Loading...

KAJI TERAP PUPUK ORGANIK DALAM UPAYA PENINGKATAN PRODUKSI PADI

KAJI TERAP PUPUK ORGANIK DALAM UPAYA PENINGKATAN PRODUKSI PADI
Balai PenyuluhanKecamatan Banyuurip Kabupaten Purworejo memiliki beberapa program penyuluhanyang salah satu diantaranya adalah pengembangan pupuk organic. .Sri Lastuti SP sebagai PPL BPK Banyuurip melaksanakan Kaji Terap Berbagai macam pupuk organic cairbuatan Kelompoktani Ngudi Makmur 2 Desa CandingasinanKecamatan Banyuurip guna mendukung program Peningkatan Produksi Padi tersebut padaMT II tahun 2009. Untuklebih rinci sebagai berikut. A. Latar Belakang. Puncakkesuksesan revolusi hijau di Indonesia terjadi pada tahun 1984 dengantercapainya swasenbada beras. Saat itu Indonesia mampu memberikan bantuan pangankepada negara Etiopia yang mengalami krisis kelaparan. Hal tersebut menjadikan Indonesia memperolehpenghargaan dari Badan Pangan Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa. Setelah periode tersebutswasembada pangan tidak mampu diraihkembali, dari tahun ke tahun produksi beras menunjukkan peningkatan yangsemakin menurun dan stagnasi (leveling of) sehingga pada dekade akhir-akhir ini Indonesia justrusering melakukan impor beras karena peningkatan jumlah produksi beras tidakmampu mencukupi peningkatan kebutuhan akibat pertumbuhan penduduk. Fenomina tersebut diindikasikan akibat adanyabeberapa faktor yang menyebabkan munculnya kondidi titik balik yaituberkurangnya produksi beras akibat kondisi agroekosistem persawahan yang rusakdan derajat kesuburan tanah menurun, sehingga mengakibatkan produktifitas lahansemakin menurun (Karwan AS, 2007)Akibat munculnya dampak negatifrevolusi hijau tersebut makaakhir-akhir ini mucul petani-petani yang berusahatani dengan memperhatikankaidah-kaidah keselamatan alam dan ramah lingkungan yaitu dengan sistempertanian berkelanjutan (Sustainable AgricultureSystem). Salah satunya adalah dengansistem pertanian organik (organik farming).Jumlah lahan pertanian di Kabupaten Purworejo yangpotensial ditanami padi seluas 30.004 ha lahan sawah. Luas panen padi setiap tahun mencapai 52.431ha. Dengan produktifitas rata-rata mencapai 56 kw/ha Budidayapadi organik di Purworejo juga mulai berkembang. Penggunaan pupuk organik, pestisida nabati dan pengendalian hamaterpadu mulai diterapkan oleh petani. Demikian pula di Kecamatan Banyuurip, para petani yang menanam padi organik telah tersebar di hampir setiapdesa. Pada umumnya mereka masihmenerapkan metode semi organik. Sampai saat sekarang usahatani padi masih menjadi pilihanbagi mayoritas para petani, dibanding dengan jenis usahatani palawija,hortikultura maupun yang lainnya. Beberapa faktor yang diduga menjadi alasan antara lain bahwa usaha tanipadi merupakan usaha yang bersifat turun temurun, resiko usaha relatif lebihkecil dan untuk mencukupi kebutuhan hidup pokok sehari-hari. Berdasarkanpermasalahan tersebut maka usahatani padi yang dilakukan secara organik olehpetani dalam rangka program revitalisasi pertanian dan ketahanan pangan untukmeningkatkan nilai tambah dan kesejahteraan petani perlu kajian lebih lanjuttentang struktur biaya keuntungan dan resiko-resikonya. Seiringdengan meningkatnya pengetahuan dan ketrampilan petani dibidang budidayatanaman serta tuntutan hidup yang semakin berkembang maka semakin terbukapeluang bagi petani untuk melakukan pilihan usaha yang benar-benar dapatmenjamin keuntungan dan kesejahteraan keluarganya. B. Masalah Berdasarkanhal-hal tersebut diatas dan hasil pengamatan di lapangan. Permasalahanpengembangan usahatani padi organik dapat dirumuskan sebagai berikut :1. Masih banyak beredar pupuk alternatif,baikyang terdaftar maupun yang tidak terdaftar.2. Petani kurang memahamikebenaran produk pupuk yang beredar.3. Petani sebagai pemilikusahatani harus menentukan pilihan sendiri pupuk yang akan dipakai. C. Tujuandan Manfaat Risetaksi ini bertujuan untuk mengetahui peranan pupuk organik dalam usahatani padisawah.Sehingga membantu petani dalam mengambil keputusan dalam penggunaansarana produksi. Hasil riset aksi inijuga dapat sebagai acuan para petani dan penyuluh dalam rangka peningkatanproduksi dan pendapatan usahatani padi sawah. II. TINJAUAN PUSTAKA Tanamanpadi pada dasarnya bukan tanaman air(Simarmata,2007) tetapi dapat tumbuh dalamkondisi tergenang karena memiliki jaringan aerenchymuntuk mensuplay oksigen ke perakaran. Mukti (2000) menguatkan bahwa tanaman padi mampu memanfaatkan kondisigenangan dalam menambang hara tanah karena akar tanaman padi memperoleh oksigenmelalui aerenchyma batang danlisigenous dari akar. Sistempertanian organik merupakan suatu sistem produksi pertanian dimana bahanorganik, baik makhluk hidup maupun yang sudah mati menjadi faktor penting dalamproses produksi. Penggunaan pupukorganik dan pengendalian hama penyakitsecara biologis menjadi andalan dalam budidaya padi secara organik (Sugitodalam Karwan AS, 2007). Dalampenerapan pertanian organik untuk mendapatkan produk yang standart yang disebutproduk organik murni, bila lahan yang digunakan bekas lahan non organik makaharus melewati konversi yang dipersaratkan. Untuk tanaman semusim seperti padi perlu masa konversi dua tahun. Sedangkan tanaman tahunan minimal diperlukanmasa konversi tiga tahun (Wakhid,2008) Perbandinganbiaya produksi dan pendapatan antara usahatani padi organik dan non organikadalah sebagai berikut(Karwan AS, 2007)1. Darisisi biaya usahatani padi organik lebih tinggi karena faktor biaya pengolahantanah dan sarana produksi lebih besar.2. Produksipadi organik lebih rendah.3. Rendemenberas yang dihasilkan padi organik lebih tinggi.4. Pendapatan usahatani padi organik lebihtinggi karena harga beras organik yang lebih mahal.Bahan organik segar yang diberikan ke dalam tanahsegera mengalami penguraian oleh mikroba. Akibat penguraian ini terjadi humifikasi dan mineralisasi. Pada humifikasi dibentuk humus, suatu bahanyang relatif stabil, berwarna coklat atau kehitaman, bersifat kolodial, danpada mineralisasi dilepaskan berbagai senyawa dan unsur yang berperan sebagaiunsur hara. Didalam tanah, bahan organikdan humus biasanya bercampur dengan bagian mineral. Ternyata bahan organik tanah ini memegangperanan penting dalam tanah. Perananbahan organik dalam tanah adalah : meningkatkan daya tukar kation.Dengan demikian akan meningkatkanketersediaan unsur hara bagi tanaman. Pemberian pupuk organik akan berakibat unsur hara yag ada dalam tanahdalam posisi tidak tersedia akan berubah menjadi tersedia. Berarti bahan organik dapat mengefektifkandan mengefisiensikan pemupukan. Tjandramukti(2006. Hasil penelitian Badan Litbang Departemen Pertanianmenunjukkan bahwa kandungan bahan organik tanah sawah kita sekitar 2 %, bahkanada yang kurang . Bahan organik tanahyang standard sebesar 5%. Berarti tanahsawah kita terkategori kritis bahan organik. Secara fisik sederhana dapat diketahui dengan melihat kedalaman masuknyakaki ke dalam tanah saat kita masuk ke areal tanah sawah. Saat ini hanya smpai sedalam mata kaki atausekitar 15 cm, padahal pada tahun 1987 “ an masih sekitar 30-40 cm atau sedalamlutut kita. Indikator ini yang dipakaiuntuk mengukur tingkat kesuburan tanah. Sesungguhnyakondisi tanah kita yang seperti itu merupakan permasalahan yang urgent. Karena apa artinya perlakuan pemberian pupukan-organik, sampai didanai begitu besar mencapai 8 Triliyun, sedangkanpermasalahan pokoknya tidak tersentuh. Sebagai gambaran perbandingan alokasi pupuk an-organik di KabupatenPurworejo sebesar 20 Milliard sedang alokasi pengembangan pupuk organik hanya90 juta rupiah Kandungan bahanorganik pupuk organik pabrikan bervariasi, bahkan banyak yang ditambahi unsurhara seperti N,P,K,Ca,Mg serta unsur-unsur hara mikro, tentunya sesuai denganbahan bakunya, bahkan ada yang ditambahi agensia hayati serta mikroba tanahyang menguntungkan. Kadarnya jugabervariasi. Tentunya semakin kandunganunsur hara dan bahan organik akan semakin besar pengaruhnya terhadap peningkatanproduksi tanaman. Kualitaspupuk organik ditentukan oleh asal bahan baku dan cara pembuatannya. Yang dimaksud kualitas adalah mengenaikandungan unsur haranya,kandungan bahan organik, kandungan biomikro, bebasracun. Bahan baku pupuk organik berasaldari limbah ternak sapi, kerbau, kuda,kambing,kelinci dan ayam/unggas danlimbah pertanian lainnya. Masing-masingbahan baku mempunyai nilai spesifik, sehingga penggunaannya juga spesifik untuktanaman tertentu. Misalnya limbahkelinci sangat bagus untuk tanaman hias. III. METODE A. Rancangan. Rancangan riset aksi ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 3(tiga) unit ulangan untuk tiap perlakuan. Perlakuan Riset Aksi ini meliputi dosis pupuk anjuran pupuk organik danwaktu aplikasinya dengan variasi sebagai berikut :1. Organik Kelompok.(A) Dosis - pupuk organik padat -pupuk cair organik = 4.600 kg / ha = 10 lt / ha Waktu aplikasi -dasar - 15 Hst - 45 Hst - 60 Hst organik padat , EM4, Pupuk cair perangsang akar 100 % pupuk cair daun pupuk cair buah 2. Semi Organik Kelompok.(B) Dosis -urea -organik padat -organik cair = 100 kg/ ha = 3.000 kg / ha = 10 lt / ha Waktu aplikasi -dasar -15 Hst “ 45 Hst -60 Hst Organik padat, EM4, pupuk cair perangsang akar 100% Urea 100 %, pupuk cair daun Pupuk cair buah 3. Semi Organik Sidomuncul.(C) Dosis -urea -organik cair sidomuncul = 100 kg = 10 lt / ha Waktu aplikasi -15 Hst “ 60 Hst Urea 100 %, pupuk cair sidomuncul 4. Hibrida Organik.(D) Dosis Organik padat Organik cair = 2600 kg / ha = 10 lt / ha Waktu aplikasi -dasar - 15 Hst - 45 Hst - 60 Hst organik padat , EM4, Pupuk cair perangsang akar 100 % pupuk cair daun pupuk cair buah 5. Hibrida Semi Organik.(E) Dosis -urea -organik padat -organik cair = 210 kg / ha = 1750 kg / ha = 10 lt / ha Waktu aplikasi -dasar -15 Hst “ 45 Hst -60 Hst Organik padat, EM4, pupuk cair perangsang akar 100% Urea 100 %, pupuk cair daun Pupuk cair buah 6. Ala Petani.(F) Dosis -urea = 290 kg / ha Waktu aplikasi -15 Hst “ 45 Hst -60 Hst -urea 50 % -urea 50% B. Variabel dan Pengukuran.Variabel yang diukur :a. Produksi, dengan satuanton/Ha. Cara mengukur dengan melakukanubinan tiap unit ulangan perlakuan.b. Pendapatan, dengan satuanRp/Ha. Cara mengukur pendapatan : Nilai produksi dikurangibiaya produksi.c. Biaya pupuk, dengansatuan Rp/Ha. C. MetodeanalisaMetodeanalisa sesuai Rancangan yang digunakanyaitu Statistika Rancangan Acak Kelompok dengan analisa statistic pada tarafkepercayaan 95 %. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Produksi. Hasilanalisa statistik dengan taraf kepercayaan 95% hasil riset aksi penggunaanpupuk organik pada padi sawah menunjukkan bahwa antara perlakuan penggunaanbermacam-macam pupuk organik terhadap produksi padi tidak berbeda nyata.Karena F hitung 0,6951 lebih kecil dari F tabel5,64. Produksipadi yang tertinggi adalah yang menggunakan pupuk organik murni dengan produksi9,3 Ton / ha untuk varietas hibrida. Sedangkan dibanding dengan produksi padi varietas hibrida denganmenggunakan pemupukan semi organik 9,1 Ton / ha. Untuk varietas non hibrida produksi tertinggiadalah yang menggunakan pemupukan semi organik sebesar 8,96 Ton / ha. Sedangkan yang menggunakan pemupukan organikmurni hanya mencapai 8,2 Ton / Ha, sama dengan produksi padi yang menggunakanpupuk kimia 8,2 Ton / ha. Darikenyataan hasil tersebut dapat diambil pelajaran bahwa pupuk organikberpengaruh positip terhadap produksi padi sawah. Terutama pada perlakuan pemupukan semiorganik..Bisa meningkatkan 7,6Ku/Ha atau hampir 10%. Mengejutkan sekali. Tetapi memang begitu, bahwa bahan organikdapat berfungsi mempermudah ketersediaan unsur hara yang kahat. Jadi bisa mengefektifkan dan mengefisiensikanpenggunaan unsur hara. Bahkan ditambahlagi manfaat dari kompos organik itu mengandung unsur yang lengkap baik mikromaupun makro. Sesuai dengan yang disampaikan oleh Tjandramukti (2006), bahwa bahanorganik segar yang diberikan ke dalam tanah segera mengalami penguraian olehmikroba. . Peningkatanproduksi 10 % ini disebabkan karena petani baru mengaplikasikan pupuk organik 2kali musim tanam. Untuk itu perlu adanya kegiatan yang berkelanjutan agarproduksi padi terus dapat ditingkatkan. Sehingga pada akhirnya para petani akan siap menghadapi pasar globalmenyongsong pertanian organik. B. Pendapatan. Untukmengetahui pengaruh penggunaan pupuk organik terhadap peningkatan pendapatanusahatani padi sawah dengan cara melihat selisih biaya penggunaan pupuk antarperlakuan, dan melihat selisih pendapatan usahatani. Dalam hal ini kita asumsikan :1. Hargahasil produksi sama Rp. 3.400.000/ton2. Biaya-biaya produksi selain pupuk sama.Diperoleh hasil sebagai berikut, pendapatan tertinggi dari usahataniyang menggunakan pupuk organik murni yaitu sebesar Rp.31.620.000,-. Bila dibandingkan dengan pendapatan usahataniyang menggunakan pupuk ala petani (non organik) terdapat selisih Rp 11.940.000,- dengan selisih biaya pupuk Rp .936.000,- dengan demikian petani mengalami kerugiansebesar Rp. 11.004.000,-/ha atau Rp.1.572.000/ iring. Sedangkan untuk pendapatan usahatani yang menggunakanpupuk semi organik Rp 21.840.000,-. Bila dibandingkan denganpendapatan usahatani yang menggunakan pupuk ala petani terdapat selisih Rp. 2.160.000,- dengan selisih biaya pupuk Rp 847.000,- maka petani akan mengalami kerugian sebesar Rp.1.313.000,-/ha atau Rp.187.500,-/iring.Perbandingan biaya produksi dan pendapatan antarausahatani padi organik dan non organik adalah sebagai berikut(Karwan AS, 2007)1. Darisisi biaya usahatani padi organik lebih tinggi karena faktor biaya pengolahantanah dan sarana produksi lebih besar.2. Produksipadi organik lebih rendah.3. Rendemenberas yang dihasilkan padi organik lebih tinggi.4. Pendapatan usahatani padi organik lebihtinggi karena harga beras organik yang lebih mahal.Lampiran1. Analisa usahatani padi sawah denganberbagai perlakuan pemupukan. DesaCandingasinan Wibi Sokowaten BPK Banyuurip.MT 2010 Perlakuan Produksi (ku/ha) Pendapatan (Rp/ha) Biaya pupuk (Rp/ha) Laba (Rp/ha) Organik 8,2 27.880.000 2.400.000 25.480.000 Semi organik 8,9 21.504.000 1.760.000 19.744.000 Semi organik Sidomuncul 8,6 20.640.000 260.000 20.380.000 Hibrida organik 9,3