Loading...

KEGIATAN P2KP BERHASIL DI PASAMAN *)

KEGIATAN P2KP BERHASIL DI PASAMAN *)
Empat Sukses Kementan, yang salah satunya adalah Peningkatan Diversifikasi Pangan (Penganekaragaman Pangan) menjadi salah satu kontrak kerja antara Menteri Pertanian dengan Presiden selama tahun 2009-2014 dengan tujuan untuk meningkatkan keanekaragaman pangan sesuai dengan karakteristik daerah melalui kegiatan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP). Implementasi kebijakan P2KP pada Tahun 2011 yang lalu adalah sebagai bentuk gerakan untuk mempercepat terjadinya diversifikasi pangan pada masyarakat yang salah satunya diwujudkan melalui kegiatan Pemberdayaan kelompok wanita melalui optimalisasi pemanfaatan pekarangan berupa demplot pemanfaatan pekarangan menjadi sumber pangan keluarga. Merujuk dari maksud dari kegiatan optimalisasi pemanfaatan pekarangan tersebut menimbulkan sebuah pertanyaan yang harus dijawab dari penelitian ini adalah Apakah Program P2KP sudah mencapai sasaran dalam peningkatan diversifikasi pangan dalam keluarga dengan memanfaatkan pekarangan? Kajian ini dilakukan pada KWT Usaha Sepakat di Jorong Koto Tangah Nagari Ganggo Mudiak, Kecamatan Bonjol, Kabupaten Pasaman, Provinsi Sumatera Barat yang dipilih secara purposive atau secara sengaja, dengan metode studi kasus dan dilakukan analisa kuantitatif untuk kualitatif. Hasilnya menunjukkan bahwa untuk tingkat partisipasi anggota dalam kegiatan demplot pekarangan dan SL menunjukkan bahwa keseluruhan sebanyak 13 orang atau 100% anggota kelompok mengetahui keberadaan demplot pekarangan dan terlibat aktif di pembuatan demplot. Dari tingkat kehadiran sebanyak 12 orang atau 92,3% mengahdiri lebih dari 7 kali dari 10 kali pertemuan SL. Dari tingkat pemanfaatan pekarangan saat sekarang menunjukkan terjadi peningkatan pemanfaatan pekarangan dari tahun sebelumnya disemua jenis kandungan pangan, peningkatan itu terjadi hampir disemua jenis kelompok pangan, untuk kelompok pangan yang mengandung karbohidrat meningkat sebanyak 62,54%, kelompok buah-buahan sebanyak 53,85%, Kelompok sayuran sebanyak 23,08%, Kelompok bumbu-bumbuan peningkatan sebanyak 15,38%, dan kelompok hewani sebanyak 46,15%. Jika dirata-ratakan pemanfaatan pekarangan 1 tahun sebelumnya sekitar 47,69% dan pada saat penelitian terdapat peningkatan menjadi 87,69%. Rata-rata persentase anggota KWT yang mengkonsumsi kelompok pangan yang bersumber dari pekarangan 1 bulan terakhir, pada pangan mengandung karbohidart adalah 37,5%, untuk konsumsi kelompok pangan nabati 46,47%, untuk konsumsi kelompok pangan hewani 27,10%, untuk konsumsi kelompok bumbu-bumbuan 36,06%, untuk konsumsi kelompok buah-buahan 51%. Dapat disimpulkan bahwa metode penyuluhan berupa demplot optimalisasi pekarangan dan SL yang digunakan dalam program P2KP dinilai cukup berhasil dalam menyebarkan informasi tentang diversifikasi pangan dan optimalisasi pekarangan, setelah mengikuti kegiatan P2KP terjadi peningkatan pemanfaatan pekarangan masyarakat dan dalam 1 tahun berjalannya kegiatan P2KP telah terjadi diversifikasi pangan pada anggota KWT yang mengkonsumsi pangan yang bersumber dari pekarangan. Saran yang dapat diberikan untuk kelanjutan program adalah perlunya pengembangan kegiatan dengan melibatkan organisasi wanita lainnya di tingkat nagari (desa) dengan perencanaan dan pelaksanaan secara bersama-sama serta kedepannya kegiatan P2KP dapat menyentuh keluarga tani yang berada di luar dari KWT penerima manfaat dengan membebankan (memberikan dampak) pada pekarangan yang diluar dari anggota kelompok. *) Hasil penelitian di salah satu KWT yang memperoleh kegiatan P2KP Oleh : Heri Prasetyo, SP, Penyuluh Pendamping P2KP Kabupaten Pasaman