[JAKARTA] Penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) telah mengalami perkembangan yang pesat bahkan sampai kepada penerapannya sebagai teknologi terobosan untuk memecahkan berbagai permasalahan penanganan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT). Sarana dan teknologi yang ada di bidang perlindungan tanaman pun terus berkembang sedemikian rupa sehingga diharapkan petugas pertanian dan masyarakat petani mengetahui dan mengikuti perkembangan tersebut. Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa pemerintah telah berkomitmen untuk berpihak kepada petani, termasuk mendampingi petani saat mengalami masalah serangan OPT. Sementara itu agenda Ngobrol Asyik (Ngobras) volume 11, bertemakan Pengendalian Hama dan Penyakit yang Efisien pada padi dan jagung, Selasa (23/04/2024), menghadirkan secara virtual Kepala Badan penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi yang mengatakan bahwa berbicara mengenai pertanian maka harus meningkatkan produktivitas, kunci dari sebuah pertanian harus meningkat karena pertambahan penduduk. Lalu adanya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan gizi yang semakin meningkat. Untuk meningkatkan produktivitas perlu adanya Smart Farming yakni pertanian cerdas, dengan pemanfaatan bio teknologi dan produk bio sains semaksimal mungkin”. ujar Dedi Nursyamsi. Narasumber Ngobras, Gandi Purnama, Kapoksi Pengendalian OPT Serealia mengatakan PHT merupakan perpaduan dari berbagai teknik pengendalian untuk mencegah dan mengurangi timbulnya kerugian secara ekonomis dan kerusakan lingkungan hidup. (cara fisik, mekanik, budidaya, biologi, genetik, kimiawi, dan cara lain sesuai perkembangan teknologi, serta PHT memperhitungkan dampak ekologis, ekonomis, dan sosiologis. Adapun Prinsip PHT yaitu budidaya tanaman sehat, tanaman sehat akan lebih tahan terhadap OPT, pemanfaatan musuh alami, diharapkan dapat menjaga keseimbangan ekosistem, petani sebagai ahli PHT, petani mampu menerapkan PHT di lahan pertaniannya, pengamatan rutin, mengetahui populasi OPT/Musuh alami dan faktor pendukung”. jelas Gandi Purnama. Gandi Purnama menambahkan bahwa upaya pengamanan produksi dalam satu musim tanam diantaranya ada Pra tanam, Semai/Tanam, Vegetatif, dan Generatif. Gerakan pengumpulan kelompok telur penggerek batang padi, jumlah telur per kelompok 50-150 dan rata-rata 100. Jika terkumpulkan 10.000 kelompok telur maka telah menekan populasi 1.000.000 larva/ulat penggerek batang. Sedangkan Gropyokan tikus yakni jika tikus tertangkap 100 ekor dan 50%nya betina, maka dapat menekan populasi tikus sebanyak 100.000 ekor per tahun. Dalam setahun 1 pasang tikus bisa berkembang menjadi kurang lebih 2000 ekor’’. pungkas Gandi Purnama.hevymay