Loading...

JENIS-JENIS DAN FUNGSI PUPUK CAIR HAYATI

JENIS-JENIS DAN FUNGSI PUPUK CAIR HAYATI
Dalam ranga menangulangi pupuk kimia yang langka saat ini, pemerintah, swata dan para pelaku usaha maupun pelaku usaha bidang pertanian sedang berlomba-lomba membuat pupuk organik sebagai solusi pupuk langka dan biaya mahal. Pupuk oranik cair bisa dipakai sebagai pelengkap dan perangsang tumbuhan untuk tumbuh lebih baik melalui pemenuhan nutri mikroba2 baik yang dibutuhkan tanaman. Terdapat banyak jenis-jenis pupuk organik yang mempunyai fungsi masing-masing mengandung aneka macam microba yang penting buat pertumbuhan tanaman, antara sebagai berikut: Pupuk Hayati Nitrogen-Fixer. Pupuk hayati yang dirancang untuk membantu penyediaan unsur N. Pupuk ini mengandung mikroba inokulan atau kelompok mikroorganisme yang mampu mengubah N 2 dari udara menjadi senyawa organik dalam bentuk yang bisa dimanfaatkan tanaman (nitrat dan nitrit). Dengan demikian, pupu k hayati ini menangkap N 2 udara dan meningkatkan kandungan N 2 dalam tanah. Beberapa mikroorganisme yang digunakan sebagai pupuk hayati Nitrogen fixing di antaranya adalah (a) Famili Rhizobium yang hidup dalam bintil akar leguminosae ; (b) Famili Frankia digunakan sebagai simbiotik yang mengubah N2 agar siap pakai; (c) Bakteri-bakteri penambat N non simbiotik dari famili Azotobacter yang hidup di rhizosfera tanaman di lahan kering; (d) Clostridium yang hidup di tanah tergenang/ tanah sawah; (e) Azospirillum yang hidup di permukaan atau di dalam akar digunakan sebagai simbiotik asosiatif pupuk hayati pengikat N 2; (f) Cyanobacteria yang hidup di tanah yang tergenang misalnya pada tanah sawah yang memanfaatkan N 2 bebas dari udara menjadi N 2 dalam tanah; (g) Mycobacterium ; (h) Bacillus; dan lain-lain yang belum teridentifikasi. Dalam pengikatan N selain peran bakteria juga peran dari ganggang biru hijau ( blue green algae ) seperti Anabaena azollae dan keluarga Anabaena yang lain, Nostac, Tolypothrix, Anabaenopsis dan lain- lain yang belum teridentifikasi. Pupuk Hayati Pelarut Fosfor ( Phosphates solubilizing biofertilizers). Pupuk hayati ini melarutkan fosfat (P) yang tidak terlarut menjadi berbagai jenis senyawa fosfat dan siap digunakan tanaman. Mineral ini menurunkan keasaman tanah dengan mengeluarkan asam organik dan melarutkan fosfat. Beberapa bakteri yang digunakan dis ebut sebagai P -solubilizing microbes yaitu di antaranya Bacillus megatherium , Pseudomonas striata , Bacillus circulans , Bacillus subtilis; dan beberapa jamur mikroskopik seperti Aspergillusawamori dan Penicillium spp . Pupuk Hayati Memobilisasi Fosfor . Berbagai jenis kapang/fungus dan mycorrhiza, yang menstimulasi transfer ion fosfat dan proses metabolisme, termasuk dalam kelompok pupuk hayati ini. Mikroorganisme yang digunakan disebut sebagai P mobilizing biofertilizers di antaranya Glomus spp., Gigaspora spp., Boletus sp ., Laccaria spp., Pisolithus sp., Rhizoctoniasolani, Pezizellaericae dll. Pupuk Hayati Mineral Mikroba yang digunakan di sini adalah spesies mikroba pelarut silika dan zing. Mikroba -mikroba ini juga mendegradasi silika dan aluminium. Contoh kelompok mikrobanya adalah Bacillus spp . Pupuk Hayati Pemercepat Pertumbuhan Tanaman Mikroba-mikroba ini bertindak sebagai pupuk hayati yang menstimulasi pertumbuhan tanaman dengan meningkatkan keanekaragaman dan ketersediaan hara dalam tanah. Mikroba ini juga efektif bertindak sebagai pestisida alami maupun pelindung hayati ( bioprotectant ). Contoh dari mikroba dalam kelompok ini adalah Pseudomonas sp., dan Bacillus sp . Dalam bentuk lainnya pupuk ini disebut sebagai PGPR ( Plant Growth Promoter Rhizobacter ) karena memiliki rhizobacteria pada solusinya. ZPT (Zat Pengatur Tumbuh) Biasa disebut Hormon merupakan formula hormon tumbuhan, atau fitohormon, adalah sekumpulan senyawa organik bukan hara (nutrien) yang mengubah pertumbuhan, perkembangan, dan pergerakan (taksis) tumbuhan. Penggunaan istilah "hormon" sendiri menggunakan analogi fungsi hormon pada hewan, yaitu semacam program memerintah tanaman ke arah tujuan tertentu. Penyebaran hormon tumbuhan tidak harus melalui sistem pembuluh karena hormon tumbuhan dapat ditranslokasi melalui sitoplasma atau ruang antarsel. Terdapat ratusan hormon tumbuhan atau Zat Pengatur Tumbuh (ZPT).Terdapat lima kelompok utama hormon tumbuhan, yaitu auksin (AUX), sitokinin (CK), giberelin (atau asam giberelat, GA), etilena (etena, ETH), dan asam absisat (abscisic acid, ABA). Tiga kelompok yang pertama cenderung bersifat positif bagi pertumbuhan pada konsentrasi f isiologis, etilena dapat mendukung maupun menghambat pertumbuhan, dan asam absisa terutama merupakan penghambat (inhibitor) pertumbuhan. Selain kelima kelompok itu, dikenal pula kelompok -kelompok lain yang berfungsi serupa hormon tumbuhan namun diketahui bekerja untuk beberapa kelompok tumbuhan saja atau merupakan hormon eksogen, yaitu brasinosteroid, asam jasmonat, asam salisilat, poliamina, dan karrikin. PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria ) adalah simbiotik bakteri dan jamur yang memacu pertumbuhan tanaman. Bakteri yang terdapat dalam PGPR adalah sejenis bakteri yang biasa hidup di akar tanaman, yang disebut rhizosfera. Mikroorganisme ini hidup berkoloni di sekitar akar tanaman yang dapat membantu memacu pertumbuhan tanaman dan meningkatkan ketahanan tanaman terhadap jamur patogen. Bakteri akar ini juga mampu menyediakan beragam mineral yang dibutuhkan tanaman seperti besi, fosfor, atau belerang. PGPR juga memacu peningkatan hormon tanaman. Peningkatan hormon tanaman inilah yang secara langsung mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Lihat tentang hormon di atas. Pupuk Bakteri Fotosintesis (PSB, photosynthetic bacteria ) Adalah bakteri autotrof yang dapat berfotosintesis. PSB memiliki pigmen yang disebut Bakteriofil a atau b yang dapat memproduksi pigmen warna merah, hijau, hingga ungu untuk menangkap energi matahari sebagai bahan bakar fotosintesis. Bakteri fotosintetik merupakan bakteri yang dapat mengubah bahan organik menjadi asam amino atau zat bioaktif dengan bantuan sinar matahari.Terdapat banyak sekali bakteria fotosintesis seperti bakteri ungu sulfur, bakteri ungu non sulfur, bakteri hijau dan lain-lain. Pembuatan biang bakteri PSB kebanyakan menggunakan substrat telur yang kaya protein dengan bantuan katalis mineral misalnya MSG ( monosodium glutamat ) atau garam dalam mengisolasi bakteri. Proses isolasi ini disebut fragmentasi. Proses fragmentasi sering memerlukan waktu lama dan bervariasi antara 2 minggu, satu bulan atau lebih lama, yang teramati dengan perubahan warna pigmen bakteri hasil isolasi sebagai indikator keberhasilan. Perubahan pigmen warna ini ditentukan oleh jenis bakteri, bahan substitusi dan kondisi seperti adanya penyinaran sinar matahari atau tidak. Dalam proses fragmentasi bakteri bermetabolisme menghasilkan berbagai senyawa termasuk asam amino, sulfat dan senyawa -senyawa lainnya. Karena proses fragmentasi memakan waktu lama, beberapa senyawa bisa terurai karena panas atau teroksidasi sehingga menimbulkan bau kurang sedap. Untuk mengatasi agar senyawa tidak terurai atau pecah adalah dengan memindahkan PSB hasil fragmentasi sebanyak 150-200 ml ke dalam wadah baru dengan bahan - bahan baru misalnya den gan telur, buah, minyak ikan, daun air leri dan lain - lain, dan dibiarkan lagi selama 5 hari atau langsung digunakan dengan spray. PSB membantu menambahkan energi berupa nitrogen kepada tanaman sehingga mempercepat pertumbuhan (vigor) tanaman, menambahkan gas hidrogen sulfida di dalam tanah dari proses dekomposisi bahan organik. PSB menjadi sumber mineral asam amino, asam nukleat, senyawa aktif fisiolog is dan polisakarida. PSB meningkatkan kualitas rasa dan penampilan tanaman dan memperkuat imun tanaman terhadap serangan hama dan penyakit. Mikoriza berasal dari kata Mycos yang berarti jamur dan Ryzos yang berarti akar. Mikoriza adalah beberapa jenis kapang mikrosokopik atau mikroflora yang menempel pada akar tanaman lalu bekerja sama simbiotik dengan akar tanaman. Sekitar 80% tanaman yang ada diketahui mampu bersimbiosis dengan mikoriza. Penyebaran mikoriza pada lahan pertanian di Indonesia pun cukup luas, terutama pada daerah dengan salinitas tinggi atau di daerah pantai. Mikoriza yang tersebar di alam ada beberapa jenis, namun yang berpotensi untuk dikembangbiakkan diantaranya: Glomus, Gigaspora dan Acaulospora. Jamur Mikoriza akan mendapatkan zat gula / glukosa dari tanaman melalui akarnya. Sementara itu, akar dari tanaman yang ditempeli Mikoriza akan menerima kiriman unsur hara, air, dan beberapa nutrisi penting lainnya dari jamur tersebut. Mekanisme kerja mikoriza dalam akar adalah meningkatkan kemampuan tanaman untuk menyerap unsur-unsur penting pertumbuhan pada tanah. Selain itu, mikoriza berperan penting dalam pertumbuhan, kesehatan,serta produktifitas tumbuhan. Mikoriza dibagi menjadi dua kelompok yaitu: ektomikoriza dan endomikoriza. Root endophytic fungi atau kapang endofit akar seperti Dark Septate Endophytes (DSE), Piriformospora indica dan berbagai jenis Trichoderma menunjukkan hubungan mutualistik dengan banyak spesies tanaman dalam menjaga kelangsungan hidup tanaman dalam kondisi stres yang ekstrim. Plant –growth promoting fungi (PGPF). Kelompok kapang seperti Aspergillus, Fusarium, Penicillium, Piriformospora, Phoma, dan Trichoderma berperan penting pada pertumbuhan tanaman. Ini adalah beberapa fungi yang sudah bisa dikultur, dan lebih banyak yang belum bisa dikultur. Bio-Chemical Organic Fertilizer (BCOF) Bio-Chemical Organic Fertilizer merupakan kombinasi dari dari tiga pupuk. Pertama adalah pupuk organik yaitu mineral -mineral yang diakumulasi dari bahan -bahan organik, terutama tanaman; kedua, pupuk kimia (pupuk kimia) atau pupuk sintetik terutama urea dan; ketiga, pupuk hayati atau mikroorganisme (agen hayati) yang memungkinkan membuat simbiosis mineral antara kimia dan organik, mengurai residu kimia sehingga kedua jenis pupuk dapat bekerja optimal pada lahan tanpa meninggalkan residu pembantattanah. Compost Tea adalah cairan yang dihasilkan dari proses dekomposisi bahan - bahan organik. Secara umum Teknologi ini memungkinkan untuk transisi pengurangan pupuk kimia pabrikan dan memanfaatkan kerja bakteri dalam mengurai residu yang telah ada pada tanah dalam proses komposting, menghasilkan kompos yang berbentuk padat. Di alam kompos menghasilkan produk sampingan yang mengandung hara dan nutrisi yang lengkap berbentuk cairan yang mengalir dari proses dekomposisi. Misalnya pada dekomposisi yang dilakukan cacing tanah akan mengeluarkan cairan yang memisah yang kemudian disebu twormtea atau teh cacing. Demikian pula pada dekomposisi yang dilakukan maggot atau larva lalat tentara hitam. Teh kompos atau kadang disebut jus kompos atau kompos cair ini memiliki kandungan yang lengkap serta mikrooorganisme yang komplek yang dapat digunakan sebagai tambahan pupuk cair. Lilik W. Sumber: Modul Pertanian Regeneratif Berbasis Ekonomi Sirkular oleh BPPSDMP bekerjasama dengan WAIBI, 2022.