[JAKARTA] Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memerintahkan jajarannya bekerja maksimal dalam peningkatan produksi komoditas pangan strategis terutama padi, jagung, aneka cabai, bawang merah dan bawang putih. Komoditas strategis ini kita harus pacu produksi dan ketersediaannya, oleh karena itu saya minta agar membuat akselerasi sehingga dalam waktu dekat kita swasembada,” ungkap Amran. Adapun untuk bawang merah, kebutuhan mencapai 1,2 juta ton/tahun. Produksi sampai September 2023 sudah mencapai 1,5 juta ton. Artinya, saat ini kondisi sudah surplus tetapi perlu untuk terus dikawal dan didampingi dengan baik di lapangan. Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi mengatakan bahwa strategi pembangunan pertanian hortikulktura harus diperbaiki dengan mencintai produk dalam negeri, dengan mengubah mindset untuk mencintai produk Indonesia. Mari kita ubah minsdet di mulai dari hal-hal yang kecil dengan mengganti buah impor menjadi buah lokal dimulai dari diri sendiri, keluarga, sahabat dan teman-teman”. ujar Dedi Nursyamsi. Sementara itu Kegiatan Ngobras Asyik (Ngobras) volume 07 yang diadakan Selasa (05/02/2024) menghadirkan narasumber Wita selaku perwakilan Direktorat perlindungan Hortikultura. Wita mengatakan tujuan pengembangan kampung hortikulktura yaitu Pengembangan Kawasan Hortikultura Terkonsentrasi dan berskala ekonomi, menghasilkan Produk hortikultura segar dan olahan berdaya saing, memudahkan Pelaku Usaha Hortikultura dalam pemasaran, mengurangi impor Komoditas Hortikultura, menjadi Kampung Agroeduwisata Hortikultura yang memberikan kesejahteraan kepada masyarakat, kegiatan terkonsentrasi, mudah dimonitor, mudah di Evaluasi, dan terhindar dari duplikasi bantuan. Adapun syarat pengembangan kampung hortikultura yaitu kesesuaian agroekosistem terhadap komoditas yang akan dikembangkan, semangat dari masyarakat yang desa/kampungnya akan dijadikan kampung hortikultura, komitmen pemerintah daerah dalam pengawalan dan pendampingan kegiatan kampung hortikultura, kampung Hortikultura terbangun dalam satu kesatuan administrasi desa”. jelas wita. Wita menjelaskan bahwa permasalahan kampung hortikultura yaitu adanya pengaruh el-Nino dimana cuaca panas dan kekeringan ekstrim sehingga menyebabkan pertumbuhan tanaman dan produksi tidak optimal, termasuk produksi benih di BBH/penangkar. Selain itu el-nino juga berdampak pada peningkatan serangan OPT. Adanya El-Nino juga berdampak pada berkurangnya ketersediaan/produksi dan meningkatnya harga bawang merah dan cabai sehingga menyebabkan inflasi di beberapa wilayah”’. imbuh Wita.hvy