Tebu merupakan salah satu komoditas strategis dalam perekonomian Indonesia. Salah satu hasil olahan tebu berupa gula yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat. Karena merupakan kebutuhan pokok, maka dinamika harga gula akan mempunyai pengaruh langsung terhadap laju inflasi. Industri gula berbasis tebu merupakan salah satu sumber pendapatan bagi sekitar 900 ribu petani dengan jumlah tenaga kerja yang terlibat mencapai sekitar 1.3 juta orang. Salah satu cara meningkatkan produktivitas tebu adalah dengan intensifikasi tebu dengan cara meningkatkan kualitas varietas tebu yang akan ditanam. Berikut beberapa varietas tebu unggulan yang bisa mendukung peningkatan produktivitas komoditas tebu 1. AAS Agribun (2017) Varietas ini mempunyai produktivitas dan rendemen yang tinggi, yaitu mencapai 134.6 ± 68.95 ton/ha di lahan sawah dan 112.5 ± 33.11 ton/ha untuk lahan tegal. Rendemen yang diperoleh mencapai 10.05 ± 0,97 % di lahan sawah dan 7.76 ± 0.47 % di lahan tegal. Hablur yang dihasilkan mencapai 13.73 ± 5.87 ton/ha lahan sawah dan 8.70 ± 2.36 ton/ha di lahan tegal. Klon mutan baru tersebut juga mempunyai kadar sabut mencapai 13.10% %. Varietas ini cocok untuk dikembangkan spesifik untuk lokasi dengan iklim C2 Oldeman, tekstur tanah geluh (loamy).Status: Komersial 2. AMS Agribun (2017) Varietas ini mempunyai produktivitas stabil pada semua lokasi pengujian dengan produktivitas 132.5 ± 63.34 ton/ha di lahan sawah dan 110.0 ± 57.52 ton/ha di lahan tegal, rendemen 10.03 ± 0.45 % di lahan sawah dan 7.84 ± 0.11% di lahan tegal. Hablur gula yang diperoleh mencapai 13.10 ± 4.82 ton/ha di lahan sawah dan 8.60 ± 4.31 ton/ha di lahan tegal. 3. ASA Agribun (2017) Varietas ini mempunyai produktivitas dan rendemen yang tinggi, yaitu mencapai 134.6 ± 68.95 ton/ha di lahan sawah dan 112.5 ± 33.11 ton/ha untuk lahan tegal. Rendemen yang diperoleh mencapai 10.05 ± 0,97 % di lahan sawah dan 7.76 ± 0.47 % di lahan tegal. Hablur yang dihasilkan mencapai 13.73 ± 5.87 ton/ha lahan sawah dan 8.70 ± 2.36 ton/ha di lahan tegal. Klon mutan baru tersebut juga mempunyai kadar sabut mencapai 13.10% %. Varietas ini cocok untuk dikembangkan spesifik untuk lokasi dengan iklim C2 Oldeman, tekstur tanah geluh (loamy). 4. CMG Agribun (2017) Varietas ini diperoleh melalui perakitan tebu menggunakan kombinasi keragaman somaklonal dengan iradiasi sinar gamma pada varietas asal PS 864. Melalui kegiatan seleksi, uji daya hasil dan uji adaptasi telah diperoleh varietas yang mempunyai rendemen tinggi dan stabil pada tipe agroekologi C2 dan C3 pada saat terjadi cekaman iklim la nina pada tahun 2016. Produktivitas yang dihasilkan adalah 102.3 ± 53.97 ton/ha di lahan sawah dan 84.77± 20.02 di lahan tegal. Rendemen yang diperoleh mencapai 10.68 ± 1.27% di lahan sawah dan 7.94 ± 0.2% di lahan tegal, sedangkan hablur gula mencapai 10.60 ± 1.75 ton/ha di lahan sawah dan 6.77 ± 2.34 ton/ha di lahan tegal. Kadar sabut dari klon mutan ini mencapai 14.84%. 5. POJ AGRIBUN KERINCI (2016) Potensi hasil:109 ton/haKeterangan:Varietas POJ Agribun Kerinci merupakan hasil seleksi dan evaluasi tebu lokal Kerinci berdasarkan penilaian daya kepras (jumlah anakan), produksi, rendemen, sifat lepas pada pelepah daun (klenthek), preferensi petani dan luasan areal penanaman. Tidak seperti di daerah lain, tebu di kabupaten Kerinci mempunyai nilai ekonomi bagi masyarakat lokal kabupaten Kerinci untuk menghasilkan gula merah. Potensi produksi mencapai 109 ton/ha/tahun, potensi hasil gula merah rata-rata 12,03 ton gula merah/ha/tahun, dan rendemen 11-12%. Berbeda dengan di Jawa, tebu dataran tinggi di Kabupaten Kerinci Propinsi Jambi dipanen secara selektif. Dengan sistim panen tebang pilih petani tidak perlu melakukan bongkar ratun. Varietas ini toleran terhadap penyakit mosaik dan cocok untuk dataran tinggi di Propinsi Jambi, Sumatera dan Aceh. Status: Komersial. (bgn)