Kacang Tolo/Kacang Tunggak (Vingna Unguiculata L) Berasal dari Afrika Barat (sebagai sayuran/lalapan) tersebar luas keseluruh wilayah Tropik dan Sub tropik Asia,Karebia,Australia dan Amerika. Di budidayakan di Indonesia sebagai bahan kuliner diantaranya sebagai Bahan sayuran,Bubur kacang, Tepung kue,Tempe(bahan alternatip),sisa tanaman dan kulit polong dimanfaatkan untuk pakan ternak dan pupuk hijau (dibenamkan dalam tanah memberikan N setara dengan 80kg N/ha bagi tanaman berikutnya),saat masih dibudidayakan bisa sebagai penutup tanah untuk menekan pertumbuhan gulma,erosi,penarik serangga yg bermanfaat,untuk fiksasi nitrogin dari udara,tambah bahan organik dalam tanah atau memperbaiki struktur tanah. Kandungan gizi Kacang Tolo sebagai sumber pangan nabati cukup tinggi dan lengkap diantaranya Energi 342 kilo kalori,Protein 22,9 gram, Karbohidrat 61,6 gram,Lemak 1,4 gram,Kalsium 77 miligram,Fosfor 449 miligram dan zat Besi 7 miligram dan mengandung Vitamin A 30ui,B1 0,9 miligram,Vitamin C 2 miligram. Di Desa Watugede dan kecamatan Kemusu pada umumnya dibudidayakan secara tradisional(turun temurun) dan belum diikuti dengan teknologi yang berkembang, Dari penuturan seorang petani didukuh Jurangsambi ibu Sulimah,dalam pembudidayaanya menanamnya bersamaan dengan menanam Jagung Unyil (jagung lokal) pada MT II dilahan tegal/pekarangan atau setelah panen padi MT II dilahan sawah tadah hujan tanpa olah tanah. Dalam pemeliharaanya masih alakadarnya dengan pemupukan yang bisa dikatakan tidak seimbang tanpa penyiangan dan pengairan(tergantung alam), harga kacang tolo kering Rp.7000/perkilogram dengan hasil sekitar 1,2 ton/ha. Kacang Tolo sangat toleran dengan lahan kering,dengan kesuburan rendah,tanah dengan PH 4 dan bertektur berat,tahan panas dan kekeringan dengan sedikit naungan, sebaliknya pada lahan basah menurunkan pertumbuhan dan hasil panen. Varietas Kacang tolo diantaranya J(1,2,3),V(1,2,3),KR(7,8,9). Perlu teknologi untuk meningkatkan kwantitas hasil yang akan berpengaruh terhadap ekonomi petani. Cara budidaya yang dapat sebagai acuan dengan teknologi sederhana yang bisa diterapkan oleh petani perdesaan lahan tadah hujan/kering.Kebutuhan benih 25-35 kg/ha tanpa olah tanah,jarak tanam 40X10cm 1biji/lubang atau 40X20cm 2 biji/lubang dengan kedalaman lubang 2-3 cm, dibuat petakan 4X5 m(sesui kondisi lahan), diperlukan mulsa jerami 5 ton/ha,drainase 20-30cm sebagai pemisah petakan dengan pemupukan seimbang (22,5 kg/ha urea, 45 kg/ha tsp, 45 kg/ha kcl) di sesuaikan keadaan tanah,Penyiangan dilakukan 2X dan pengairan 2X (saat tanam dan periode pembungaan) disesuaikan kondisi tanah dan tanaman.Penyakit yang menyerang biasanya Trips dan Penggerek polong bisa di kendalikan dengan penyemprotan pestisida secara bijaksana.Berbunga 30 hari setalah tanam,Panen mulai dapat dilakukan 80-100hr dengan tanda polong kering berwarna coklat secara bertahap sesuai pemeliharaan dan umur tanaman.Pemisahan biji dan kulit bisa dengan cara memasukkannya dalam karung terus diinjak-injak atau dipukul-pukul dengan pemukul terus pisahkan biji dan kulitnyaPenjemuran polong dilakukan dibawah terik matahari dengan kadar air 10-20% Dengan Pembudidayaan yang tersentuh teknologi sederhana ini akan meningkatkan produksi 1,65-2,20 ton/ha Kacang Tolo di Kecamatan Kemusu secara umum belum banyak yang membudidayakan secara intensif meski manfaatnya cukup bayak selain kandungan gizinya ataupun sebagai penopang ekonomi petani sendiri, dibanding dengan Kacang tanah, Kacang Panjang dan kacang hijau. Semoga dengan coretan ini dapat memotivasi petani dengan solusi dan teknologi sederhana yang mudah diterapkan. Aamiin (Penulis: SARWONO.Amd. Penyuluh Pertanian Kecamatan Kemusu Kabupaten Boyolali,) Sumber:https://www.Pertanianku.com, https://www.CendanaNew.com, Zulhasibuan.blogspot.com, https;www.Balitkabilitbangpertanian.go.id/2016, Monograf Balitkkabi no.3 1998 halaman 73-83