Jagung merupakan salah satu komoditas tanaman pangan yang dapat mengambil peran dalam pembangunan sektor pertanian. Di Indonesia jagung merupakan komoditas pangan kedua setelah padi. Kebutuhan jagung terus meningkat dari tahun ketahun sejalan dengan peningkatan perekonomian masyarakat, industri pengolahan pangan, dan kemajuan industri pakan ternak sehingga perlu terus dilakukan upaya peningkatan produksi. Peningkatan produksi dan produktivitas jagung selain melalui perluasan areal tanam, dapat dilakukan melalui intensifikasi, khususnya dari aspek teknologi budidaya, antara lain penggunaan varietas unggul, teknologi budidaya lainnya termasuk diantaranya adalah pengaturan populasi tanaman. Penggunaan varietas saat ini lebih ditekankan pada pengembangan jagung hibrida karena memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan benih jagung biasa, keunggulan tersebut antara lain, masa panen lebih cepat, lebih tahan serangan hama dan penyakit serta produktifitasnya lebih tinggi. Demikian juga halnya dengan jagung manis yang mungkin semua pertanaman untuk tujuan komersil merupakan varietas jagung hibrida. Salah satu usaha untuk meningkatkan produktivitas tanaman yaitu dengan mengatur jarak tanam atau kepadatan tanaman per satuan luas. Populasi tanaman dalam kaitannya dengan jarak tanam, merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi hasil tanaman. Penanaman dengan mengatur jarak tanam bertujuan agar populasi tanaman mendapatkan bagian yang sama terhadap unsur hara yang diperlukan dan sinar matahari, serta memudahkan dalam pemeliharaan. Pada umumnya produksi per satuan luas yang tinggi di dapat dari populasi tertentu yang dapat memanfaatkan unsur hara dan penggunaan cahaya matahari secara maksimal. Pengaturan populasi tanaman bertujuan untuk mengefisienkan kompetisi intrapopulasi agar kanopi dan akar tanaman dapat memanfaatkan lingkungan secara optimal. jarak tanam jarang (populasi rendah) dapat memperbaiki pertumbuhan individu tanaman, tetapi memberikan peluang terhadap perkembangan gulma. Pertanaman jagung yang banyak ditumbuhi gulma berdampak negatif terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman karena terjadi kompetisi dalam pemanfaatan unsur hara, air, cahaya dan ruang tumbuh. Jarak tanam yang terlalu lebar dapat mengurangi jumlah populasi tanaman menyebabkan berkurangnya pemanfaatan cahaya matahari, dan unsur hara oleh tanaman, karena sebagian cahaya akan jatuh ke permukaan tanah dan unsur hara akan hilang karena penguapan dan pencucian. Pilihan suatu usaha dalam rangka meningkatkan produksi jagung adalah dengan pengaturan populasi tanaman (jumlah tanaman per satuan luas) yang merupakan faktor penting untuk mendapatkan hasil yang tinggi. Penggunaan jarak tanam yang tepat untuk jenis tanaman ditujukan untuk mengefisienkan persaingan antara tanaman dalam penyerapan air, unsur hara, penggunaan cahaya matahari dan persaingan dengan tumbuhan pengganggu. Penggunaan jarak tanam yang tepat sangat penting dalam pemanfaatan sinar matahari secara maksimum untuk proses fotosintesis. Oleh karena itu, diperlukan strategi pengaturan jarak tanam dan jumlah benih yang digunakan dengan harapan terciptanya kondisi lingkungan tumbuh yang sesuai untuk mencapai hasil maksimal. Pengkajian yang dilakukan oleh Kantikowati dan kawan-kawan bertujuan untuk mengetahui pengaruh jarak tanam dan jumlah benih terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis Varietas Paragon. Pengkajian dilaksanakan pada bulan April sampai dengan bulan Juni 2022 di Sukamulya, RT 01 RW 11 Desa Cikoneng, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat yang terletak pada ketinggian ±700 meter diatas permukaan laut. Pada pengkajian ini, semua tanaman diperlakukan sama terkait penggunaan pupuk kendang ayam, pupuk NPK Phonska, Urea, dan insektisida Furadan 3G. Ada tiga factor jarak tanam yang digunakan yaitu: 75 cm x 20 cm, 75 cm x 40 cm, dan 50 cm x 25 cm x 100 cm. Masing-masing jarak tanam ini dikombinasikan dengan jumlah benih per lubang yaitu: 1, 2, dan 3 benih. Hasil pengkajian yang diperoleh menunjukkan bahwa jarak tanam tidak berpengaruh terhadap bobot tongkol tanpa klobot per petak. Justru yang berpengaruh terhadap bobot tongkol tanpa klobot per petak adalah jumlah benih per lubang. Perbandingan masing-masing bobot tongkol tanpa klobot per petak ukuran 2 x 3 m antara 1 benih perlubang : 2 benih per lubang : 3 benih perlubang yaitu: 9,61 kg : 12,92 kg : 14,24 kg. Masing-masing hasil ini menunjukkan perbedaan yang nyata (Ahmad Damiri). Sumber: Kantikowati E, Karya, dan Iqfini HK. 2022. Pertumbuhan dan Hasil Jagung Manis (Zea mays SACCHARATA STURT) Varietas Paragon Akibat Perlakuan Jarak Tanam Dan Jumlah Benih. Jurnal Ilmiah Pertanian AgroTatanen. 4(2): 1 – 10.