm dan berwarna kuning muda. Telur menetas setelah 3 – 5 hari. Seekor ngengat betina mampu menghasilkan telur sekitar 500 – 2.500 butir. Larva berwarna coklat tua sampai coklat kehitam-hitaman panjangnya sekitar 30 – 35 mm. Stadium larva terdiri atas 4 – 5 instar. Larva aktif pada senja/malam hari. Pada siang hari, larva bersembunyi di permukaan tanah di sekitar batang tanaman muda, pada celah-celah atau bongkahan tanah kering. Pada saat istirahat, posisi tubuh larva sering melingkar (Gambar 5). Pada senja atau malam hari ulat tanah aktif, muncul ke permukaan tanah, kemudian memotong pangkal batang dan tangkai daun tanaman cabai yang masih muda. Akibatnya tanaman muda roboh dan kelihatan terpotong.Kerusakan berat pada pertanaman cabai merah kadang-kadang terjadi diawal musim kemarau. Fase perkembangan larva sekitar 18 hari. Pupa berwarna coklat terang berkilauan atau coklat gelap. Pupa dibentuk di dalam tanah. Fase pupa adalah 5 – 6 hari. Daur hidup A.ipsilon dari telur sampai dewasa adalah 36 – 42 hari. Lamanya daur hidup tergantung pada tinggi rendahnya suhu udara (Kalshoven 1981). Gejala serangan ditandai dengan terpotongnya tanaman pada pangkal batang. Akibatnya tanaman menjadi roboh (Gambar 6). Kerusakan semacam ini dapat mengakibatkan kerugian yang berarti yaitu matinya tanaman muda sebesar 75 - 90% dari seluruh bibit yang ditanam (Sasrodihardjo 1982). 5. Gangsir (B. portentotus) Cengkerik penggali tanah (gangsir), di Jawa Barat lebih dikenal dengan sebutan beunceuh atau kasir berwarna kecoklat-coklatan dengan sungut pendek, dan tungkai-tungkai depannya sangat lebar. Telur berbentuk lonjong dengan ukuran 4 – 6,5 mm. Dalam satu kelompok biasanya terdiri atas 30 – 50 telur. Satu ekor betina mampu menghasilkan telur sebanyak 100 – 200 butir. Serangga-serangga ini hidup di dalam tanah dengan cara membuat lubang di dalam tanah sampai dengan 90 cm di bawah permukaan (Kalshoven 1981). Satu lubang biasanya dihuni oleh 1 – 2 ekor gangsir. Serangan berat biasanya terjadi pada awall bulan Juli sampai dengan akhir bulan Agustus. Siklus hidupnya sekitar 21 hari. Tanaman inangnya antara lain adalah cabai merah, kubis, buncis, tomat, cabai merah, ketela pohon, kopi, dan teh. Gejala serangan ditandai terpotongnya tanaman pada pangkal batang (Gambar 8). Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa kerugian yang diakibatkan oleh serangan gangsir ini dapat mencapai 50 – 60% dari seluruh bibit yang ditanam. 6. Anjing Tanah atau Orong-orong ( G. africana dan G. hirsuta) Orong-orong tinggal di bawah permukaan tanah, memiliki sepasang kaki depan yang kuat dan dapat digunakan untuk melindungi diri. Imago terbang pada malam hari dan sering tertarik oleh cahaya lampu. Imago menyerupai jangkrik, panjang kira-kira 3 cm. Warnanya merah tua (Gambar 9). Nimfa seperti serangga dewasa tetapi ukurannya lebih kecil. Sifatnya sangat polifag memakan akar, umbi tanaman muda dan serangga. Tanaman inang lain adalah kentang dan bawang merah. 7. Uret ( Phyllophaga spp. dan Scarabaeidae lainnya) Uret merupakan larva kumbang yang ukurannya relatif besar. Panjang uret dapat mencapai 5 cm. Tubuhnya kokoh dan melengkung, mempunyai kaki pada toraks (dada) (Gambar 10). Kerusakan dapat terjadi apabila cabai di tanam pada lahan bekas padang rumput. 8. Ulat Bawang (S. exigua) Ngengat berwarna kelabu dengan sayap depan berbintik kuning. Seekor ngengat betina mampu menghasilkan telur sebanyak 1.000 butir. Telur diletakkan secara perkelompok pada tanaman cabai atau gulma yang tumbuh disekitarnya. Telur dilapisi oleh bulu-bulu putih yang berasal dari sisik tubuh induknya. Telur berwarna putih, dengan bentuk bulat atau bulat telur (lonjong) dengan ukuran sekitar 0,5 mm. Larva berbentuk bulat panjang, berwarna hijau atau coklat dengan kepala berwarna kuning kehijauan. Lamanya daur hidup sekitar 15 – 17 hari pada suhu 30 – 33 0C (Gambar 11). Pupa dibentuk dalam tanah. Hama ini bersifat polifag. Lebih dari 200 jenis tanaman menjadi inangnya. Tanaman inang lain yaitu bawang kucai, bawang daunbawang putih, kubis, kentang, cabai merah, dll. Gejala serangan berupa bercak-bercak putih transparan pada daun. 9. Ulat Grayak (S. litura) Ngengat berwarna agak gelap dengan garis putih pada sayap depannya, sedangkan sayap belakang berwarna putih dengan bercak hitam. Seekor ngengat betina mampu menghasilkan telur 2.000 – 3.000 butir. Telurnya berwarna putih diletakkan berkelompok dan berbulu halus seperti diselimuti kain laken. Dalam satu kelompok telur terdapat sekitar 350 butir telur. Larva mempunyai warna yang bervariasi, tetapi mempunyai kalung hitam pada segmen abdomen yang keempat dan kesepuluh (Gambar13). Pada sisi lateral dan dorsal terdapat garis kuning. Pupa berwarna coklat gelap terbentuk pada permukaan tanah. Tanaman inangnya antara lain adalah tembakau, cabai, bawang merah, terung, kentang, kacang-kacangan, dan lain-lain (Brown dan Dewhurst, 1975). Pada daun yang terserang oleh larva yang masih kecil terdapat sisa-sisa epidermis bagian atas dan tulang-tulang daun saja. Larva yang sudah besar merusak tulang daun dan buah. Gejala serangan pada buah ditandai dengan timbulnya lubang tidak beraturan pada buah cabai. Serangan berat dapat menyebabkan tanaman menjadi gundul. 10. Lalat Pengorok Daun (L. huidobrensis) Serangga dewasa berupa lalat kecil berukuran sekitar 2 mm (Gambar 13). Fase imago betina rata-rata 10 hari dan jantan 6 hari (Supartha, 1998). Siklus hidupnya sekitar 28 hari. Telur berbentuk ginjal diletakkan pada jaringan epidermis, berukuran 0,1-0,2 mm dan bentuknya oval. Fase telur adalah 2-4 hari. Larva berbentuk silinder berwarna putih bening terdiri atas tiga instar, ukuran larva 2,5 mm tidak mempunyai kepala atau kaki. Fase larva adalah sekitar 6-12 hari. Pupa dibentuk dalam tanah, berwarna kuning kecoklatan. Fase pupa adalah sekitar 9 - 12 hari. Tanaman inangnya adalah kentang, tomat, seledri, wortel, terung, mentimun, cabai, semangka, dan kacang-kacangan. Larva merusak tanaman dengan cara mengorok daun (Gambar 14), sedangkan serangga dewasa merusak tanaman dengan cara tusukan ovipositor pada saat oviposisi dan dengan menusuk dan menghisap cairan tanaman. Akibatnya proses fotosintesis tanaman terganggu, sehingga dapat menimbulkan kematian atau gugur daun sebelum waktunya