Kedelai merupakan tanaman penting di Indonesia karena merupakan sumber protein nabati berkualitas bagi manusia, komposisi gizi dari kedelai terdiri dari minyak, karbohidrat dan mineral sebanyak 18%, 35% dan 5% yang dibutuhkan oleh tubuh manusia. Produksi kedelai di Indonesia selama ini belum mencukupi bahkan terdapat kecenderungan terus menurun dari tahun ke tahun sedangkan kebutuhan kedelai dalam negeri terus meningkat. Oleh karena itu untuk memenuhi kebutuhan kedelai, Indonesia mengimpor kedelai. Peningkatan produksi kedelai dalam negeri dapat dilakukan dengan cara ekstensifikasi dan intensifikasi. Intensifikasi merupakan usaha meningkatkan hasil pertanian dengan teknologi yang tepat seperti penggunaan varietas unggul, sedangkan ekstensifikasi atau perluasan areal pada berbagai agroekosistem memerlukan varietas yang beragam. Sampai saat telah banyak dihasilkan varietas unggul oleh para peneliti. Balai Penelitian Tanaman Kacang-Kacangan dan Umbi-Umbian (Balitkabi) sampai tahun 2016, telah melepas kurang lebih 86 varietas unggul kedelai, varietas merupakan salah satu teknologi unggulan dalam upaya peningkatan produksi. Permasalahan yang juga banyak ditemukan di lapangan yang mempengaruhi peningkatan produksi adalah kehilangan hasil saat panen. Produktivitas tinggi yang diharapkan dari pertanaman di lapangan menjadi berkurang karena adanya kehilangan hasil pada saat panen. Menurut Subiadi dan Sipi, S. 2015. Kehilangan Hasil Kedelai Pada Proses Panen Secara Manual. file:///D:/2019/KEDELAI/KEHILANGAN%20HASIL%20KEDELAI%20DENGAN%20PANEN%20MANUAL.pdf. Kehilangan hasil kedelai bergantung pada cara dan waktu pemanenan dan karakteristik varietas. Waktu panen terbaik adalah pada saat sebagian besar polong telah berwarna cokelat dan daun menguning serta telah gugur. Kehilangan hasil di lapangan juga dapat disebabkan oleh panen yang terlalu cepat (belum masak fisiologis), penanganan panen yang kurang hati-hati dan hujan yang terus menerus, serangan hama, burung dan tikus. Kehilangan hasil biji yang masih berada di batang dan cabang kemudian tertinggal di lahan disebabkan oleh cara penanganan panen dan pascapanen. Bobot biji yang berasal dari batang dan cabang yang tertinggal di lahan rata-rata 28,93 kg/ha. Biji kedelai yang tercecer karena polong pecah bisa disebabkan oleh cara panen yang kurang hati-hati, waktu panen, dan karakteristik varietas yang polongnya mudah pecah. Besarnya bobot biji tercecer yang berasal dari polong yang pecah pada saat panen sebagai berikut: No Varietas Kehilangan hasil (kg/ha) Hasil per hektar (kg) 1 Anjasmoro 4,54 2.361,11 2 Kaba 6,27 2.083,33 3 Ijen 8,69 2.040,60 4 Dering I 6,13 1.773,50 5 Gepak Kuning 7,63 1.976,50 6 Lokal 3,66 1.725,43 Rata-rata 6,15 1.993,41 Oleh karena itu panen tepat waktu dengan mengetahui umur panen, ciri-ciri tanaman siap panen, merupakan cara yang paling baik untuk menghindari kehilangan hasil karena polong pecah (Ahmad Damiri).