Kacang tanah merupakan tanaman pangan yang telah banyak dibudidayakan oleh petani sebagai tanaman palawija dan telah beradaptasi dengan baik pada hampir di setiap provinsi di Indonesia termasuk Provinsi Bengkulu. Sebagai tanaman yang telah beradaptasi baik pada sistem usahatani, komoditas ini belum pernah menjadi tanaman pokok yang diproduksi dalam skala luas. Usaha produksi kacang tanah di Indonesia terkait erat dengan usahatani skala kecil yang bersifat subsisten. Tidak pernah dijumpai petani menanam kacang tanah mencapai luasan 5 ha atau lebih, yang terbanyak pada skala 0,2 hingga 1,0 ha per petani. Kacang tanah hanya berstatus sebagai tanaman penyelang atau tanaman tumpang sari. Sempitnya skala usaha dan status kacang tanah sebagai tanaman penyelang, serta tidak terdapatnya tapak lahan khusus untuk kacang tanah, nampaknya menjadi hambatan pengadopsian teknologi maju. Teknik budidaya kacang tanah belum banyak mengalami perubahan, hanya dalam aspek varietas yang kini tersedia lebih banyak pilihan. Akan tetapi, tersedianya teknologi berupa komponen varietas unggul, tanpa pengelolaan tanaman yang lebih baik, produktivitas tidak relatif berbeda dibandingkan dengan varietas lokal atau varietas unggul lama. Hal-hal tersebut nampaknya menjadi penyebab tetap rendahnya produktivitas kacang tanah. Terdapat enam komponen teknologi dasar inovasi teknologi pendekatan pengelolaan tanaman terpadu (PTT) kacang tanah, yaitu: (1) varietas unggul; (2) benih bermutu; (3) pengolahan tanah sempurna; (4) saluran drainase; (5) populasi optimal; dan (6) pengendalian hama-penyakit secara terpadu (PHT). Di samping komponen teknologi dasar tersebut terdapat lima komponen teknologi pilihan, yaitu (1) pemupukan, (2) pupuk organik, (3) ameliorasi tanah, (4) pengairan pada periode kritis, dan (5) panen dan penanganan pascapanen secara tepat. Populasi tanaman yang dinilai optimal berkisar antara 160.000-250.000 tanaman/ha dengan jarak tanam 40 cm x 10 cm. Populasi tanaman yang optimal tersebut akan memberikan hasil yang baik apabila dilakukan pemeliharaan tanaman yang baik pula terutama pengairan pada periode kritis, yaitu pada fase perkecambahan, fase berbunga dan ginofor mulai masuk tanah dan pada fase pengisian polong. Pada tanah masam dengan pH 4,5-5,3 dilakukan pemberian kapur 2 t/ha dan pada tanah dengan pH 5,3-5,5 dilakukan pemberian kapur 1 t/ha. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Wirawan at al, 2018, penanaman kacang tanah dengan tiga tanaman per lubang dan jarak tanam 40 cm x 10 cm memberikan hasil tertinggi pada berat polong isi segar per m2, dan berat polong isi kering per m2 (Ahmad Damiri). Sumber: Wirawan, D.A, Gembong, H, dan Yulia, E.S. 2018. Pengaruh Jumlah Tanaman Per Lubang Dan Jarak Tanam Terhadap Hasil Tanaman Kacang Tanah (Arachis hypogea, L.) Varietas Kancil. VIGOR: Jurnal Ilmu Pertanian Tropika dan Subtropika 3 (1) : 5 - 8 (2018)