Loading...

Kemitraan Membantu Mengatasi Permasalahan Klasik Dalam Agribisnis Belimbing

Kemitraan Membantu Mengatasi Permasalahan Klasik Dalam Agribisnis Belimbing
Produksi belimbing di Indonesia masih rendah dan belum memenuhi kebutuhan konsumen yang cenderung meningkat, sehingga sangat disayangkan kalau komoditas ini tidak dikembangkan, karena prospeknya sangat baik. Sebetulnya tanaman belimbing relatif mudah dibudidayakan. Namun demikian karena keterbatasan modal kerja, manajemen usaha, dan pemasaran hasil, maka hal tersebut tidak dapat dilakukan kalau dengan volume usaha yang luas dan lebih intensif serta pemasaran hasil yang lebih baik. Oleh karena itu maka pemerintah mendorong kepada para pengusaha untuk melakukan kemitraan usaha dengan pengusaha kecil dan petani belimbing. Kalau kemitraan usaha dilakukan maka permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan pendanaan, manajemen usaha maupun pemasaran hasil dapat ditekan, selama petani belimbing memberikan keuntungan pada perusahaan mitra berupa produk atau pengembalian modal usaha. Manfaat langsung dari pelaksanaan kemitraan bagi petani dan pengusaha kalau kemitraan dapat berlangsung harmonis yaitu adanya kepastian jaminan pasokan bahan baku serta perasaan saling memerlukan, yang dapat meningkatkan kualitas dan volume usaha, karena saling menguatkan, dan peningkatan keuntungan yang berkesinambungan karena saling menguntungkan. Namun demikian kalau kemitraan tidak berjalan mulus maka akan terjadi ketidakseimbangan pelaksanaan mekanisme, pola dan tingkat hubungan kemitraan usaha yang dilakukan serta tingkat keuntungan ekonomi yang diperoleh, sehingga manfaat kemitraan tidak sesuai yang diharapkan. Kalau terjadi demikian sebaiknya petani belimbing dan perusahaan mitra harus mampu melaksanakan mekanisme dan pola kemitraan sesuai dengan yang telah disepakati, guna mencapai tujuan yang bersama. Disamping itu hendaknya pemerintah maupun perusahaan mitra melakukan pembinaan agar pengetahuan, keterampilan petani belimbing dalam mengelola agribisnis belimbing dapat meningkat. Kalau hal itu dilakukan maka harapannya akan terjadi perbaikan tanaman belimbing dari segi agronomi, karakteristik, dan fisiologi buah, sehingga tujuan agribisnis belimbing dapat tercapai. Keberhasilan tujuan agribisnis tersebut ditunjukkan dengan produktivitas tinggi, kualitas bagus (yang dicirikan daging buah tebal, biji sedikit, rasa dan aroma disukai konsumen, tekstur daging buah baik, kadar serat cukup, kulit buah tebal dengan warna yang menarik serta mempunyaidaya simpan alamiah lebih baik. Strategi pengembangan belimbing adalah sebagai berikut. 1. Mengembangkan sentra produksi di tingkat rakyat. Pemerintah mendorong petani belimbing untuk memperluas areal tanam atau menambah jumlah petani baru di areal yang sesuai tempat penanaman belimbing, mengutamakan perluasan areal belimbing di lahan terlantar yang sesuai dengan agroklimat untuk belimbing. Disamping itu juga sebaiknya membuat percontohan di areal tanam di kawasan pengembangan sentra produksi belimbing yang telah ada. 2. Menerapkan teknologi budidaya yang benar. Pemerintah dengan peneliti menyediakan pedoman baku tentang teknik agribisnis belimbing sesuai sifat agroklimat dan sifat varietas daerah produsen belimbing. 3. Menerapkan dan memberi teknologi maju, yang meliputi teknik membuat lubang tanam optimal, pupuk organik yang paling tepat, bibit dari varietas unggul yang bersertifikat, pemupukan dengan dosis yang tepat, pengairan tepat waktu dan tepat jumlah, pembentukan tajuk dan pemangkasan yang benar , pengendalian organisme pengganggu tanaman dan gulma yang baik, waktu panen umur matang buah , penanganan pasca panen buah yang baik serta pengelolaan kebun yang tepat. 4. Mengembangkan perkebuanan belimbing model kemitraan yaitu dengan membangun masyarakat petani yang berfungsi sebagai plasma dan pemerintah atau pihak swasta sebagai inti sehingga ada hubungan kerjasama yang saling mendukung sehingga tercipta unit ekonomi yang utuh antara inti plasma, serta mengadakan pelatihan administrasi dan teknisi perkebunan inti dan pembina petani plasma. 5. Diversifikasi perkebuanan belimbing mayarakat, yaitu dengan mengganti tanaman keras yang tidak produktif di perkebunan, yang areal lokasinya sesuai agroklimat belimbing untuk dijadikan kebun belimbing. 6. Strategi distribusi produk merata di seluruh Indonesia, yaitu pemerintah membuat pendataan tanman belimbing hingga dapat melakukan perkiraan volume dan waktu produksi di sentra produksi. 7. Investasi modal masyarakat pada kebun belimbing yaitu dengan penggalangan kerja sama dan modal dari petani, pengusaha, asosiasi dan pemerintah. Penulis: Yulia Tri S (Penyuluh Pertanian Madya) Email:yuliatrisedyowati@yahoo.co.id Sumber: Arief Prahasta,S-Budidaya, usaha-Pengolahan Agribisnis Belimbing, Bandung:Penerbi CV. Pusaka Grafika Sistim Informasi Manajemen Pembangunan di Perdesaan, BAPPENAS