Loading...

KEMANA HILANGNYA AIR

KEMANA HILANGNYA AIR
Belum ada penelitian ilmiah dilingkup kecamatan Landono yang benar benar mengkaji hubungan aktivitas penebangan pohon dengan berkurangnya produksi padi sawah dari tahun ke tahun, tetapi jika melihat hilangnya air disaluran irigasi persawahan bisa jadi salah satu dari sebuah dampak serius kerusakan populasi di sekitar Daerah Aliran Sungai. Tercatat dalam dokumen programa tahun 2014 (5 tahun ) yang lalu, pemanfaatan lahan sawah di kecamatan Landono seluas 841 ha, bahkan jika ditarik waktu 10 tahun terakhir menurut mantan pengurus Koperasi Besar Padi sawah di desa Tridana Mulya berkisar 1.200 ha. Di tahun 2019 jumlah lahan sawah yang tergarap hanya 272 ha yang berada di desa Landono II, Amotowo, Tridana mulya dan Lalonggapu, artinya 928 ha lahan sawah lainnya tidak dimanfaatkan secara optimal untuk padi sawah. Suatu penurunan yang sangat signifikan, satu per satu petani tidak lagi menanam padi sawah, sawahnya diberokan, ada juga yang berubah menjadi areal palawija, ada yang menjadi padang gembala sapi dan yang paling memprihatinkan beralih komoditas tanaman Lada dan Jeruk Nipis. Ratusan hektar lahan sawah produktif telah berganti komoditi yang paling banyak berada di desa Benua dan desa Abenggi, bahkan yang memprihatinkan bukan hanya tanaman padi yang beralih ke perkebunan, sekaligus petaninya pun beralih profesi sebagai buruh batu bata karena tidak ada lagi kegiatan yang dapat dijadikan sumber income keluarga. Pertanyaannya, mengapa ini terjadi? Berangkat dari akibat tentu ada sebab, Kalau air sudah kering berarti daya dukung sumber air dipergunungan sudah hilang karena terbukanya areal disekitar DAS. Setiap hari hanya bunyi mesin gergaji sayup sayup terdengar dari hutan desa, artinya setiap hari ada pohon yang tumbang, entah itu legal atau illegal, yang warga rasakan adalah semakin hilangnya air dari waktu ke waktu. Gerakan reboisasi telah disuarakan dalam rapat rapat koordinasi, terutama rapat koordinasi dengan semua stakeholder ditingkat kecamatan dalam rangka melaksanakan penanaman pohon diwilayah huly dan penegakan hukum bagi siapa saja yang melakukan prmbalakan tanpa izun. Beberapa aktivis lingkungan seperti kelompok kehutanan Wana giri yang dipimpin oleh bapak I Gusti Putu Sukadana telah terlbih dahulu melakukan geralan secara swadaya berupa penanaman1.000 pohon beringin diwilayah hulu, tahun 2018 Yayasan Kalla melalui program EQSI telah membantu dengan penebaran benih tanaman kehutanan seperti Sengon, Akasia, Kaliandra melalui helikopter untuk mencover 50 ha yang tidak lagi memiliki tutupan vegetasi. Tentunya gerakan yangvtelah dilakukan teman teman Swadaya Masyarakat/NGO harus diirigi kesadaran masyarakat yang lain untuk tidak lagi melakukan pembalakan diwilayah hulu, penegakan hukum oleh pihak berwajib juga harus dilaksanakan agar membuat efek jera kepada pelaku perambahan hutan. Mungkin kita butuh waktu 20 tahun lagi agar daerah terbuka dihulu yang telah ditanami oleh kawan kawan NGO dapat menutup kembali dan air melaju dengan deras. Semoga kejayaan kecamatan Landono sebagai lumbung padi Sulawesi Tenggara dapat dikembalikan.